Mendesain Kurikulum Isyarat Al-Qur’an Untuk Muslim Tuli

Mendesain Kurikulum Isyarat Al-Qur’an Untuk Muslim Tuli
pppa-daarul-quran
pppa-daarul-quran
pppa-daarul-quran

Yogyakarta, 25 Februari 2024 - PPPA Daarul Qur’an Yogyakarta menginisiasi rapat koordinasi penyusunan kurikulum pembelajaran Al-Qur’an untuk komunitas Muslim Tuli Yogyakarta (MULIA). Rapat ini dihadiri langsung oleh para trainer atau pengajar Al-Qur’an dari PPPA Daarul Qur’an, MULIA, PLD UIN Sunan Kalijaga, dan MPKS Muhammadiyah. Untuk mendukung kelancaran dalam berkoordinasi, juga mengundang Juru Bicara Isyarat (JBI) sebagai perantara komunikasi. 

Rapat koordinasi dimulai dengan pembukaan sekaligus sambutan langsung dari Kepala Perwakilan PPPA Daarul Qur’an Yogyakarta secara daring. Dalam sambutannya, Maulana menjelaskan bahwa adanya kurikulum pembelajaran ini akan menjadi embrio dari lahirnya Gerakan Muslim Tuli Yogyakarta yang tengah menjadi fokus program PPPA Daarul Qur’an saat ini. Mengingat, meskipun isu inklusivitas dan kesetaraan menjadi fokus Pembangunan dalam SDGs 2020, namun belum ada perhatian khusus untuk pembelajaran isyarat Al-Qur’an bagi kaum tunarungu dari pemerintah atau pihak berwenang lainnya. 

Acara selanjutnya yaitu sesi sharing dari MPKS Muhammadiyah mengenai kegiatan bersama kaum disabilitas yang menjadi bagian program kerja mereka. Mereka sangat antusias dengan penyusunan kurikulum untuk pembelajaran isyarat Al-Qur’an ini, dan siap untuk bersinergi dalam program Gerakan Tuli Mengaji ke depannya. 

Akhirnya, sampai pada acara inti dari rapat koordinasi ini yaitu penyusunan kurikulum pembelajaran yang dipimpin oleh Pak Andi, selaku Ketua komunitas MULIA. Ada beberapa kompetensi yang diharapkan dapat dicapai meliputi kompetensi Al-Qur’an yang mencakup kemampuan membaca isyarat Al-Qur’an, menulis huruf arab dan ayat Al-Qur’an, mengetahui makna ayat Al-Qur’an, dan kompetensi bidang fikih ibadah. Kompetensi ini akan dirinci menjadi indikator ketercapaian secara lebih detail sehingga target pembelajaran lebih terukur. Berkaitan dengan hal tersebut, mereka sepakat untuk dilaksanakan asesmen secara berkala, baik kenaikan jilid maupun setiap triwulan. Tahapan pembelajaran juga telah dibahas dalam rapat koordinasi ini. Setiap pertemuan akan dibagi menjadi dua sesi, yaitu pembelajaran isyarat Al-Qur’an dan kajian fikih ibadah. Adapun untuk pembelajaran isyarat Al-Qur’an mengadopsi metode tilawah. Sedangkan dalam kajian fikih, model pembelajaran yang ingin diterapkan yaitu berbasis konstektual. Pembelajaran diharapkan berorientasi pada teori dan praktik, didasarkan pada kebutuhan dan dikaitkan dengan kehidupan nyata. 

Penyusunan kurikulum ini akan menjadi babak baru dalam dunia pembelajaran Al-Qur’an Muslim Tuli di Yogyakarta khususnya. Melalui adanya kurikulum ini, siklus pembelajaran Al-Qur’an akan  lebih terarah dan terukur. Tentu, tidak hanya dari segi tahapan pembelajaran, melainkan juga perkembangan kompetensi santri. Karena sebagaimana pembelajaran Al-Qur’an pada umumnya, output yang diharapkan dari seluruh rangkaian pembelajaran adalah tercapainya kompetensi Al-Qur’an santri yang menjadi cikal bakal dalam mencetak trainer atau pengajar yang berkompeten.