Dari Sulit Belajar Al-Qur’an, Nur Indah Kini Membuka Jalan bagi Teman Tuli

Dari Sulit Belajar Al-Qur’an, Nur Indah Kini Membuka Jalan bagi Teman Tuli
vickypedulidisabilitas
vickypedulidisabilitas
vickypedulidisabilitas

Bagi Nur Indah, mengenal Al-Qur’an bukanlah perjalanan yang mudah. Terlahir sebagai seorang tuli membuat akses untuk belajar Kalamullah terasa terbatas. Namun, keterbatasan itu tidak membuatnya berhenti. Ia terus mencari jalan agar dapat belajar, memahami, dan semakin dekat dengan Al-Qur’an.

Sebagai seorang single parent sekaligus pembelajar Al-Qur’an, Nur Indah menjalani proses yang tidak sederhana. Ia menghadapi keterbatasan akses, tantangan komunikasi, dan berbagai hal yang harus ia perjuangkan sendiri. Namun, ia percaya bahwa menjadi tuli bukan berarti kehilangan kesempatan untuk mengenal Kalamullah.

Bagi Nur Indah, belajar Al-Qur’an bukan hanya tentang mampu membaca atau menghafal ayat. Ia ingin menemukan ruang di mana dirinya diterima sebagai pembelajar, memiliki kesempatan yang sama, dan dapat bertumbuh bersama orang-orang yang memiliki semangat mencintai Al-Qur’an.

Perjalanan panjang itu mengubah cara pandangnya. Kesulitan yang ia alami justru menumbuhkan keinginan untuk membuka jalan bagi orang lain. Ia tidak ingin teman-teman tuli lainnya mengalami keterbatasan akses yang sama dalam belajar Al-Qur’an.

> **“Dulu saya belajar karena ingin bisa mengenal Al-Qur’an. Sekarang saya mengajar karena ingin teman-teman tuli juga punya kesempatan yang sama untuk dekat dengan Al-Qur’an.”**

Kini, Nur Indah menjadi pengajar Al-Qur’an Isyarat bagi komunitas tuli di Surabaya. Ilmu yang dahulu ia perjuangkan, kini ia bagikan kepada sesama. Tangannya menjadi jembatan agar pesan-pesan Al-Qur’an dapat dipahami oleh mereka yang selama ini merasa jauh karena keterbatasan akses.

Kisah Nur Indah menjadi bagian dari ikhtiar Program Disabilitas Mengaji Laznas PPPA Daarul Qur’an, sebuah upaya untuk memastikan sahabat disabilitas tidak tertinggal dalam mendapatkan pendidikan Al-Qur’an. Bagi Laznas PPPA Daarul Qur’an, Al-Qur’an adalah hak setiap insan untuk dipelajari dan dicintai, tanpa terkecuali.

Melalui Program Disabilitas Mengaji, Laznas PPPA Daarul Qur’an berkomitmen menghadirkan ruang belajar yang lebih inklusif bagi sahabat disabilitas, termasuk teman-teman tuli dan tunanetra. Tidak hanya memberikan akses, tetapi juga menghadirkan pendampingan dan sarana belajar yang sesuai kebutuhan mereka, agar keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang untuk mendekat kepada Kalamullah.

Yang diperjuangkan bukan hanya kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga mengembalikan rasa percaya diri, menghadirkan kesempatan, dan meyakinkan setiap sahabat disabilitas bahwa mereka memiliki tempat dalam perjalanan menjadi generasi yang dekat dengan Al-Qur’an.

Dari sinilah kisah Nur Indah menjadi begitu berarti. Ia datang sebagai pembelajar, lalu tumbuh menjadi pengajar. Kesulitan yang pernah ia alami kini berubah menjadi jalan untuk memberi manfaat bagi sesama. Perjalanannya membuktikan bahwa ketika kesempatan diberikan, seorang perempuan dengan disabilitas dapat tumbuh, berdaya, dan menjadi cahaya bagi orang lain.

Memerdekakan perempuan berarti memberi ruang untuk belajar, bertumbuh, dan berdaya. Memerdekakan sahabat disabilitas berarti memastikan tidak ada seorang pun yang merasa terlalu jauh untuk mengenal Al-Qur’an. Bersama Laznas PPPA Daarul Qur’an, mari terus membuka lebih banyak ruang belajar melalui Program Disabilitas Mengaji, agar semakin banyak sahabat disabilitas dapat mengenal, mencintai, dan menghidupkan Al-Qur’an dalam kehidupannya. (ARA)

Dukung perjuangan ini melalui program Tuli Mengaji.