Sebuah Refleksi tentang Keterasingan di Jalan Juang
Mengapa banyak penggerak dakwah dan filantropi kehilangan ruh perjuangannya? Refleksi mendalam tentang pentingnya memahami medan juang sebelum bertindak.
Sebuah gerakan, betapa pun luhur cita-cita yang dipangkunya, misalnya menjunjung tinggi kalam Al-Qur’an maupun membebaskan kaum papa dari belenggu kemiskinan, pun akan luruh menjadi sekadar rutinitas birokrasi jika para pelakonnya kehilangan kesadaran akan ruang dan waktu tempat mereka berpijak. Jalan dakwah dan pengentasan kemiskinan benar-benar bukan lintasan lari yang steril, kita mahfumi bersama. Jalan dakwah itu medan laga yang riuh, penuh kepedihan, sekaligus menuntut ketajaman nalar sepanjang waktu. Ketika tim di dalam organisasi bekerja tanpa keintiman terhadap medan juangnya, mereka laksana musafir yang berjalan dalam gelap tanpa membawa suluh, mengira arah hanya dari derap langkah yang mekanis.
Ketiadaan pemahaman atas medan juang ini melahirkan sejenis “jurang pemahaman” di tubuh organisasi. Di meja-meja rapat yang sejuk, angka-angka kemiskinan ditelaah, dan program literasi Al-Qur’an disusun rapi di atas kertas kerja. Namun, ketika kaki-kaki organisasi melangkah ke perkampungan kumuh atau menjumpai masyarakat marjinal, ada jarak psikologis yang membentang lebar. Tim tidak lagi mampu membaca denyut nadi persoalan yang sesungguhnya. Mereka berada di sana, tetapi pikiran mereka tertinggal di dalam dokumen teknis. Gerakan pun kehilangan ruhnya, berubah dari sebuah panggilan suci menjadi sekadar pemenuhan target-target administratif.
Kondisi tragis ini mengikis apa yang kita sebut sebagai etos seorang petarung. Seorang petarung sejati bergerak tidak karena diperintah oleh sistem shift atau iming-iming bonus bulanan. Petarung bergerak karena ada bara yang menyala di dadanya setelah melihat ketimpangan di depan mata. Ketika pemahaman medan itu sirna, motivasi pun merosot ke titik nadir. Kerja-kerja kemanusiaan dan keagamaan yang semestinya digerakkan oleh spiritual drive yang dahsyat, kini mengalami pendangkalan mutu. Kelelahan fisik sedikit saja sudah cukup untuk membuat tim mengeluh, karena mereka tidak pernah tahu untuk apa sebetulnya peluh mereka diteteskan.
Al-Qur’an yang konon kita junjung selalu itu telah memberikan peringatan yang benderang mengenai pentingnya keselarasan antara ilmu, pemahaman medan, dan tindakan nyata. Dalam Surat Ash-Shaff ayat 2-4, Allah SWT. berfirman,
’ٰيۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ ’امَنُوۡا لِمَ تَقُوۡلُوۡنَ مَا لَ تَفۡعَلُوۡنَ٢ كَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ ٰاِللّ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا مَا لَ تَفۡعَلُوۡنَ ٣ اِنَّ ٰاَللّ يُحِبُّ الَّذِيۡنَ يُقَاتِلُوۡنَ فِىۡ سَبِيۡلِ ,ه صَفًّا كَاَنَّهُمۡ بُنۡيَا ن مَّرۡصُوۡ ص ٤
Ayat ini menampar kita yang sering kali fasih merumuskan jargon-jargon pemberdayaan di ruang seminar, namun gagap dan enggan berkubang langsung di lumpur kemiskinan masyarakat. Ayat ini menampar kita yang kerap bicara tingginya buta huruf Al-Qur’an di negeri dengan Muslim terbesar di dunia, tapi tidak paham bagaimana
memberikan cahaya. Dakwah dan filantropi yang mengawang-awang tanpa pijakan realitas adalah bentuk kelalaian. Ketidaktahuan akan medan juang ini juga mengingatkan kita pada petuah klasik Sun Tzu dalam The Art of War yang sangat masyhur,
"Jika Anda mengenal musuh dan mengenal diri sendiri, Anda tidak perlu takut akan hasil dari seratus pertempuran. Jika Anda mengenal diri sendiri tetapi tidak mengenal musuh, untuk setiap kemenangan yang diraih Anda juga akan menderita kekalahan. Jika kamu tidak mengenal musuh maupun diri sendiri, Anda akan kalah dalam setiap pertempuran.”

Dalam konteks gerakan kita, "musuh" itu ya kemiskinan struktural, kebodohan, dan meluasnya buta aksara Al-Qur’an, juga masalah kemanusiaan lainnya. Bagaimana mungkin sebuah organisasi mampu memenangkan pertempuran melawan kemiskinan jika mereka sendiri abai memetakan akar budaya, psikologi, dan struktur sosial masyarakat yang hendak dibantu?
