Ujian Memenuhi Kehidupan Dunia

Jika hidup hari ini penuh ujian, mungkin Allah sedang menyiapkan kedewasaan iman yang lebih dalam.

Ujian Memenuhi Kehidupan Dunia

Tidak ada satu pun manusia yang hidup tanpa ujian. Sejak membuka mata di dunia hingga hembusan napas terakhir, hidup selalu dipenuhi oleh persoalan entah itu tentang rezeki, keluarga, kesehatan, kehilangan, atau kegelisahan batin yang tak terlihat. Dalam Hikmah ke-24 Kitab Al-Hikam, Imam Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari mengingatkan satu kebenaran besar: dunia memang diciptakan sebagai tempat ujian.

Maka heranlah, jika seseorang berharap hidup tanpa masalah. Sebab ketenangan sejati bukan dijanjikan di dunia, melainkan di akhirat.

Dunia Bukan Tempat Istirahat, Tapi Tempat Pembuktian

Sering kali manusia kecewa pada hidup karena mengira dunia adalah tempat bahagia sepenuhnya. Ketika ujian datang bertubi-tubi, hati pun bertanya, “Mengapa hidupku selalu sulit?”

Padahal, kesulitan bukan pertanda kebencian Allah, melainkan konsekuensi dari hakikat dunia itu sendiri. Imam Ibnu ‘Athaillah melalui Al-Hikam mengajak manusia untuk memahami bahwa dunia adalah ladang ujian, bukan tujuan akhir.

Jika dunia selalu nyaman, maka:

  • Di mana letak sabar?

  • Untuk apa tawakal?

  • Kapan iman diuji kejujurannya?

Ujian Adalah Bahasa Cinta Allah

Dalam pandangan iman, ujian bukan hukuman, tetapi cara Allah mendidik hamba-Nya. Ujian membuat manusia kembali mengingat Allah, merendahkan hati, dan menyadari keterbatasannya.

Banyak orang baru sungguh-sungguh berdoa ketika diuji. Banyak hati yang lembut justru lahir dari luka. Dan banyak iman yang kuat tumbuh dari kesabaran panjang.

Allah tidak sedang menjauh saat menguji, justru sedang mendekatkan.

Mengapa Ujian Terasa Berat?

Ujian terasa berat bukan karena bebannya terlalu besar, tetapi karena hati terlalu menggantungkan harapan pada dunia. Ketika dunia diharap sempurna, sedikit saja retak sudah cukup membuat kecewa.

Hikmah Al-Hikam mengajarkan agar manusia:

  • Tidak berlebihan mencintai dunia

  • Tidak menjadikan dunia sebagai sumber ketenangan

  • Tidak menggantungkan bahagia pada keadaan

Sebab dunia yang fana tidak pernah ditugaskan untuk memuaskan hati manusia.

Ujian Mengajarkan Kejujuran Iman

Saat hidup lapang, semua orang bisa bersyukur. Namun saat hidup sempit, hanya orang beriman yang tetap bertahan dalam ketaatan.

Ujian memisahkan:

  • Iman yang di lisan

  • Dari iman yang benar-benar di hati

Dalam ujian, seseorang belajar:

  • Bersabar tanpa pamer

  • Bertawakal tanpa mengeluh

  • Ridha tanpa syarat

Dan di situlah derajat iman dinaikkan.

Jika Dunia Penuh Ujian, Lalu Di Mana Ketenangan?

Ketenangan tidak terletak pada hilangnya masalah, tetapi pada hadirnya Allah di dalam hati. Orang yang mengenal Allah akan tetap tenang meski diuji, karena ia yakin:

  • Semua sudah diatur

  • Semua ada hikmahnya

  • Semua tidak pernah sia-sia

Hati yang mengenal Allah tidak meminta dunia sempurna, cukup Allah yang membersamai.

Hikmah ke-24 Kitab Al-Hikam mengajak kita berdamai dengan kenyataan hidup. Bahwa dunia memang tempat ujian, dan ujian adalah bagian dari rahmat Allah untuk membersihkan hati dan meninggikan derajat.

Jika hidup hari ini penuh ujian, mungkin Allah sedang menyiapkan kedewasaan iman yang lebih dalam.

Karena sejatinya, orang beriman tidak menuntut dunia bebas masalah, tetapi berharap akhir hidup penuh keselamatan.