Ngabuburit Spesial: PPPA Daarul Qur’an Jatim Rangkul Sahabat Tuli di Rungkut
Ngabuburit Ramadan biasanya identik dengan berburu takjil atau berkumpul bersama keluarga. Namun sore itu, suasana di Masjid Jenderal Sudirman Rungkut terasa berbeda. Lantunan sunyi ayat suci Al-Qur’an berpadu dengan gerakan tangan yang luwes dan penuh makna.PPPA Daarul Qur’an Jawa Timur menghadirkan suasana ngabuburit yang inklusif, hangat, dan penuh cahaya kebersamaan bersama teman-teman tuli.
Kurang lebih 41 sahabat tuli dan sekitar 200 warga setempat memadati area masjid. Mereka duduk berdampingan tanpa sekat, menyimak kajian fiqih yang disampaikan dengan penerjemah bahasa isyarat. Setiap materi disampaikan dengan ritme yang pelan dan jelas, memastikan pesan sampai dan dipahami bersama.
Sebelum waktu berbuka tiba, kegiatan diawali dengan kajian fiqih Ramadan. Materi yang dibahas seputar tata cara ibadah puasa, hal-hal yang membatalkan puasa, hingga keutamaan berbagi di bulan suci. Teman-teman tuli mengikuti dengan penuh perhatian, mata tertuju pada penerjemah yang menyampaikan setiap kalimat dalam bahasa isyarat.
Suasana semakin khusyuk saat sesi mengaji Mushaf Isyarat dimulai. Gerakan tangan membentuk huruf demi huruf hijaiyah, wajah-wajah yang serius namun penuh semangat, serta kebersamaan yang terasa begitu tulus. Al-Qur’an tak lagi hanya terdengar, tetapi juga terlihat dan dirasakan.
Kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen PPPA Daarul Qur’an Jawa Timur dalam menghadirkan dakwah yang ramah disabilitas. Ramadan bukan hanya milik sebagian orang, melainkan ruang ibadah yang terbuka bagi semua, termasuk sahabat tuli yang selama ini kerap menghadapi keterbatasan akses pembelajaran agama.
Menjelang azan Magrib, suasana haru menyelimuti masjid. Doa-doa dipanjatkan dalam hening yang khusyuk. Ketika waktu berbuka tiba, kurma dan hidangan sederhana dibagikan. Tawa kecil, senyum, dan isyarat penuh kehangatan menjadi pemandangan yang menguatkan makna ukhuwah. Ngabuburit sore itu bukan sekadar menunggu waktu berbuka. Ia menjadi ruang perjumpaan hati antara suara dan sunyi, antara gerak dan makna. Di Masjid Jenderal Sudirman Rungkut, Ramadan terasa lebih luas, lebih ramah, dan lebih memeluk semua.






