Antara Sakit dan Jalan Langit
Rabu, 22 April 2026. Saya, Anwar Sani, bersama tim Laznas PPPA Daarul Qur'an berkunjung ke rumah Bunda Maulina di daerah Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Hari ini agenda penandatanganan wakaf tanah milik beliau untuk kemaslahatan umat
Dalam obrolan hangat itu, beliau yang ditemani putrinya Mbak Aghnia bercerita bahwa beberapa bulan yang lalu dokter telah memvonis tulang pinggul sebelah kanan beliau sudah kronis dan harus segera dioperasi sebelum kondisinya semakin fatal. Hasil rontgen tidak menyisakan banyak pilihan—operasi adalah satu-satunya jalan.
Namun di balik itu, ada kenyataan yang membuat hati semakin sempit yaitu biaya operasi yang mencapai ratusan juta rupiah. Pilihan lain memang ada melalui BPJS, tetapi harus menunggu hingga enam bulan ke depan. Enam bulan dalam kondisi sakit, dalam ketidakpastian, dalam kecemasan yang terus menggerogoti.
Dalam suasana takut, panik, dan sedih, beliau tidak memilih mengeluh panjang. Dengan tubuh yang lemah dan hati yang penuh kegelisahan, Bunda Maulina justru kembali kepada Allah. Lirih, namun terus diulang, beliau membaca: “Laa ilaaha illa anta, subhanaka inni kuntu minadzolimin…” Dzikir Nabi Yunus yang terucap di tengah kegelapan. Kalimat itu menjadi pegangan, menjadi harapan, menjadi jalan yang beliau pilih jalur langit.
Hingga ketika hendak pulang dari rumah sakit dengan langkah yang harus dibantu tongkat, dokter memanggilnya kembali. “Ibu punya BPJS?” tanya dokter. “Ada,” jawab beliau pelan. Lalu pertanyaan berikutnya datang, yang mengubah segalanya, “Ibu mau operasi dua minggu lagi?” Tanpa berpikir panjang, beliau menjawab, “Mau.” Yang sebelumnya harus menunggu enam bulan, tiba-tiba dipercepat menjadi dua minggu. Seolah Allah sedang membuka satu pintu kemudahan di tengah kebuntuan.
Ternyata, pertolongan itu belum berhenti. Saat waktu operasi semakin dekat, tiba-tiba ada pasien yang batal menjalani operasi. Jadwal yang sudah ditetapkan kembali berubah. Yang semula dijadwalkan hari Sabtu, dimajukan menjadi hari Rabu. Lebih cepat dari yang dibayangkan. Lebih dekat dari yang diharapkan. Allahu Akbar… pertolongan Allah begitu nyata, begitu terasa, begitu luar biasa.
Akhirnya hari itu tiba. Bunda Maulina sudah berada di ruang operasi. Di tempat di mana manusia tidak lagi bisa mengandalkan apa-apa selain Allah. Tidak ada harta, tidak ada kekuatan, tidak ada kepastian. Hanya ada doa. Di saat itulah beliau memohon dengan sangat dalam, “Ya Allah, panjangkan umur saya…” Bukan untuk dunia, bukan untuk mengejar sesuatu yang fana, tetapi karena satu hal yang membuat hati ini terdiam, “ …karena saya masih teringat dosa-dosa yang belum sempat saya mintai ampun.”
Di titik itu, kita belajar bahwa dalam kondisi paling genting sekalipun, seorang hamba yang beriman justru mengingat dosanya, mengingat akhiratnya, mengingat perjumpaannya dengan Allah. Dan mungkin di situlah letak rahasia pertolongan itu. Bahwa ketika seorang hamba benar-benar berserah, benar-benar kembali, benar-benar menguatkan hubungan dengan langit, Allah bukan hanya menolong, tapi mempermudah, mempercepat, bahkan menghadirkan jalan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Hari itu, saya tidak hanya menandatangani wakaf. Saya menyaksikan bagaimana sakit tidak menghentikan seseorang untuk berbuat baik. Bagaimana zikir menguatkan hati yang rapuh. Bagaimana wakaf membuka pintu keberkahan. Dan bagaimana pertolongan Allah datang, bukan dengan cara yang biasa, tetapi dengan cara yang membuat kita semakin yakin—bahwa jalan langit itu benar-benar ada.
Apa yang dilepas di bumi, tidak pernah hilang. Ia hanya berpindah… menjadi jalan menuju pertolongan Allah. Buka Pintu Keberkahan dengan Wakaf klik pppa.id/wakaf
Dr. Muhammad Anwar Sani, S. Sos.I., M.E.
Ketua Yayasan Daarul Qur’an Nusantara
Rektor Institut Daarul Qur’an



