Kader Tahfidzh Jatim Galang Dana untuk Penyintas Gempa Flores

Siswa SMPN 1 Bangil & santri cilik Daqu Banyuwangi galang dana mandiri untuk penyintas gempa NTT, disalurkan lewat PPPA Daarul Qur'an Jawa Timur.

Kader Tahfidzh Jatim Galang Dana untuk Penyintas Gempa Flores
Kader Tahfidzh Jatim Galang Dana untuk Penyintas Gempa Flores
vickypedulidisabilitas
vickypedulidisabilitas
vickypedulidisabilitas

Surabaya – Di sela lantunan ayat suci yang setiap hari mengalun dari mushola-mushola sekolah, ada kepedulian yang diam-diam tumbuh menjadi gerakan besar. Jauh dari sorotan seremoni pelepasan bantuan di Kanwil Kemenag Jawa Timur, kepedulian terhadap penyintas gempa Flores, Nusa Tenggara Timur, ternyata telah lebih dulu bersemi di ruang-ruang kelas dan halaman sekolah tahfidzh se-Jawa Timur.

Di SMPN 1 Bangil, Pasuruan, para siswa bersama wali murid menyisihkan sebagian rezeki mereka melalui penggalangan dana sosial yang digagas secara swadaya. Tak jauh berbeda, di ujung timur Jawa Timur, TK dan SD Daarul Qur'an Banyuwangi juga menghimpun kepedulian dari para wali santri, mengajak anak-anak sejak dini memahami makna berbagi di tengah musibah yang menimpa saudara sebangsa.

“Anak-anak kami mungkin belum sepenuhnya paham skala bencana yang terjadi di NTT, tapi mereka tahu bahwa ada saudara yang sedang kesusahan dan itu cukup menggerakkan hati mereka untuk berbagi,” ujar salah satu pihak sekolah yang terlibat dalam penggalangan dana tersebut.

Dana yang terkumpul dari kedua lembaga pendidikan ini kemudian disalurkan melalui sinergi bersama PPPA Daarul Qur'an Jawa Timur, menyatu dengan kontribusi lembaga lain menjadi bagian dari 2 kontainer bantuan berisi 300 kasur, 300 selimut, 160 Al-Qur'an dan Iqro, serta 600 kaleng sarden yang diberangkatkan menuju Flores.

Bagi PPPA Daarul Qur'an Jawa Timur, kolaborasi ini memiliki makna tersendiri. Sebab yang bergerak bukan sekadar donatur besar, melainkan kader-kader tahfidzh cilik yang sehari-harinya akrab dengan Al-Qur'an, kini turut menghidupkan nilai-nilai Qur'ani itu dalam bentuk kepedulian nyata terhadap sesama.

“Ini bukan hanya soal nominal yang terkumpul, tapi soal bagaimana nilai-nilai Al-Qur'an yang mereka pelajari setiap hari benar-benar terwujud dalam sikap peduli terhadap sesama. Anak-anak dan wali santri di Pasuruan dan Banyuwangi telah menunjukkan bahwa kepedulian tidak mengenal usia,” ungkap Diah Fitriatus Sholihah perwakilan PPPA Daarul Qur'an Jawa Timur.

Bantuan dari para kader tahfidzh ini pun menyatu dalam rombongan 27 ton logistik kemanusiaan yang diberangkatkan bersama Kemenag Jawa Timur, BAZNAS Jawa Timur, dan Forum Zakat Jawa Timur, melalui Depo CLC Meratus Surabaya menuju Pelabuhan Maumere, NTT.

Sesampainya di Flores, bantuan tersebut bertemu dengan tangan-tangan relawan SIGAB PPPA Daarul Qur'an yang telah lebih dulu mendirikan posko di Desa Compang Teo, Manggarai Timur, dan Nangamese, Riung, Ngada. Di sanalah kasur dan selimut hasil urunan siswa dan wali santri itu akhirnya sampai ke pelukan warga yang malamnya kini hanya beratap terpal, sementara Al-Qur'an dan Iqro yang dikirim menjadi penawar rindu akan rutinitas mengaji yang sempat terhenti akibat bencana.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa gerakan kemanusiaan besar sering kali berawal dari langkah-langkah kecil yang tulus. Dari ruang kelas di Pasuruan, dari halaman TK di Banyuwangi, hingga tenda pengungsian di Manggarai Timur, semangat kader tahfidzh Jawa Timur telah membuktikan bahwa kepedulian sejati tidak mengenal jarak maupun usia.

Salam dari kader tahfidzh Jawa Timur, untuk saudara-saudara di Flores, NTT.
Oleh: Diah Fitriatus Sholihah S.Sos, M.Ikom