Menjaga dan Menghangatkan Dinginnya Malam di Flores
Di balik pekatnya malam di Manggarai Timur, NTT, keheningan tidak berarti kenyamanan. Setiap detak jantung serasa pacu dengan getaran bumi yang tak kunjung henti, ribuan kali gempa susulan menderu seperti mengingatkan betapa rapuhnya tanah yang kami pijak. Empat belas hari berlalu sejak gempa utama mengguncang, namun ketakutan itu masih kental, menyelinap di antara celah-celah tenda darurat dan di bawah selimut tipis.
Hawa dingin menyergap, menembus tulang, namun di Pos Siaga Bencana (SIGAB) PPPA Daarul Qur'an, api kemanusiaan terus menyala. Di sinilah, ribuan warga yang rumahnya tak lagi aman mencari perlindungan. Dalam gelapnya malam, lampu-lampu di Pos SIGAB adalah oase bagi jiwa-jiwa yang letih, tempat di mana rasa takut sedikit memudar oleh kehangatan hati sesama manusia.
Kami, relawan Siaga Bencana (SIGAB) sadar betul untuk benar-benar tetap hadir. Meski tangan-tangan yang mulai lelah ini harus terus sigap menyiapkan makanan hangat di dapur umum ini semoga tetap memberikan kenyamanan di tengah penderitaan. Pos hangat pun menjadi tempat berbagi cerita, menyatukan rasa, dan saling menguatkan dalam menghadapi cobaan yang tak terduga.
Tim medis pun siaga di garda terdepan, merawat luka, mengobati sakit, dan memberikan pendampingan psikososial bagi anak-anak yang mungkin sekali trauma. Air bersih disalurkan, menjadi sumber kehidupan di tengah keterbatasan.
Sudah 2.840 penerima manfaat yang telah dibantu, setiap wajah adalah cerminan dari semangat ketahanan yang tak tergoyahkan. Setiap kali gempa susulan mengguncang, rasa takut itu kembali merayap, namun keberadaan para relawan SIGAB menjadi pengingat bahwa para warga Manggarai Timur tak sendiri. Kehadiran kami harus memberikan kekuatan untuk terus melangkah, meskipun rintangan di depan terasa berat.
Pos SIGAB adalah simbol harapan, sebuah cahaya terang di tengah kegelapan yang menyelimuti.
Di bawah tenda-tenda darurat, anak-anak masih bisa tertawa, bermain, dan bermimpi. Kehadiran kami semoga memberikan anak-anak Flores ruang untuk sedikit melupakan rasa takut, dan kembali merasakan keceriaan masa kecil. Pos SIGAB adalah tempat di mana harapan itu dirawat, tempat di mana mimpi-mimpi anak-anak itu dijaga.
Di tengah gempa dan ketidakpastian ini, kehangatan ternyata kami pahami tidak hadir hanya dari api dapur umum, atau selimut tipis yang mereka kenakan. Kehangatan ternyata juga hadir dari relawan SIGAB yang tulus, doa dan dukungan donatur, juga dari kepedulian sesama manusia yang saling menguatkan. Pos SIGAB akhirnya menjadi tempat di mana keajaiban kemanusiaan itu terjadi, tempat di mana harapan itu kembali tumbuh.
Di tengah ribuan gempa susulan yang terus menderu, Pos SIGAB PPPA Daarul Qur'an semoga menjadi kekuatan juga menjadi perlindungan bagi jiwa-jiwa yang letih tapi tidak putus asa. Pada akhirnya, selama dua pekan kami disini, kami mulai memaknai bahwa Pos SIGAB adalah tempat di mana harapan itu dirawat, tempat di mana kehangatan itu dijaga. Di tengah gelapnya malam di Manggarai Timur, ikhtiar kami selalu berharap tentang keajaiban kemanusiaan itu akan selalu ada, menjaga dan menghangatkan kita semua. (ARA)
Salam Siaga Bencana.
Maulana Kurnia Putra, S.Sos., M.A.
Manajer Program
Elar, Manggarai Timur, NTT
28 Agustus 2026


