Perjuangan Dai Kampung Qur’an: Menjaga Al-Qur’an di Lereng Bromo

 Perjuangan Dai Kampung Qur’an: Menjaga Al-Qur’an di Lereng Bromo
 Perjuangan Dai Kampung Qur’an: Menjaga Al-Qur’an di Lereng Bromo

Kabut pagi di kawasan Bromo belum sepenuhnya terangkat ketika Ustaz Muhibbin mulai menyiapkan perjalanan. Tas sederhana berisi mushaf Al-Qur’an dan buku-buku belajar sudah menjadi teman setia setiap pekan. Perjalanan yang ditempuh bukanlah perjalanan biasa hingga ia harus naik turun lereng pegunungan, melintasi jalur berliku, untuk satu tujuan: memastikan lantunan ayat suci tetap terdengar di kampung-kampung Muslim Tengger.

Di tengah bentang alam pegunungan yang indah sekaligus menantang, umat Islam di beberapa dusun sekitar kawasan Bromo hidup sebagai minoritas. Akses pendidikan keislaman terbatas, jarak antardusun berjauhan, dan kondisi geografis membuat pembinaan agama tak selalu mudah dijalankan. Namun bagi Ustaz Muhibbin, medan sulit bukan alasan untuk berhenti melangkah.

Sebagai dai Kampung Qur’an binaan PPPA Daarul Qur’an Jawa Timur, ia rutin mendatangi beberapa dusun untuk mengajar anak-anak dan para orang tua membaca Al-Qur’an. Perjalanan yang ditempuh sering kali memakan waktu berjam-jam, melewati jalanan menanjak dan cuaca pegunungan yang tak menentu. Tetapi setiap langkah terasa ringan ketika melihat anak-anak mulai lancar membaca huruf hijaiyah atau para lansia tetap bersemangat belajar meski usia tak lagi muda.

“Kadang jumlah santri naik turun dan jika sudah mau SMP sudah jarang  ingin ngaji, tapi semangat mereka tetap ada,” ujarnya sederhana, menggambarkan dinamika dakwah di wilayah minoritas Muslim tersebut.

Musholla Kampung Qur’an di Desa Sangkapura menjadi salah satu titik utama kegiatan. Di tempat sederhana inilah anak-anak dua dusun berkumpul untuk belajar mengaji, sementara para ibu lansia datang dengan semangat yang tak kalah besar. Meski jumlah santri sempat menurun akibat keterbatasan pendampingan, cahaya belajar Al-Qur’an belum pernah benar-benar padam.

Di balik perjuangan Ustaz Muhibbin, PPPA Daarul Qur’an Jawa Timur terus berikhtiar menjaga keberlangsungan dakwah di wilayah Muslim Tengger. Assessment yang dilakukan pada akhir Januari 2026 menjadi bagian dari upaya memastikan kegiatan pembinaan dapat kembali berjalan lebih intensif dan berkelanjutan.

Bagi warga, kehadiran seorang guru mengaji bukan sekadar pengajar, tetapi juga sahabat, motivator, sekaligus penguat identitas keislaman mereka di tengah lingkungan yang berbeda keyakinan. Setiap kunjungan Ustaz Muhibbin menjadi penanda bahwa mereka tidak sendiri.

Di lereng Bromo, dakwah mungkin berjalan perlahan. Jumlah santri bisa berubah, fasilitas sederhana, dan perjalanan dakwah penuh tantangan. Namun selama masih ada langkah-langkah yang mendaki dan suara ayat suci yang terus dilantunkan, harapan itu tetap hidup.

Dan di setiap perjalanan naik turun gunung, Ustaz Muhibbin terus membawa satu keyakinan sederhana: selama Al-Qur’an masih diajarkan, cahaya iman di kampung-kampung kecil itu akan tetap menyala.

Diah Fitriatus Sholihah- PPPA Daarul Qur’an Jawa Timur