Empat Peran Besar Wanita dalam Islam

Empat Peran Besar Wanita dalam Islam
pppa-daarul-quran
pppa-daarul-quran
pppa-daarul-quran

Wanita muslimah memiliki kedudukan tinggi dalam Islam dan pengaruh yang besar dalam kehidupan setiap muslim. Dia akan menjadi madrasah pertama dalam membangun masyarakat yang saleh, tatkala dia berjalan di atas petunjuk Al-Qur’an dan sunah Nabi.

Karena berpegang dengan keduanya akan menjauhkan setiap muslim dan muslimah dari kesesatan dalam segala hal. Rasulullah bersabda, “Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, di mana kalian tidak akan tersesat selama berpegang dengan keduanya, yaitu Kitab Allah dan sunnahku.” (HR. Imam Malik)

Kajian muslimah PPPA Daarul Qur’an kali ini membahas tentang kedudukan wanita dalam Islam. Kajian dipimpin langsung Ustadzah Maryati, istri Sekretaris Yayasan Daarul Qur’an Nusantara Ustadz Tarmizi As Shidiq pada Jumat (18/10).

Ustadzah Maryati menjelaskan, setidaknya ada empat peran wanita dalam Islam. Pertama, sebagai seorang anak yang salihah. Menurutnya seorang wanita harus tetap berperilaku baik kepada orang tua, menyayangi dan menghormati mereka meski muslimah ini sudah berkeluarga.

“Bersyukur untuk yang orang tuanya masih hidup, kita harus lebih sering silaturahmi menjenguk dan meminta doa mereka. Karena doa baik yang keluar dari orang tua kita insyaAllah dikabulkan olehNya. Jika mereka telah tiada, selipkan selalu nama orang tua kita dalam setiap doa,” ujarnya.

Kemudian yang kedua adalah menjadi istri yang salihah. Ustadzah Maryati menceritakan perjuangan Siti Khadijah Radhiyallahu ‘Anha istri tercinta Rasulullah SAW yang sepanjang hidupnya mengabdi kepada Nabi, menyediakan jiwa raganya, bahkan menghabiskan seluruh hartanya untuk dakwah Nabi.

Allah SWT melalui Malaikat Jibril telah menjanjikan Surga untuk Khadijah. Saat itu Khadijah tengah mengantarkan makanan kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira tempat Rasulullah berkhalwat dengan Tuhannya, mencari kebenaran hakiki di kesunyian gua tersebut.

Malailkat Jibril datang kepada Nabi dan berkata, ”Wahai Rasulullah, Khadijah datang membawa wadah berisi makanan atau minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan salam kepadanya dari Tuhannya dan dari aku. Dan beritahukan kepadanya tentang (balasan) rumah di Surga dari mutiara yang tiada keributan di dalamnya dan tidak ada kepayahan.” (HR. Bukhari)

“Betapa besarnya perjuangan Siti Khadijah sampai ia rela menyedekahkan tulang-tulangnya saat wafat untuk keberlangsungan dakwah Rasulullah SAW. Maka ketika sudah menikah, muslimah wajib taat, mencintai dan menyayangi suaminya sepenuh hati karena Allah SWT,” tuturnya.

Ketiga, sebagai seorang ibu. Ustadzah Maryati mengisahkan Siti Maryam, wanita suci yang mendapat tuduhan dusta dari kaum Bani Israil. Ia dituduh berzina karena mengandung tanpa suami. Padahal Allah SWT telah meniupkan ruh Nabi Isa As ke dalam rahimnya untuk menujukkan kebesaraNnya.

Maryam pun tetap sabar dan tegar menghadapi ujian tersebut karena kecintaannya kepada Allah. Ia bahkan begitu menyayangi Nabi Isa As setelah melahirkannya. “Kita harus menyayangi dan mendidik anak-anak kita dengan baik. Pendidikan yang baik adalah hal paling utama ,” ucapnya.

Keempat, menjadi wanita itu sendiri. Seorang muslimah harus tetap menjadi dirinya sendiri meski ia menjadi seorang anak, istri dan ibu. Ia harus tetap menjaga silaturahmi dalam kehidupan sosial masyarakat serta mengikuti majelis ilmu.

“Hal ini dikarenakan seorang wanita akan menjadi ibu bagi anak-anaknya dan mereka memiliki kewajiban untuk mendidik anaknya kelak. Jangan sampai saat kita sudah menjadi seorang istri dan ibu, kita lupa peran kita sebagai seorang wanita,” ujarnya. (ara/mnx)