Ia Mengantar Penumpang, Lalu Mengantar Hati Sahabat Tuli kepada Al-Qur’an
Bagi sebagian orang, keterbatasan mungkin menjadi alasan untuk berhenti. Namun bagi Bu Ai Saripah, 50 tahun, menjadi sahabat Tuli justru mengajarkannya untuk terus melangkah. Setiap hari ia berusaha mandiri, bekerja, sekaligus mencari cara agar kehadirannya juga bisa bermanfaat bagi orang lain.
Sehari-hari, Bu Ai bekerja sebagai driver ojek online. Ia menyusuri jalan, menerima order, dan mengantar penumpang dari satu tempat ke tempat lain. Dari pekerjaan tersebut, ia berikhtiar memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan bukan berarti tidak bisa berkarya.
Namun, ada perjalanan lain yang dijalani Bu Ai setelah menuntaskan pekerjaannya. Ia menjadi pengajar Al-Qur’an isyarat bagi teman-teman Tuli. Di hadapan mereka, tangannya bergerak menyampaikan ayat demi ayat, menghadirkan ruang belajar yang mungkin selama ini tidak mudah mereka temukan.
“Saya ingin teman-teman Tuli juga bisa belajar Al-Qur’an. Saya merasakan sendiri bagaimana bahagianya ketika bisa belajar. Karena itu, kalau saya punya ilmu, saya ingin membagikannya kepada teman-teman yang lain.” ujar Bu Ai.
Bu Ai sendiri lebih dulu belajar untuk dirinya. Dari proses itu, tumbuh keyakinan bahwa Al-Qur’an harus bisa didekatkan kepada siapa pun, termasuk mereka yang berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Baginya, mengajar bukan tentang seberapa banyak ilmu yang dimiliki, tetapi tentang seberapa banyak ilmu itu bisa menjadi jalan kebaikan bagi sesama.
Semangat inilah yang kemudian menjadi bagian dari ikhtiar Laznas PPPA Daarul Qur’an melalui program Tuli Mengaji. Program ini hadir untuk membuka akses belajar Al-Qur’an yang inklusif bagi sahabat Tuli, melalui pembelajaran Al-Qur’an dengan pendekatan bahasa isyarat dan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Direktur Program Laznas PPPA Daarul Qur’an, Zainal Umuri, mengatakan bahwa kesempatan untuk belajar Al-Qur’an adalah hak setiap muslim. Karena itu, kondisi disabilitas tidak boleh menjadi penghalang seseorang untuk mengenal dan mencintai Al-Qur’an.
“Melalui Tuli Mengaji, kami ingin memastikan bahwa tidak ada sahabat Tuli yang merasa jauh dari Al-Qur’an hanya karena memiliki cara komunikasi yang berbeda. Mereka memiliki hak yang sama untuk belajar, memahami, dan mencintai Al-Qur’an.” ungkap Zainal.
Bagi Bu Ai, keberadaan ruang belajar seperti ini bukan sekadar menghadirkan tempat untuk mengaji. Lebih dari itu, ia menghadirkan rasa bahwa sahabat Tuli juga dilihat, didengar, dan diberi kesempatan yang sama untuk tumbuh bersama Al-Qur’an.
Hari ini, Bu Ai mungkin dikenal sebagai seorang driver ojol. Tetapi di balik kemudi yang setiap hari ia genggam, ada perjalanan lain yang jauh lebih dalam: ia sedang menjadi jalan bagi sahabat-sahabat Tuli untuk menemukan cahaya Al-Qur’an.
Sebab pada akhirnya, kebermanfaatan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang ia tumbuh dari seseorang yang mau belajar, kemudian memilih berbagi. Dari Bu Ai, kita belajar bahwa ketika satu orang diberi kesempatan untuk mengenal Al-Qur’an, ia bisa menjadi alasan bagi banyak orang lain untuk ikut mendekat kepada-Nya. (ARA)
Mari bersama hadirkan kesempatan belajar Al-Qur’an yang setara bagi sahabat disabilitas dengan mendukung program Tuli Mengaji.


