Ketika Membaca Al-Qur’an Terasa Sulit, Mereka Tetap Memilih Mendekat kepada-Nya

Ketika Membaca Al-Qur’an Terasa Sulit, Mereka Tetap Memilih Mendekat kepada-Nya
vickypedulidisabilitas
vickypedulidisabilitas
vickypedulidisabilitas

Bagaimana jika membaca Al-Qur’an saja terasa begitu sulit? Pertanyaan itu mungkin sederhana bagi sebagian orang, tetapi bagi sahabat tuli, ia menyimpan perjuangan yang panjang. Ada keterbatasan dalam mendengar, akses pembelajaran yang belum selalu tersedia, hingga kebutuhan akan metode belajar yang benar-benar dapat mereka pahami.

Namun, keterbatasan pendengaran tidak pernah berarti keterbatasan hati untuk mencintai Al-Qur’an. Mereka mungkin tidak mendengar lantunan ayat-Nya sebagaimana kebanyakan orang, tetapi hati mereka tetap ingin mengenal, memahami, dan menghidupkan Kalamullah dalam kehidupan.

Karena itu, kemerdekaan seharusnya tidak berhenti pada kebebasan dari keterbatasan. Merdeka berarti setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan bertumbuh, termasuk dalam mengenal Al-Qur’an. Tidak boleh ada sahabat disabilitas yang merasa tertinggal hanya karena cara mereka belajar berbeda.

Semangat itulah yang dihadirkan melalui Program Tuli Mengaji, bagian dari ikhtiar Program Disabilitas Mengaji Laznas PPPA Daarul Qur’an. Program ini menghadirkan ruang belajar Al-Qur’an yang lebih inklusif, dengan pendekatan bahasa isyarat agar sahabat tuli dapat belajar dengan cara yang dekat dengan dunia mereka.

Bagi Laznas PPPA Daarul Qur’an, pendidikan Al-Qur’an bukan milik mereka yang memiliki akses sempurna. Al-Qur’an adalah cahaya untuk semua. “Bagi kami, tidak boleh ada satu pun sahabat disabilitas yang merasa jauh dari Al-Qur’an hanya karena keterbatasan akses. Tugas kita adalah membuka jalan, menghadirkan ruang belajar yang sesuai, dan memastikan mereka memiliki kesempatan yang sama untuk mengenal, mencintai, dan mengamalkan Al-Qur’an,” ujar Zainal Umuri, Direktur Program Laznas PPPA Daarul Qur’an.

Di balik program tersebut, terdapat ribuan perjuangan dan harapan. Sebanyak 4.462 sahabat tuli telah mendapatkan kesempatan untuk belajar Al-Qur’an, sementara 509 pengajar bahasa isyarat dibina agar semakin banyak pembelajaran Qur’an dapat berlangsung secara inklusif. Sebanyak 2.152 penerima manfaat juga mendapat bantuan untuk mendukung keberlangsungan perjuangan mereka.

Angka-angka itu mungkin terlihat seperti statistik. Namun, di balik setiap angka ada manusia yang sedang berjuang. Ada tangan yang belajar mengeja ayat dengan bahasa isyarat, ada pengajar yang sabar mendampingi, ada keluarga yang berharap anaknya semakin dekat dengan Al-Qur’an, dan ada hati yang akhirnya menemukan bahwa dirinya juga memiliki ruang di rumah besar bernama Al-Qur’an.

Semua ikhtiar itu tentu tidak berjalan sendiri. Ada kebaikan para donatur yang menjadi bagian penting dalam membuka pintu-pintu kesempatan tersebut. Bagi kita, mungkin sebuah donasi. Namun bagi mereka, bisa jadi itulah pintu yang mempertemukan mereka dengan cahaya Al-Qur’an.

Kisah sahabat tuli mengajarkan bahwa terkadang yang mereka butuhkan bukan rasa kasihan, melainkan kesempatan. Bukan sekadar bantuan, melainkan akses untuk belajar, ruang untuk bertumbuh, dan kepercayaan bahwa mereka mampu menjadi bagian dari generasi yang dekat dengan Al-Qur’an.

Sebab, merdeka bukan hanya tentang bebas. Merdeka adalah ketika setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, mencintai, dan mendekat kepada Tuhannya. Mari bersama Laznas PPPA Daarul Qur’an terus membuka jalan melalui Program Disabilitas Mengaji, agar semakin banyak sahabat tuli dan sahabat disabilitas lainnya dapat menemukan cahaya Al-Qur’an. Sebab kebaikan yang kita titipkan hari ini, bisa menjadi cahaya yang menerangi perjalanan mereka menuju-Nya. (ARA)

Dukung Program Tuli Mengaji