Menjaga Kehormatan di Balik Bencana
Bencana kerap kali hadir tanpa kata pembuka, merenggut keakraban tanah dan melipat dinding-dinding rumah menjadi hamparan puing yang getir. Di Flores, bumi yang berguncang belasan ribu kali sejak gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026 telah menorehkan luka fisik dan batin. Ketika puluhan ribu atap runtuh dan memaksa lebih dari seratus ribu jiwa mendiami terpal-terpal darurat, kita mendapati bahwa derita pascabencana tidak pernah terdistribusi secara merata. Di sanalah perempuan, ibu menyusui, dan anak-anak menempati sudut paling rapuh dari panggung musibah.
Kita pun kerap tergesa mengira bahwa tenda komunal dan kardus mi instan sudah mencukupi takaran belas kasih kemanusiaan. Kita lupa, atau barangkali terbiasa abai, bahwa tenda darurat tanpa sekat ternyata menyimpan resiko dari sekedar tempat berteduh. Tenda darurat seringkali menjadi ruang yang menelanjangi privasi. Di ruang-ruang terbuka yang padat sesak itu, tubuh perempuan mendadak berada di bawah tatapan publik yang mengancam, sementara malam hari menghadirkan ketakutan sunyi manakala bilik jamban darurat tak berpintu rapat dan dilingkupi gulita tanpa penerangan.
Kerapuhan ini mengingatkan kita pada pembacaan Ben Wisner mengenai konsep kerentanan (vulnerability). Kerentanan adalah bentukan struktur sosial yang menempatkan subjek tertentu pada risiko bahaya yang berlipat ganda. Menjadi perempuan atau balita di tengah kamp pengungsian berarti memikul kerentanan bertingkat yakni kerentanan fisiologis, sosial, hingga spasial. Pelajaran pahit dari riwayat bencana di Palu, Lombok, hingga Cianjur menegaskan pola muram tersebut, tatkala kekerasan berbasis gender dan kepedihan terselubung mengintai di balik absennya tata kelola hunian yang sensitif gender.
Krisis yang paling sunyi dan menyayat kerap terjadi di pangkuan para ibu. Di tengah kerumunan dan keriuhan tenda tanpa pembatas, rasa malu serta tekanan batin meremukkan mekanisme alamiah tubuh. Terjadilah apa yang dalam ranah medis dinamai kegagalan refleks aliran air susu. Air susu ibu (ASI), yang semestinya menjadi muara keselamatan pertama bagi bayi di daerah bencana, terhambat oleh kecemasan psikologis yang kronis. Alih-alih mendapatkan asupan terbaik, bayi-bayi terpaksa mengonsumsi susu formula yang diseduh dengan air darurat, memicu lonjakan diare akut dan ancaman gizi buruk.
Di sudut lain, anak-anak menatap dunia yang seketika runtuh dan kehilangan ritme kesehariannya. Bel sekolah yang berhenti berdentang, menyisakan reruntuhan berbahaya tempat langkah-langkah kecil mereka tersesat dalam kebingungan. Gempa susulan yang terus berulang menorehkan trauma psikis mendalam, merampas hakikat kanak-kanak yang semestinya riang dan terlindungi. Ketiadaan suaka perlindungan mengubah masa pemulihan menjadi ladang kecemasan yang berkepanjangan.
Menghadapi kenyataan semacam ini, diskursus kebencanaan menuntut pergeseran dari sekadar ratapan pasif menuju pembangunan ketangguhan (resilience). Mengutip gagasan David Alexander, ketangguhan itu ya keuletan memikul derita dan kapasitas komunitas untuk bertahan, beradaptasi, dan menata ulang kehidupannya secara bermartabat pascabencana. Ketangguhan tidak boleh dipahami sebagai kewajiban korban untuk terus tabah dalam ketidakberdayaan. Ketangguhan itu adalah kehadiran ikhtiar yang menyediakan prasyarat struktural bagi pemulihan mereka.
