Cerita Ustazah Ranny, Santri BTQ 2017 yang Mengikuti Ujian Sertifikasi Guru Qur’an

Ustazah Ranny, biasa dipanggil oleh santri-santrinya. Saat ini beliau mengampu santri program Tahfidz Intensif batch 5. Ranny yang juga merupakan mahasiswi penerima program beasiswa BTQ for Leaders ini sebelumnya menempuh pengabdian di Kampung Qur’an Merapi, sebelum akhirnya mengampu santri akselerasi Tahfidz Intensif. 

Cerita Ustazah Ranny, Santri BTQ 2017 yang Mengikuti Ujian Sertifikasi Guru Qur’an
Beasiswa PPPA Daarul Qur'an
Beasiswa PPPA Daarul Qur'an
Beasiswa PPPA Daarul Qur'an

Ustazah Ranny, biasa dipanggil oleh santri-santrinya. Saat ini beliau mengampu santri program Tahfidz Intensif batch 5. Ranny yang juga merupakan mahasiswi penerima program beasiswa BTQ for Leaders ini sebelumnya menempuh pengabdian di Kampung Qur’an Merapi, sebelum akhirnya mengampu santri akselerasi Tahfidz Intensif. 

Sebelum tinggal dan mengadi di Yogyakarta, Ranny adalah mahasiswi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dengan program studi Bahasa dan Sastra Arab atau BSA.

Keikutsertaannya dalam ujian sertifikasi ini, adalah satu tantangan baru bagi Ranny. Program sertifikasi guru Qur’an ini baru pertama kali diketahui oleh Ranny setelah di Jogja, secara khusus semenjak melebur menjadi bagian dari program Tahfidz Intensif Yogyakarta. 

“Selain di pusat itu, setau saya baru cabang Yogyakarta yang mengadakan ini. Saya itu nggak tau banyak juga awalnya, mulai dari tesnya seperti apa lalu prosesnya bagaimana,” ucap Ranny. 

Awal mula direkomendasikan untuk ikut, Ranny merasa belum siap dan belum cukup bekal. Namun, pada akhirnya memberanikan diri untuk mencoba. “Ya Bismillah, karena belum tentu nanti kalau saya kembali ke Malang ataupun Surabaya itu ada semacam ini. Dan sebenernya memang saya itu merasa butuh ini,” tambahnya.

Diakui Ranny, agenda sertifikasi guru Al-Qur’an semacam ini sangat dibutuhkan karena untuk mengajar Al-Qur’an perlu pemahaman yang mendalam. Tidak bisa seadanya atau seperlunya saja. Dengan segala persiapan dan dauroh yang diikuti oleh Ranny sampai sebelum hari pelaksanaan ujian tiba, menjadikannya semakin yakin dan mantap. 

“Pas mulai tes jujur deg-degan, tapi alhamdulillah pengujinya sangat bisa membawakan suasana jadi nggak tegang. Hasilnya gimana ya tawakkal aja, yang penting selama satu minggu itu sudah berusaha memaksimalkan ditambah berdoa, minta didoakan dan mendoakan,” ujar Ranny


Seperti yang disampaikan di kesempatan sebelumnya, bahwa agenda ujian sertifikasi yang diadakan di Jogja ini masih langkah awal. Harapannya akan terus dilanjutkan karena sangat bermanfaat, untuk mengajar murid itu tidak bisa sekedarnya saja.