Ketika Rumah Tahfidz Hadir di Mesir

Ketika Rumah Tahfidz Hadir di Mesir
pppa-daarul-quran
pppa-daarul-quran
pppa-daarul-quran

Gema Rumah Tahfidz di Indonesia telah terasa hingga berbagai penjuru negeri. Ribuan Rumah Tahfidz dengan puluhan ribu santri kini sudah bertebaran tak hanya di wilayah kota, namun juga pedalaman.

Namun siapa sangka gerakan Rumah Tahfidz juga telah sampai ke luar negeri. Palestina dengan Rumah Tahfidz Daarul Qur'an Gaza adalah salah satu yang paling dikenal. Akan tetapi, apakah sudah banyak yang mengenal Rumah Tahfidz di Mesir?

Ya, ternyata di Mesir, tepatnya di Abdou Basha telah berdiri setidaknya empat Rumah Tahfidz. Pendirinya adalah orang Indonesia, mereka merupakan lima sahabat penghafal Al-Qur'an. Terdiri dari Abdul Aziz, Ahmad Faqih, Muhammad Rendi, Ibrahim lubis dan Udin.

Kelimanya adalah mahasiswa Indonesia yang tengah menempa ilmu di negeri seribu menara itu. Sebelum sampai pada tahap ini, mereka adalah santri KH. Yusuf Mansur. 

Kisahnya bermula saat KH. Yusuf Mansur mengajak siswa-siswi MAN 12 Jakarta Barat untuk menghafal Al-Qur'an di 'rumah putih', sebutan untuk kediaman KH. Yusuf Mansur. Mereka belajar dan menghafal Al-Qur'an di rumah KH. Yusuf Mansur selama delapan bulan. Sebelum kemudian berpindah ke Pesantren Wadi Mubarok, Bogor.

Belum genap hafalan AL-Qur'annya, KH. Yusuf Mansur menawarkan mereka untuk menyelesaikan hafalan Al-Qur'an di Mesir. KH. Yusuf Mansur juga mengatakan bahwa mereka dapat memperdalam ilmu agama jika belajar ke Mesir.

Setelah menyetujui tawaran tersebut, mereka akhirnya terbang ke Mesir. Di sana mereka mencari halaqah tahfidz yang berbasis mukim atau menetap untuk memenuhi tugas KH. Yusuf Mansur. Namun, setelah mereka menemukan sebuah halaqah yang sesuai, pendaftaran masuk halaqah tahfidz tersebut telah ditutup. 

Bukan mahasiswa Indonesia namanya, jika kehabisan akal. Mereka pun mendirikan sendiri halaqah tahfidz. Atas bimbingan Ustadz Taslim dan Ustadz Irfan mereka akhirnya resmi mendirikan Rumah Tahfidz.

Meski masih tahap awal, Rumah Tahfidz yang didirikan oleh kelima sahabat tersebut sudah dibanjiri oleh pendaftar. Namun mereka membatasi anggota hanya 20 orang agar kegiatan menghafal Al-Qur'an tetap efektif.

Seiring berjalannya waktu, Rumah Tahfidz tersebut menjadi salah satu tujuan utama mahasiswa Indonesia di Mesir. Sebab banyaknya kegiatan seperti kajian rutin pekanan, dauroh, tasmi’ hafalan dan kegiatan-kegiatan lainnya.

Ikhtiar kelima sahabat itu akhirnya berbuah manis setelah Rumah Tahfidz semakin ramai. Berawal dari kesedihan kelimanya karena tak bisa mendaftar halaqah tahfidz, mereka berinisiatif mendirikan Rumah Tahfidz sendiri. Kini, Rumah Tahfidz itu sudah memiliki empat cabang, masing masing dua putra dan dua putri serta berbasis mukim.