Siang Hari yang Tak Biasa Bagi Lastri

Senin (21/11/2022) siang, Lastri sedang berkumpul bersama keluarganya di Desa Sukamanah, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Saat itu, ia sedang bersama ibu dan anak-anaknya. Ia masih belum mengetahui akan sebuah bencana yang sedang mengintainya.

Siang Hari yang Tak Biasa Bagi Lastri
Beasiswa PPPA Daarul Qur'an
Beasiswa PPPA Daarul Qur'an
Beasiswa PPPA Daarul Qur'an

Senin (21/11/2022) siang, Lastri sedang berkumpul bersama keluarganya di Desa Sukamanah, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Saat itu, ia sedang bersama ibu dan anak-anaknya.

Tidak ada yang berbeda dengan suasana pada siang hari itu. Mereka bercengkerama seperti biasa sambil sesekali mengunyah makanan ringan.

Selepas Dzuhur, ia masih belum mengetahui akan sebuah bencana yang sedang mengintainya. Tak lama kemudian, ia merasa pusing namun belum tahu penyebabnya. Baru beberapa detik setelah itu, dirinya baru sadar bahwa sedang terjadi gempa bumi.

"Lagi di rumah mamah, lagi ngumpul sama keluarga, tiba-tiba ada gempa," ujar wanita 31 tahun tersebut.

Hal pertama yang Lastri lakukan adalah menyelamatkan diri. Ia pergi keluar dari rumah menuju halaman. Saking kuatnya guncangan tersebut, larinya sampai tak beraturan.

"Lari-lari ke jalan, cari tempat yang terbuka di depan rumah, guncangannya keras banget," tuturnya.

Wanita dua anak tersebut kemudian ingat kedua buah hatinya yang sejak tadi belum terlihat. Ternyata, anak-anaknya sedang tertidur di kamar. Namun beruntung, pamannya telah membawa kedua anak tersebut keluar rumah.

Ia masih terombang-ambing guncangan gempa bumi selama beberapa menit. Di dalam benaknya masih bertanya-tanya, apakah ini kenyataan?

"Sekitar 5 menit, rasanya kayak mimpi, apa beneran apa enggak, pusing, kaget, gemeteran," jelasnya mengingat saat-saat mencekam tersebut.

Kebingungannya semakin menjadi ketika melihat bangunan rumah tetangganya roboh. Puing-puing bangunan runtuh dan atap rumah berjatuhan.

Kondisi itu tidak lebih baik dari rumahnya. Ia menyaksikan sendiri detik-detik rumahnya ambruk. "Rumah atapnya pada roboh, dinding pada retak, kalau tetangga banyak yang rusak, ada satu saudara yang rumahnya ambruk semua," kenangnya.

Lastri masih belum percaya bahwa desanya diguncang gempa dahsyat. Sebab selama ini ia hanya menyaksikan berita gempa bumi dari televisi atau media sosial.

Ia memang pernah merasakan gempa bumi dengan intensitas yang kecil sebelumnya. Namun, guncangan magnitudo 5,6 itu merupakan gempa bumi terbesar yang pernah ia rasakan.

"Nggak ngira, suka lihat gempa di tv, ternyata ada di sini juga, nggak nyangka bakalan hancur, biasanya suka ada tapi kecil-kecil," kata Lastri.

Keesokan harinya, Lastri pun bergabung dengan posko bencana PPPA Daarul Qur'an di Desa Cijedil, Kecamatan Cugenang. Lokasi posko tak begitu jauh dari rumahnya, meski begitu ia belum berani masuk ke dalam rumah karena masih takut terjadi gempa susulan.

Mengingat, masih terjadi beberapa gempa susulan sejak Senin siang. Dalam sehari, gempa susulan bisa terjadi sebanyak lima sampai 10 kali dari siang sampai malam.

Ia berharap dapat kembali ke rumah dengan aman. Untuk sementara waktu, ia tinggal di posko bencana PPPA Daarul Qur'an bersama suami dan kedua anaknya. []