Nabila: Almarhum Bapak Pengen Saya Selalu Dekat dengan Al-Qur’an

Nabila: Almarhum Bapak Pengen Saya Selalu Dekat dengan Al-Qur’an
pppa-daarul-quran
pppa-daarul-quran
pppa-daarul-quran

Seorang gadis 23 tahun melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an, ia terus menutup dan membuka lagi mushaf berkali-kali. Tepat di halaman asrama Tahfidz Intensif PPPA Daarul Qur’an Yogyakarta Nabila Khoiriyah biasa menambah hafalan.

Sudah seminggu lebih ia mengikuti program Tahfidz Intensif yang dilaksanakan oleh PPPA Daarul Qur'an Yogyakarta. Nabila panggilan akrabnya, adalah salah satu yang beruntung bisa mengikuti program Tahfidz Intensif, setelah mengikuti seleksi masuk akhirnya kini ia mendapatkan tempat untuk menghafal Al-Qur'an. Selama tiga bulan ke depan, Nabila dan semua peserta akan berjuang mengkhatamkan Al-Qur'an.

Keputusan Nabila mengikuti program ini ia mantapkan hingga memilih berhenti dari tempatnya bekerja, dengan maksud untuk lebih berkonsentrasi pada pilihannya yaitu melancarkan hafalan Al-Qur'an. Sebelumnya Nabila hanya menghafalkan Al-Qur'an seorang diri, ia tidak mempunyai tempat untuk menyetorkan hafalannya. Hingga hal itu membuat dirinya resah.

Suatu hari sang adik yang pernah belajar di Grha Tahfidz Daarul Qur’an Yogyakarta, layanan pembelajaran Al-Qur'an yang juga dikelola oleh PPPA Daarul Qur'an, memperlihatkan pengumuman pembukaan Tahfidz Intensif di media sosial. Tanpa berpikir panjang Nabila langsung mendaftar, kebetulan ia mempunyai sedikit tabungan dari hasil bekerjanya. Niatnya makin mantap hingga esok harinya ia melayangkan surat pengunduran diri sebagai customer service di sebuah perusahaan di Yogyakarta.

Tidak ada yang lebih diharap oleh Nabila waktu itu, ia hanya selalu teringat almarhum Bapaknya yang telah meninggalkan dirinya dan keluarga sejak beberapa tahun lalu. Memorinya saat sang Bapak yang tersenyum tatkala mendengar dirinya mencoba menghafalkan Al-Qur'an begitu menyentuh sampai relung hatinya.

"Bapak tidak berkata-kata, Bapak hanya tersenyum, tapi aku tahu Bapak sangat senang. Setiap habis Maghrib memang Bapak selalu menyuruh kami anak-anaknya ngaji, pokoknya harus ngaji habis Maghrib, Bapak memang begitu, Bapak pengen saya selalu dekat dengan Al-Qur’an," cerita Nabila sesenggukan, air matanya terus mengalir mengingat memorinya bersama almarhum ayahnya.

Kini jika ditanya tentang motivasinya menghafalkan Al-Qur'an, Nabila mungkin akan menjawab ‘Bapak’. Di samping itu ia merasa kehidupannya yang selalu mengejar target hidup, baik akademik sewaktu masih kuliah dan keinginannya bekerja di bidangnya sebagai sarjana Teknik Kimia sungguh membuatnya harus merasakan naik turunnya roda kehidupan. Hatinya terkoyak-koyak ketika melihat teman-temannya sudah mendapatkan pekerjaan selepas lulus kuliah, sementara dirinya belum. Terlebih ia juga seorang sulung yang adiknya masih kecil-kecil, ditinggal almarhum Bapak membuat dirinya terus berpikir untuk bisa membantu Ibu menyekolahkan adik-adiknya.

Namun pengalaman kegagalannya untuk bekerja di beberapa perusahaan bonafit kini malah menjadi cambuk bagi dirinya untuk lebih erat lagi memeluk Al-Qur'an. "Aku sering bertanya kurang apa ikhtiarku, belajar pun saya sampai malem-malem, juga sampai seleksi terakhir sering gagal. Hidup kan kita punya cita-cita, saya juga punya cita-cita dunia juga cita-cita akhirat, mungkin kalau memang dunia saya belum bisa kekejar, saya dahulukan akhirat saya aja, terlebih kita juga nggak tahu yang namanya umur sampai kapan," ungkap Nabila.

Bertemu dengan banyak orang di program Tahfidz Intensif membuat Nabila amat bahagia. Kini selain mendapatkan teman-teman baru yang juga sedang bersama-sama berikhtiar mengkhatamkan Al-Qur'an. Nabila kini sudah mempunyai tempat untuk menyetorkan hafalan-hafalannya demi mewujudkan keinginan dirinya dan keinginan almarhum ayahnya untuk menghafalkan Al-Qur'an.

"Alhamdulillah, sekarang saya lega sudah menemukan tempat untuk menyetorkan hafalan-hafalan saya yang sudah saya mulai sendiri sejak masih kuliah dua tahun lalu," ungkap Nabila. []