Menghafal Qur'an dalam Keterbatasan

Menghafal Qur'an dalam Keterbatasan
pppa-daarul-quran
pppa-daarul-quran
pppa-daarul-quran

Sa'adah (48) adalah seorang wanita tunanetra yang kuat. Kekurangan fisik yang dimilikinya, tak menyurutkan Sa’adah untuk menghafal Alqur’an. Kini hafalannya sudah 5 juz. Setiap Rabu, ia membacakan hafalannya di Rumah Tahfizh Nurul Qolbi 2 Tajur, Bogor.

Bu Adah sapaan akrabnya, tak pernah mengeluh menjalani kehidupan. Suaminya hanya pengrajin anyaman bambu yang di zaman milenial ini sudah tak lagi selaris dulu. Ibu dua anak itu ikhlas menerima apapun yang Allah berikan kepadanya.

“Bu Adah harus menempuh perjalanan jauh dari Parung Kuda (Sukabumi) untuk menghafal Alqur’an di Nurul Qolbi. Subhannallah,” ujar Kepala Cabang PPPA Daarul Qur’an Bogor, Diki Alaudin. 

Semangat Bu Adah begitu kuat untuk belajar dan menghafal Alqur’an meskipun dalam keterbatasan. Bersama puluhan penyandang tunanetra lainnya dari berbagai wilayah di Bogor, Depok, Jakarta dan Sukabumi, mereka rutin berkumpul dan mengaji di Rumah Tahfizh Nurul Qolbi 2.

Sudah enam tahun Rumah Tahfizh Nurul Qolbi 2 berdiri dengan fasilitas seadanya. Saat ini, sudah 36 santri tunanetra yang belajar dan menghafal di sana. Kapasitas rumah tahfizh yang hanya rumah petakan memang sudah tak bisa menampung para santri.

“Karena itu PPPA Daarul Qur’an mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk memberikan ruang kelas yang layak untuk santri-santri tunanetra ini punya ruang kelas yang layak dengan klik sedekahonline.com,” ucap Diki.