Hari Santri dan Jalan Juang Penjaga Kalam

Hari Santri dan Jalan Juang Penjaga Kalam
vickypedulidisabilitas
vickypedulidisabilitas
vickypedulidisabilitas

Sejarah Nusantara kerap ditulis lewat gemeretak senjata dan derap sepatu lars, tetapi dorongan paling karib dari ketahanan negeri ini sungguh terpintal di surau-surau berlantai bilah bambu. Di sanalah, berabad-abad lampau, santri duduk bersila menyalakan pelita minyak kelapa, mengeja aksara dengan getar suara yang menembus pekatnya malam kolonial. Membaca santri bukan mengingat sarung dan peci yang kumal oleh debu jalanan. Membaca santri adalah mengungkap riwayat panjang orang-orang yang memilih bertahan di tepi kekuasaan demi menjaga akal budi dan keteguhan moral.

Hari Santri Nasional adalah jembatan ingatan yang menarik kita kembali pada bulan Oktober 1945, saat fatwa dan resolusi bergema dari bilik pesantren yang riuh oleh doa dan laku keprihatinan. Pada masa ketika republik masih berupa bayi merah yang terancam diremukkan serdadu Sekutu, santri tampil membawa tubuh dan keyakinan, membuktikan bahwa mempertahankan tanah air adalah bagian yang tak terpisahkan dari iman yang menghidupkan dada.

Namun zaman berganti rupa, dan kolonialisme masa kini tak lagi datang membawa bedil kompeni, tetapi membawa kejahatan batin, keterasingan makna, dan deru gangguan peradaban yang kerap menepikan firman. Di tengah lanskap kebangsaan yang rapuh oleh pusaran modernitas itulah, kehadiran PPPA Daarul Qur'an jadi ikhtiar menyambung kembali tali sanad ketabahan. PPPA Daarul Qur'an hadir menjadi ruang pembibitan tempat ayat-ayat suci ditanamkan ke dalam dasar adab generasi di Nusantara agar tidak berhenti sebagai teks mati di rak-rak berdebu.

Pendidikan Al-Qur'an di tangan para penggerak dakwah ini menolak terkungkung dalam menara gading hafalan yang mencapai penderitaan penderitaan sesama. Menghafal Al-Qur'an dipahami sebagai laku menyeharikan wahyu melalui sebuah proses batin yang mengalirkan kasih sayang ke lorong-lorong sosial yang gelap dan terabaikan. Urgensi kehadiran PPPA Daarul Qur'an berani memanggul beban kultural, mendatangkan kantong-kantong kemiskinan, pulau-pulau terluar, hingga pelosok dusun tempat suara anak-anak mengeja hijaiyah kerap tenggelam oleh desah kesulitan hidup sehari-hari.

Kisah para santri di rumah-rumah tahfizh pelosok selalu menyodorkan keharuan yang luput dari sorot kamera kota besar. Kita mengenang seorang anak petani di lereng perbukitan kapur yang setiap subuh mengayuh sepeda berkarat, menembus kabut dingin demi melafalkan surah demi surah di hadapan sang ustadz. Kedua belah tangan kasar oleh cangkul dan jerami, tetapi bibir begitu lentur dan lembut saat membacakan ayat-ayat rahmat, membuktikan bahwa kemiskinan materiil tak pernah mampu menjanjikan martabat seorang pencari ilmu.

Ada pula lembaran haru tentang santri tuli yang belajar mengenali Tuhannya bukan lewat titian bunyi, melainkan melalui isyarat jari yang khusyuk. Di sudut majelis yang sunyi dari percakapan duniawi, santri tuli mengeja firman Tuhan dengan getaran kalbu dan gerak jemari yang bergetar penuh takzim. Kehadiran gerakan dakwah yang merengkuh komunitas disabilitas ini menjadi bukti terang bahwa Al-Qur'an diturunkan untuk seluruh manusia tanpa batas indra, memperluas cakrawala pesantren agar semakin ramah dan welas asih.

Juga saat kita menengok ketegaran seorang anak yatim piatu di bilik tahfizh yang menolak menyerah pada takdir kepedihan. Di balik seragam putihnya yang bersahaja, ia menyimpan hafalan tiga puluh juz di dalam kepala, memelihara harapan bahwa kelak ilmunya akan menjadi mahkota kehormatan bagi orang tuanya di alam baka dan suluh penerang bagi lingkungannya. Santri seperti inilah mutiara tersembunyi yang diselamatkan oleh uluran tangan dakwah, membuktikan bahwa harapan selalu mekar di tanah yang disirami ketulusan.

