Abi Yaqub, Santri Tunanetra yang Kini Genap Hafal 30 Juz Al-Qur'an

Secuil cerita Abi Yaqub, santri tunanetra Rumah Tahfizh Ar-Rahman Sampang, tuntaskan hafalan 30 juz Al-Qur'an lewat kesabaran dan dukungan sang ibu.

Abi Yaqub, Santri Tunanetra yang Kini Genap Hafal 30 Juz Al-Qur'an
vickypedulidisabilitas
vickypedulidisabilitas
vickypedulidisabilitas

Abi Yaqub, demikianlah nama lengkap santri tunanetra yang menjadi wisudawan berprestasi di acara Wisuda Tahfizh Jawa Timur ke-5 pada Ahad, 12 Oktober 2025 lalu. Santri Rumah Tahfizh Ar-Rahman asal Sampang, Madura ini memiliki semangat yang luar biasa dalam menghafal Al-Qur'an.

Keterbatasan penglihatan tak membuatnya berhenti bermimpi menjadi seorang hafizh Al-Qur'an 30 juz. Dengan memaksimalkan kemampuan auditorinya, ia menghafal ayat demi ayat, dan mimpi besar itu akhirnya menjadi kenyataan pada Ahad sore, 30 Agustus 2026. Di Rumah Tahfizh Ar-Rahman Sampang, di tengah suasana yang sama seperti hari-hari biasanya, saat santri-santri lain juga tengah menyetorkan hafalan mereka, Abi menuntaskan setoran juz terakhirnya. Tidak ada seremoni khusus, tidak ada panggung. Hanya ayat-ayat suci yang mengalir dari lisannya, disaksikan oleh para pengasuh dan santri yang kebetulan tengah duduk di ruang setoran yang sama sore itu.

Sebuah pencapaian besar yang justru lahir dari rutinitas sederhana, buah dari bertahun-tahun kesabaran, keistiqomahan, dan perjuangan yang tak kenal lelah.

Semangatnya selalu membara setiap menghafal ayat-ayat Al-Qur'an. Ia tak pernah merasakan sebuah keinginan untuk berhenti, karena ia telah menemukan impian paling mulia yang diidamkan oleh seluruh penghafal Al-Qur'an, yaitu membanggakan kedua orang tua di Surga kelak. Kini, impian itu tak lagi sekadar cita-cita di ujung jalan, melainkan telah benar-benar ia genggam.

"Motivasi saya menghafal Al-Qur'an adalah karena saya ingin mendirikan agama Allah dan membanggakan kedua orang tua saya di Surga," ucap santri tunanetra yang akrab disapa Abi itu.

Ia telah menghafal mulai kelas 4 SD hingga kini duduk di bangku kelas X SMA. Perjalanan panjang yang dimulai dari belasan juz, disempurnakan sedikit demi sedikit, ayat demi ayat, hingga akhirnya genap 30 juz sore itu di Sampang, tentu bukanlah hal yang mudah. Terlebih dengan segenap keterbatasan yang dimilikinya.

Namun, di samping ia menyetorkan hafalannya ke Rumah Tahfizh, ada sang ibu yang senantiasa mendampinginya ziyadah dan muroja'ah sepanjang waktu. Beliau mendukung penuh putra semata wayangnya untuk menghafal Al-Qur'an hingga tuntas.

"Kalau dia ngaji selalu ditungguin sama saya baik di rumah maupun di rumah tahfizh. Di rumah, saya yang menyimak dia menghafalkan Al-Qur'an," ujar sang Ibu.

Hal itu pula yang membuat Abi ingin membalas seluruh kebaikan kedua orang tuanya dengan membanggakan mereka di dunia maupun di akhirat. Maka, khataman 30 juz yang ia rampungkan sore itu memang ia persembahkan sepenuhnya sebagai kado terindah bagi kedua orang tuanya kelak di akhirat.

Tidak hanya itu, Abi juga merasakan perbedaan yang mendalam dalam hidupnya usai memutuskan untuk menghafal Al-Qur'an. "Setelah menghafal Al-Qur'an, saya merasa jauh lebih tenang, karena hidup di dunia ini hanya permainan dan sementara," tuturnya.

Apa yang disampaikan Abi persis sebagaimana yang disebutkan dalam ayat suci Al-Qur'an. Maka dari itu pula yang membuat semangatnya tak pernah surut, hingga sore itu, 30 Agustus 2026, ia berhasil menuntaskan seluruh perjalanan menghafal 30 juz kalam Ilahi, di tengah para santri lain yang juga sedang berjuang dengan hafalan masing-masing.

Jika sebelumnya perjalanan Abi masih setengah jalan menuju status hafizh 30 juz, kini babak itu telah ia lewati sepenuhnya, tepat di tempat yang sama di mana ia memulai semuanya bertahun-tahun silam. Baginya, waktu bukanlah acuan utama dalam menyelesaikan hafalan, melainkan keistiqomahan yang terus ia jaga dari hari ke hari. Bagi Abi, menghafal Al-Qur'an adalah perjalanan panjang yang penuh nikmat, lengkap dengan lika-liku yang justru menempanya menjadi pribadi yang lebih tangguh.

Abi kini menjadi salah satu bukti nyata bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk menjadi penjaga kemurnian kalam Ilahi. Semoga Abi senantiasa diberikan keistiqomahan dalam menjaga hafalannya, serta menjadi teladan bagi santri-santri tunanetra lain di Indonesia yang tengah berjuang menapaki jalan yang sama.


Oleh: Diah Fitriatus Sholihah S.Sos, M.Ikom