Kearifan Jawa juga merekam dengan sangat indah bagaimana seorang pejuang harus menempatkan diri di tengah masyarakat melalui prinsip manjing manjing ajur-ajer. Kearifan ini menuntut kepasrahan dan keberanian untuk melebur secara total, menyelami penderitaan rakyat, tanpa kehilangan jati diri sebagai penggerak. Pejuang yang enggan manjing (masuk dan menyatu) hanya akan menjadi penonton yang berjarak. Mereka tidak akan pernah bisa menggerakkan hati masyarakat karena bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa elite yang asing di telinga kaum jelata yang sedang berjuang menyambung hidup dari hari ke hari.
Secara teoretis, fenomena merosotnya etos kerja akibat keterasingan terhadap makna pekerjaan ini selaras dengan Job Characteristics Theory yang dikembangkan oleh Richard Hackman dan Greg Oldham. Teori manajemen SDM ini menekankan bahwa motivasi internal yang tinggi hanya akan lahir jika seorang pekerja merasakan tiga kondisi psikologis kritis yaitu makna pekerjaan yang mendalam (experienced meaningfulness), tanggung jawab penuh atas hasil kerja (experienced responsibility), dan pengetahuan mutlak akan hasil nyata dari usahanya (knowledge of results).
Ketika tim organisasi tidak memahami signifikansi dari setiap keringat yang mereka teteskan terhadap perubahan nasib seorang mustahik atau seorang buta huruf Al-Qur’an, pekerjaan mereka kehilangan meaningfulness. Mereka mengalami alienasi, merasa diri mereka hanyalah sekrup kecil dari mesin birokrasi yang dingin. Bukti-bukti terjadinya degradasi etos akibat iliterasi medan ini terpampang nyata dalam keseharian organisasi kita. Kita sering menyaksikan program-program bantuan yang sifatnya "pukul rata" (one size fits all), dirancang tanpa riset mendalam mengenai keunikan lokal, yang pada akhirnya berujung pada kemubaziran. Tim di lapangan sering kali datang hanya untuk membagi bantuan, mengambil foto sebagai laporan, lalu pulang tanpa sempat mendengarkan keluh kesah yang sesungguhnya. Ada pula gejala resistensi internal yang kuat setiap kali organisasi mencoba melakukan lompatan strategi. Tim merasa nyaman dengan rutinitas harian yang dangkal dan enggan ditantang untuk berpikir lebih keras demi dampak yang lebih luas.
Krisis etos ini kian diperparah oleh fenomena burnout yang salah didiagnosis. Banyak manajer mengira timnya kelelahan karena beban kerja yang terlampau tinggi, padahal yang terjadi sesungguhnya adalah kelelahan spiritual (spiritual fatigue). Mereka lelah karena tidak lagi menemukan alasan yang agung mengapa mereka harus bertahan di jalan yang sunyi ini. Ketika orientasi nilai bergeser dari "pengabdian" menjadi sekadar "pekerjaan", maka ketangguhan seorang petarung pun runtuh, digantikan oleh mentalitas buruh yang menghitung setiap menit waktu kerja dengan tuntutan kompensasi materiil semata.
Menghadapi kemandegan ini, organisasi harus berani melakukan perombakan radikal dalam mengelola manusia-manusia di dalamnya. Langkah awal yang mendesak adalah merestrukturisasi sistem induksi dan orientasi SDM. Setiap anggota tim baru, apa pun divisinya wajib melewati fase "magang ideologis" di garis depan pertempuran. Mereka harus tinggal, meresapi, dan berinteraksi langsung dengan realitas kemiskinan dan komunitas dakwah di akar rumput. Ini adalah ikhtiar untuk menanamkan kompas moral dan memahat kepekaan sosiologis sebelum mereka disibukkan oleh rutinitas balik meja.
Rekomendasi kedua adalah dengan menerapkan metode refleksi berkala yang terinstitusionalisasi. Ruang-ruang evaluasi organisasi tidak boleh hanya melulu membahas realisasi anggaran dan pencapaian indikator kinerja kuantitatif (KPI). Harus ada ruang khusus semacam lingkaran tadarus spiritual di mana tim diajak untuk membaca kembali narasi-narasi perubahan yang terjadi di lapangan, mendiskusikan kegagalan pendekatan, dan merajut kembali makna teologis dari setiap aktivitas kedinasan mereka. Kita perlu menghidupkan kembali tradisi membaca medan secara kolektif agar organisasi selalu awas terhadap pergeseran zaman.
Terakhir, manajemen organisasi perlu mendefinisikan ulang indikator keberhasilan SDM dengan memasukkan unsur ketangguhan lapangan dan inisiatif lateral. Penilaian kinerja tidak boleh lagi hanya memanjakan mereka yang patuh pada jalur birokrasi yang kaku. Penilaian kinerja SDM harus memberikan penghargaan tinggi bagi para petarung yang kreatif, yang berani mengambil risiko terukur demi memecahkan kebuntuan di lapangan. Dengan cara inilah, organisasi filantropi dan dakwah kita akan menjelma menjadi menara gading yang megah tidak rapuh, dan tetap tegak sebagai benteng perjuangan yang hidup, dinamis, dan senantiasa dirindukan oleh umat. Begitu.
Perjalanan menuju lereng Merapi Yogyakarta, 26 Juni 2026
Maulana Kurnia Putra, S.Sos., M.A.