Kita melihat bagaimana para kader dai dan santri penghafal Quran diterbangkan ke tepian tapal batas negeri, menyapa nelayan miskin dan masyarakat adat yang terpinggirkan dari riuh pembangunan nasional. Para kader dan dai PPPA Daarul Qur’an membaur menanam ketela, mengajar baca-tulis, mengalirkan air bersih, dan membimbing masyarakat menegakkan salat dengan kesabaran seorang gembala. Di sanalah ayat-ayat Al-Qur'an menjadi jalan keluar bagi rasa lapar, penyakit, dan keterbelakangan yang sekian lama membelenggu warga bangsa.

Lintasan sejarah kemerdekaan mencatat bahwa bangsa ini berutang budi amat besar pada laku tirakat para santri kelana yang tak pernah meminta dicatat dalam buku pelajaran sekolah. Mereka berpuasa berhari-hari di musala reot, mendoakan keselamatan negeri yang belum bernama Indonesia, dan mengorbankan masa muda demi cita-cita keadilan yang melampaui kepentingan diri. Semangat kerelaan berkorban inilah yang kini diwarisi oleh santri-santri milenial yang mendedikasikan usia mudanya bermukim di asrama, bergulat dengan disiplin muraja'ah dan pengabdian sosial.

Dakwah Islam di Nusantara sejak mula memang bertumpu pada kelembutan kultural para wali dan kiai yang menolak jalan pedang. Islam bersemi di bumi pertiwi karena keluwesan para santri zaman lampau yang membaca watak tanah, menabur benih kebajikan, dan merawat persaudaraan tanpa kehilangan ketegasan prinsip. PPPA Daarul Qur'an memungut kembali remah-remah kearifan sejarah itu, menyuguhkan dakwah yang merangkul dan memberi makan akal serta perut, bukan dakwah yang gemar mengutuk dan menghakimi kerapuhan manusia.

Pendidikan Al-Qur'an yang ditumbuhkan hari ini menghadapi tantangan disrupsi digital yang sering memecah belah perhatian dan mendangkalkan permenungan manusia. Di tengah gempuran layar gawai yang menjajakan kedangkalan, santri yang duduk menekuni mushaf sejatinya sedang melancarkan perlawanan terhadap kebudayaan paling radikal. Para santri menolak diperbudak oleh kecepatan semu zaman, memilih mengikat diri pada ketelitian tartil dan ketundukan batin yang memulihkan kembali fitrah manusia sebagai hamba yang fana.

Urgensi dakwah Daarul Qur'an juga tampak nyata dalam kemampuannya menjembatani filantropi modern dengan etika sufistik yang luhur. Dana umat, sedekah seribu rupiah dari pedagang pasar, hingga zakat para profesional dan korporat diubah menjadi beasiswa, pendirian asrama, dan publikasi mushaf yang menjangkau mereka yang haus bimbingan spiritual. Transparansi dan akuntabilitas modern dipadukan secara elok dengan ketulusan niat, menjadikan lembaga ini sebagai pengelola bantuan sekaligus gerakan kebaikan bersama.

Hari Santri Nasional 2027 mestilah dimaknai sebagai momentum peneguhan kembali ikrar kebangsaan bahwa Indonesia tidak boleh kehilangan jiwa keislamannya yang teduh dan mengayomi. Negara ini terlalu luas dan majemuk untuk diurus hanya dengan pendekatan teknokratis dan kalkulasi ekonomi yang dingin. Indonesia membutuhkan limpahan berkah dan doa tulus yang terus dipanjatkan dari dada-dada santri yang bersih, lidah mereka yang selalu basah melantunkan ayat suci demi kedamaian dan keselamatan seluruh tumpah darah.

Kehadiran gerakan pendidikan Al-Qur'an yang tertanam kuat pada nilai-nilai tradisi sekaligus tanggap pada deru zaman adalah benteng pertahanan terakhir dari kepunahan nurani bangsa. Dari rahim pesantren dan rumah tahfizh inilah kelak lahir para pemimpin, ilmuwan, petani, dan pendidik yang tidak silau oleh kemilau harta dan tak gentar menghadapi badai perubahan moral. Para santri adalah anak kandung sejarah yang mewarisi darah perjuangan para pahlawan sarungan, siap menjaga keutuhan tanah air dengan senjata integritas dan akhlak karimah.

Maka, biarlah ayat-ayat itu terus dialunkan di seantero Nusantara, dari gubuk panggung di pesisir barat Sumatera hingga pulau-pulau terpencil di timur kepulauan Maluku. Selama masih ada santri yang bersujud melafalkan firman Tuhannya di waktu fajar, selama lembaga-lembaga dakwah yang teguh menyalakan dian pendidikan Al-Qur'an tanpa pamrih duniawi, maka selama itu pula negeri ini akan terus memiliki patok spiritual yang kokoh. Dari ketekunan santri yang tak bernama, fajar keselamatan bagi peradaban Nusantara akan selalu terbit setiap pagi. Selamat Hari Santri! tabik.

Maulana Kurnia Putra, S.Sos., MA
(Manajer Program LAZNAS PPPA Daarul Qur'an)