Di sinilah inisiatif pendirian Shelter PRIMA (Perempuan, Ibu Menyusui, dan Anak) oleh PPPA Daarul Qur'an hadir sebagai ikhtiar mitigasi risiko yang bernas. Berdiri di atas luas enam kali enam meter, shelter ini serupa bedeng darurat penolak terik dan hujan yang juga menjadi sebuah rancang bangun kesadaran tentang sebuah suaka aman (safe sanctuary) yang secara sadar menolak pendekatan buta gender (gender-blind) yang kerap menjangkiti operasi darurat.
Denah Shelter PRIMA merefleksikan penghormatan terhadap kemanusiaan yang intim, misalnya bilik laktasi yang tertutup dan higienis dirancang khusus agar ibu dapat mendekap dan menyusui bayinya dengan tenang tanpa rasa waswas. Di sampingnya, ruang ramah anak disiapkan guna memulihkan trauma melalui permainan dan pendampingan psikososial. Keberadaan fasilitas toilet dan sanitasi yang terkunci dari dalam serta disinari lampu bertenaga surya menjadi benteng pencegahan nyata terhadap ancaman pelecehan maupun kekerasan seksual.
Pemilihan Kecamatan Elar di pedalaman perbukitan Manggarai Timur mempertegas arti keberpihakan. Di wilayah yang menanggung kerusakan rumah tinggal berat tertinggi ini, pengungsi mandiri di kebun-kebun ladang rawan terisolasi dari arus logistik kota. Shelter PRIMA tidak hadir memaksakan arsitektur asing yang mahal dan kaku, melainkan merunduk akrab pada ekologi lokal. Alam pedesaan Elar yang kaya akan tegakan bambu petung, bambu tali, dan kayu kebun dijadikan sebagai tulang punggung struktur bangunan panggung yang ramah gempa.
Dari batang-batang bambu itulah falsafah ketangguhan berkelindan dengan tradisi gotong royong. Robert Putnam pernah menguraikan pentingnya modal sosial (social capital), khususnya tipe bonding dan bridging, dalam merekatkan warga menghadapi krisis bersama. Di tanah Flores, gotong royong sudah jadi etos purba yang hidup ketika tetangga saling bahu-membahu menegakkan tiang pancang, merajut kawat bendrat, dan menggelar terpal penahan angin malam.
Dalam deru gergaji dan ketukan pasak bambu, gotong royong warga memulihkan bergeraknya kemanusiaan para warga yang sempat dihancurkan oleh bencana. Para warga pun digerakkan sebagai aktor utama bagi perlindungan ibu dan anak-anak mereka sendiri. Dana konsumsi makan bersama yang dialokasikan dalam rancangan shelter menjadi ritual perjumpaan komunal yang memulihkan keretakan sosial pascatrauma.
Mitigasi bencana pada akhirnya tidak berhenti di rumus perhitungan seismograf atau tumpukan karung logistik di gudang penampungan. Mitigasi adalah keberanian moral untuk menjamin bahwa martabat kelompok yang paling rentan tidak tercerabut di kala bumi kehilangan pijakannya. Dengan menghadirkan ruang aman bersekat, jamban yang terjaga, dan bilik laktasi yang teduh, Shelter PRIMA telah meletakkan batas tegas antara ketidakberdayaan dan harapan.
Pada akhirnya, sebuah bangsa diuji tidak dari seberapa megah membangun monumen di masa jaya, tetapi dari bagaimana bisa memuliakan perempuan dan melindungi anak-anaknya pada masa nestapa. Di antara bukit-bukit Elar yang sunyi, ikhtiar menegakkan bilik bambu Shelter PRIMA adalah seruan hening bahwa di atas tanah yang retak sekalipun, martabat, gotong royong, dan cinta kasih kemanusiaan pantang ikut runtuh. Bismillaah.
Maulana Kurnia Putra, S.Sos., M.A.
Manajer Program Laznas PPPA Daarul Qur'an


