Mahasiswa UIN SALATIGA KKL 2026 Teguhkan Kerukunan di Kampung Qur’an Bromo

Mahasiswa UIN SALATIGA  KKL 2026 Teguhkan Kerukunan di Kampung Qur’an Bromo
Mahasiswa UIN SALATIGA  KKL 2026 Teguhkan Kerukunan di Kampung Qur’an Bromo
qurban
qurban
qurban

Mahasiswa UIN SALATIGA  KKL 2026 Teguhkan Kerukunan di Kampung Qur’an Bromo, Probolinggo. Sebanyak 230 mahasiswa mengikuti Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Riset Interdisipliner 2026 di Kampung Qur’an Bromo, Dusun Krajan, Desa Wonokerto, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, dalam sebuah agenda akademik besar bertema:


Menguatkan Kajian Ushuluddin, Adab dan Humaniora sebagai Upaya Meneguhkan Kerukunan Umat Beragama.


Kegiatan ini menjadi salah satu model pembelajaran lapangan strategis yang tidak sekadar menghadirkan wisata akademik, melainkan mempertemukan mahasiswa dengan realitas sosial-keagamaan masyarakat adat Tengger yang plural, harmonis, dan kaya nilai peradaban. Berlangsung di kawasan lereng Gunung Bromo yang selama ini dikenal sebagai ruang budaya Hindu Tengger, kunjungan tersebut membuka perspektif baru bahwa di tengah lanskap adat yang kuat, tumbuh sebuah komunitas Muslim berbasis pendidikan Al-Qur’an yang hadir melalui pendekatan damai, filantropi, dan penghormatan budaya lokal.


Materi utama disampaikan oleh Diah Fitriatus Sholihah, S.Sos., M.Ikom, selaku Perwakilan PPPA Daarul Qur’an Jawa Timur, melalui presentasi bertajuk “Hijau Abstrak Alami” yang mengupas secara komprehensif sejarah, transformasi sosial, hingga strategi dakwah kultural Kampung Qur’an Bromo. Paparan tersebut menegaskan bahwa Islam di kawasan Tengger berkembang bukan melalui dominasi, tetapi melalui pendidikan, relasi sosial, dan harmoni kemanusiaan. Menyibak Sejarah: Dari Kawasan Hindu Tengger ke Simpul Harmoni Islam Dalam paparannya, Diah menjelaskan bahwa masyarakat Tengger merupakan pewaris tradisi Hindu-Buddha Majapahit yang bertahan pasca-runtuhnya Majapahit akibat kondisi geografis pegunungan yang relatif terisolasi. Karena itu, proses Islamisasi berlangsung lambat dan bertahap melalui perdagangan, perkawinan, dakwah kultural, serta penyuluh agama lokal. Ia menyoroti lahirnya komunitas Muslim Tengger terorganisir sekitar dua dekade terakhir, terutama melalui figur Sumarjono atau Haji Jono, tokoh mualaf Tengger yang mewakafkan tanah dan mendirikan Musala Al-Ikhlas Wal Barokah pada 2011 sebagai fondasi spiritual awal Kampung Qur’an Bromo.


Menurut Diah, Kampung Qur’an bukan simbol ekspansi agama, melainkan laboratorium sosial tentang bagaimana pendidikan Qur’ani dapat berjalan berdampingan dengan budaya adat. “Islam hadir di Kampung Qur’an Bromo bukan sebagai penakluk budaya, tetapi sebagai jalan pendidikan, pembinaan, dan harmoni,” demikian substansi utama pemaparannya. Peran Strategis PPPA Daarul Qur’an Jawa Timur Melalui program Rumah Tahfidz, pembinaan santri, distribusi qurban, layanan sosial, dan pendampingan dakwah, PPPA Daarul Qur’an Jawa Timur menjadi salah satu aktor penting dalam penguatan ekosistem pendidikan keagamaan di wilayah minoritas Muslim Tengger.


Kehadiran lembaga ini tidak menghapus identitas lokal masyarakat Tengger, melainkan mengintegrasikan nilai Qur’ani dengan prinsip adab sosial dan humaniora. Inilah yang menjadikan Kampung Qur’an Bromo relevan sebagai objek kajian ushuluddin modern: agama dipahami bukan hanya sebagai doktrin, tetapi juga sebagai praksis sosial yang menjaga kohesi masyarakat lintas iman. Ustadz Muhibbin: Menjaga Al-Qur’an, Merawat Perdamaian Sesi kedua diisi oleh Ustadz Muhibbin, penggerak harian Kampung Qur’an, yang memaparkan aktivitas keseharian santri dan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa ritme kehidupan Kampung Qur’an dibangun melalui pendidikan tahfidz, pembiasaan akhlak, pembelajaran agama, dan relasi sosial damai dengan komunitas Hindu maupun Kristen sekitar. Muhibbin menegaskan bahwa menjaga kerukunan bukan sekadar slogan, tetapi praktik hidup sehari-hari: buka puasa bersama lintas agama, saling kunjung saat hari raya, serta menjaga adat Tengger sebagai identitas kolektif.

Kajian Ushuluddin, Adab, Humaniora: Dari Teori ke Realitas Bagi para mahasiswa, kunjungan ini menjadi ruang observasi langsung bahwa: Ushuluddin Menguji bagaimana nilai tauhid berinteraksi dengan masyarakat adat tanpa konflik identitas. Adab Membuktikan bahwa dakwah paling efektif lahir dari akhlak, penghormatan budaya, dan etika sosial. Humaniora Menunjukkan bahwa pluralitas dapat menjadi sumber penguat peradaban, bukan ancaman. Kampung Qur’an Bromo tampil sebagai miniatur Indonesia: perjumpaan antara agama, budaya, minoritas, pendidikan, dan toleransi. Meneguhkan Masa Depan Kerukunan.

KKL Riset Interdisipliner 2026 ini bukan sekadar kunjungan akademik, melainkan investasi intelektual untuk melahirkan generasi sarjana yang memahami bahwa kerukunan umat beragama harus dibangun melalui riset, dialog, dan keterlibatan nyata. Di lereng Bromo, para mahasiswa menyaksikan bahwa harmoni tidak lahir dari penghapusan perbedaan, tetapi dari kemampuan menjadikan perbedaan sebagai ruang saling menguatkan. Kampung Qur’an Bromo hari ini bukan hanya destinasi dakwah sosial, tetapi telah menjelma sebagai episentrum pembelajaran nasional tentang Islam rahmatan lil ‘alamin dalam konteks masyarakat adat. Dari Bromo, 230 mahasiswa pulang bukan hanya membawa catatan riset tetapi juga pelajaran peradaban: bahwa agama, ketika bertemu adab dan humaniora, mampu menjadi jembatan perdamaian.

Diah Fitriatus Sholihah- Kepala Perwakilan PPPA Daarul Qur’an Jawa Timur