Bersama Pulihkan NTT, Hadirkan Harapan

Bersama Pulihkan NTT, Hadirkan Harapan
vickypedulidisabilitas
vickypedulidisabilitas
vickypedulidisabilitas

Bencana bukan hanya tentang rumah yang rusak atau kehilangan harta benda. Di baliknya, ada keluarga yang kehilangan tempat berteduh, anak-anak yang kehilangan rasa aman, dan masyarakat yang harus kembali menata hidup dari keadaan yang serba terbatas.

Duka yang dirasakan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi duka kita bersama. Merespons kondisi tersebut, Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) melalui Program Kemaslahatan Tanggap Bencana hadir memberikan dukungan bagi masyarakat terdampak.

Dalam ikhtiar kemanusiaan ini, Laznas PPPA Daarul Qur’an menjadi salah satu Mitra Kemaslahatan BPKH yang turut mengambil bagian dalam penyaluran bantuan dan penguatan masyarakat terdampak bencana.

Direktur Utama Laznas PPPA Daarul Qur’an, Dwi Kartika Ningsih, mengatakan bahwa bantuan yang diberikan bukan sekadar tentang memenuhi kebutuhan, tetapi juga tentang menghadirkan harapan bagi mereka yang sedang melalui masa sulit.

“Bencana mungkin merenggut banyak hal, tetapi jangan sampai ia merenggut harapan. Melalui kolaborasi bersama BPKH, kami ingin hadir bukan hanya membawa bantuan, tetapi juga membawa pesan bahwa masih banyak hati yang peduli dan tangan yang siap menguatkan," Dwi Kartika Ningsih, Direktur Utama Laznas PPPA Daarul Qur’an pada Rabu (2/9).

Melalui Program Tanggap Bencana, berbagai kebutuhan masyarakat diupayakan untuk dipenuhi, mulai dari 9.000 porsi dapur umum, 900 paket kebutuhan pokok, 900 paket hygiene kit, 900 paket shelter kit, 900 kaleng daging rendang, 900 pcs abon sapi, distribusi air bersih di tiga titik, hingga pelayanan kesehatan di enam titik.

Bagi mereka yang sedang kehilangan, bantuan mungkin terlihat sederhana. Namun seporsi makanan dapat menjadi tenaga untuk bertahan, air bersih menjadi kebutuhan yang begitu berarti, dan tempat berteduh menjadi ruang untuk kembali menata kehidupan.

Kolaborasi BPKH bersama Laznas PPPA Daarul Qur’an dan para mitra kemaslahatan menjadi bagian dari ikhtiar untuk meringankan beban masyarakat NTT. Sebab, pemulihan tidak pernah cukup dengan satu tangan. Ia membutuhkan kepedulian yang bergerak, kolaborasi yang nyata, dan harapan yang terus dijaga.