Perkuat Kolaborasi Filantropi, FOZ Kunjungi Kantor Pusat Laznas PPPA Daarul Qur’an
Forum Zakat (FOZ) mengunjungi Kantor Pusat Laznas PPPA Daarul Qur’an di Tangerang, Kamis (8/10/2026). Pertemuan ini menjadi ruang silaturahmi sekaligus membahas penguatan kolaborasi, strategi zakat, dan berbagai persoalan sosial yang membutuhkan gerakan bersama.
Sejumlah isu menjadi perhatian dalam diskusi, di antaranya kemiskinan, pendidikan berbasis akhlak, pemberdayaan ekonomi, perlindungan anak, hingga pencegahan pelecehan seksual. Kolaborasi antar lembaga dinilai penting agar zakat dapat semakin optimal menjawab persoalan masyarakat.
Manager Program Laznas PPPA Daarul Qur’an, Maulana Kurnia Putra, mengatakan lembaga zakat perlu melihat pembangunan manusia secara lebih komprehensif. Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga perlu memperkuat akhlak, budaya, dan agama.
“Pembangunan manusia tidak hanya dari sisi pendidikan, tetapi juga budaya dan agama. Kita perlu kembali menguatkan pendidikan berbasis akhlak agar dapat melahirkan generasi yang lebih kuat,” ujarnya.
Maulana menilai pembangunan manusia juga menjadi salah satu aspek penting dalam membangun strategi keberlanjutan lembaga zakat. Menurutnya, sustainability perlu dirancang dari hulu hingga hilir, bukan hanya berfokus pada penghimpunan dan penyaluran zakat, tetapi juga bagaimana masyarakat dapat tumbuh, berdaya, dan pada akhirnya menjadi bagian dari ekosistem kebaikan.
“Kalau kita bicara sustainability, pembangunan manusia harus menjadi salah satu fondasinya. Kita perlu melihat dari hulu sampai hilir, bagaimana lembaga zakat tidak hanya menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi juga membangun manusia agar lebih mandiri, berdaya, dan mampu melanjutkan kebermanfaatan di masa depan,” jelasnya.
Maulana juga menilai kemiskinan perlu dipandang sebagai persoalan bersama. Peran lembaga filantropi bukan hanya mendorong masyarakat untuk berzakat, tetapi juga membangun kesalehan sosial sekaligus meningkatkan keberdayaan penerima manfaat.
Direktur Utama Laznas PPPA Daarul Qur’an, Dwi Kartika Ningsih, menyoroti kemiskinan dan pelecehan seksual sebagai isu yang perlu mendapatkan perhatian bersama. Menurutnya, kompleksitas persoalan ekonomi mendorong lembaga zakat mengambil peran lebih strategis dalam membuka ruang pendapatan dan pemberdayaan masyarakat. “Bagaimana peran strategis lembaga zakat menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat hari ini? Ini yang harus kita pikirkan bersama,” tuturnya.
Selain kemiskinan, Dwi juga menyoroti kasus pelecehan seksual yang dapat terjadi di berbagai ruang, mulai dari kampus, masyarakat, pesantren, hingga ruang digital. Ia mendorong lembaga filantropi untuk menyatukan gerakan pencegahan sekaligus memperkuat edukasi bagi orang tua dan anak.
Direktur Program Laznas PPPA Daarul Qur’an, Zainal Umuri, menekankan pentingnya sinergi antara FOZ, lembaga zakat, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam menangani kemiskinan, termasuk kemiskinan ekstrem. Ia juga mendorong literasi zakat dan profesi amil dikenalkan sejak usia dini.
“Awareness tentang zakat dan amil perlu dibangun sejak kecil. Dari kecil kita pupuk agar generasi memahami pentingnya berbagi dan menjadi bagian dari gerakan kebaikan,” katanya.
Direktur Operasional Laznas PPPA Daarul Qur’an, Abdul Sidik, menyoroti pentingnya penguatan tata kelola dan harmonisasi regulasi. Menurutnya, meningkatnya kebutuhan pelaporan lembaga zakat membutuhkan sistem yang lebih terintegrasi agar pengelolaan dapat berjalan efektif.
“Regulasi mana yang mau dipakai perlu diperjelas. Kita membutuhkan sistem yang lebih terintegrasi dan satu pintu,” ujarnya.
Sementara itu, Project Manager Bidang 4 FOZ, Fawzi Muhtadi, menyampaikan sejumlah agenda penguatan ekosistem zakat, mulai dari penguatan asosiasi, peningkatan kapasitas amil, hingga perluasan literasi zakat di kalangan generasi muda. Salah satunya melalui program Zakat Goes to Campus yang telah menjangkau 16 perguruan tinggi negeri.
Menurut Fawzi, penguatan ekosistem zakat perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan meningkatkan literasi masyarakat, memperkuat kapasitas amil, serta menciptakan ruang bagi lebih banyak orang untuk terlibat dalam gerakan kebaikan. “Industri zakat harus menjadi ruang bagi orang untuk berbuat baik secara profesional,” ujarnya.
Pertemuan FOZ dan Laznas PPPA Daarul Qur’an menjadi momentum untuk menyatukan perspektif dan memperkuat kolaborasi lintas sektor. Kemiskinan, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, perlindungan anak, pencegahan pelecehan seksual, hingga literasi zakat membutuhkan gerakan bersama agar manfaatnya semakin luas dan berkelanjutan. (ARA)


