Ikhitiar Tetap Menyalakan Harapan di Bumi NTT
Malam di pelosok Elar, Manggarai Timur, NTT merambat dingin nan pekat, menyisakan reruntuhan yang sunyi dan tatapan-tatapan yang masih diselimuti trauma mendalam. Ketika bumi NTT berguncang hebat hingga menyisakan lebih dari 5.300 kali lindu susulan, seketika denyut keseharian ratusan ribu jiwa terhenti. Rumah-rumah yang dulu menjadi ruang hangat penuh tawa kini luruh menjadi puing, memaksa lebih dari 150 ribu saudara kita berteman langit terbuka, beralaskan terpal tipis dan tanah berdebu, menatap masa depan dengan seribu tanya yang tak terjawab.
Di tengah pekatnya duka dan kepiluan yang merayap, langkah-langkah tegap relawan Santri Siaga Bencana (SIGAB) LAZNA PPPA Daarul Qur’an hadir memecah keputusasaan. Dipimpin langsung oleh sang koordinator lapangan, Sunaryo, tim relawan bergerak cepat menembus medan-medan sulit. Sunaryo menegaskan komitmen timnya bahwa kehadiran mereka bukan sekadar urusan kalkulasi logistik dan catatan angka di atas kertas asesmen. “Kehadiran tim Siaga Bencana PPPA Daarul Qur’an adlaah wujud cinta dan pelukan persaudaraan yang tak boleh membiarkan satu pun warga NTT merasa ditinggalkan sendirian,” ucap Sunaryo yang kurang lebih sepekan bersama warga penyintas gempa NTT.
Titik-titik harapan itu mulai dinyalakan secara nyata dari pos-pos kemanusiaan yang tersebar dari pesisir Kelurahan Kota Raja di Ende Utara, hangatnya Desa Golo Sepang di Manggarai Barat, hingga dinginnya bukit Desa Compang Teo di Manggarai Timur. Di bawah koordinasi taktis dan penuh empati yang digerakkan Sunaryo bersama tim lokal dan pusat, tenda-tenda darurat beratap terpal biru dan bilik bambu sederhana disulap menjadi pos pemulihan, tempat harapan yang sempat padam dirajut kembali perlahan-lahan.
Dapur umum pun terus mengepulkan asap kehidupan sejak dini hari. Di balik denting wajan dan gemercik air bersih, senyum para relawan menyatu dengan ketulusan warga penyintas saat menyiapkan ratusan paket makanan hangat bernutrisi untuk sarapan, makan siang, dan makan malam. Bagi seorang anak yang seharian menahan cemas dan lapar, sepiring nasi hangat jadi tanda tentang kepedulian itu nyata dan pertolongan selalu ada.
Namun, kepedihan akibat gempa bumi tak hanya meremukkan dinding-dinding rumah, getarannya sering kali meretakkan ketenteraman jiwa, terutama anak-anak kecil yang kehilangan rasa aman. Menjawab luka yang tak kasat mata itu, relawan SIGAB bersama guru Al-Qur’an menghadirkan ruang pendampingan psikososial di tenda-tenda darurat. Lingkaran motivasi dan mengaji Al-Qur’an menjelma menjadi ruang ceria, tempat puluhan anak kembali menemukan tawa yang sempat terkubur melalui cerita, dongeng penuh hikmah, dan permainan bersama.
Di sudut tenda lainnya, mushaf-mushaf Al-Qur'an baru dibagikan ke tangan-tangan mungil yang mendekapnya dengan penuh takzim. Lantunan ayat suci pun mulai terbaca pelan dari balik tenda pengungsian, melantun lembut menyusup ke sela-sela reruntuhan dan menenangkan dada yang gundah. Di sanalah mukjizat Al-Qur'an muncul untuk menghidupkan kembali ketabahan, meneguhkan keyakinan bahwa di balik setiap ujian berat, janji pertolongan Allah SWT. selalu menyertai hamba-Nya yang bersabar.
Semangat bangkit itu kian membuncah ketika Merah Putih dikibarkan tegak di bawah birunya langit Flores ketika Hari Kemerdekaan. Di tengah tenda-tenda darurat, anak-anak dan warga berdiri berjajar tegap, melayangkan hormat dengan dada membusung bangga. Di bawah kibaran bendera di atas pohonan, ada tekad kuat yang terpancar bahwa bencana boleh saja meruntuhkan atap rumah dan dinding madrasah mereka, namun jiwa, cinta tanah air, dan martabat pantang untuk menyerah.
Kerja-kerja kemanusiaan SIGAB PPPA Daarul Qur’an terus bergulir tanpa jeda menanggapi kebutuhan dasar di lapangan. Dari pemenuhan paket kebersihan (hygiene kit), pasokan air bersih yang krusial bagi balita dan lansia, hingga persiapan layanan pemeriksaan kesehatan (medical check up), semuanya dirancang sistematis. Gerak cepat ini bahkan terus meluas menembus wilayah Kab. Ngada guna memastikan rantai bantuan tak pernah putus di setiap jengkal tanah yang terdampak.
Ribuan penerima manfaat yang telah terlayani adalah saksi bisu dari amanah hati para dermawan yang terhimpun. Setiap butir beras yang tertelan, setiap teguk air bersih yang mengalir di kerongkongan warga, dan setiap senyuman tulus yang terbit dari bibir anak-anak penyintas merupakan buah manis dari ketulusan tangan-tangan baik di luar sana yang memilih untuk tidak berpangku tangan.
Luka Nusa Tenggara Timur adalah luka kita bersama, dan perjalanan pemulihan ini masih membentang panjang di hadapan kita. Jangan biarkan lilin kepedulian yang telah dinyalakan para relawan di tanah Flores ini meredup kembali. Mari satukan langkah, genggam erat tangan saudara kita di NTT, dan salurkan kepedulian terbaik melalui PPPA Daarul Qur’an, karena di setiap rupiah kebaikan dan doa yang kita kirimkan, ada asa baru yang kita bangun untuk para warga Flores untuk tegak berdiri kembali. (ARA)
Salam Siaga Bencana.
Maulana Kurnia Putra, S.Sos., M.A.
Manajer Program Laznas PPPA Daarul Qur'an
Elar, Manggarai Timur, NTT
22 Agustus 2026


