Saat Sumur Mengering, Setetes Air Menjadi Harapan: Laznas PPPA Daarul Qur’an Salurkan 13.000 Liter Air Bersih untuk Warga Cariu
Musim kemarau tak hanya membuat tanah retak dan sawah mengering. Di sejumlah kampung di Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor, kemarau juga memaksa warga menjalani hari-hari tanpa kepastian air bersih. Untuk memasak, mandi, hingga sekadar meneguk segelas air, sebagian warga harus berjalan jauh atau mengeluarkan biaya lebih demi mendapatkan air yang layak digunakan.
Melihat kondisi tersebut, Laznas PPPA Daarul Qur’an melalui tim Siaga Bencana (SIGAB) kembali hadir membawa harapan. Pada 31 Juli dan 3 Agustus 2026, sebanyak 13.000 liter air bersih disalurkan kepada ratusan warga yang terdampak kekeringan.
Sejak pagi, warga telah berkumpul di titik distribusi sambil membawa jeriken, ember, hingga drum penampung air. Mereka mengantre dengan sabar menunggu truk tangki tiba. Bagi sebagian orang, air mungkin mudah didapat. Namun bagi warga Cariu, setiap tetes air yang mengalir hari itu adalah anugerah yang sangat dinantikan.
Bantuan tersebut menjangkau empat kampung yang mengalami dampak kekeringan cukup parah, yakni Kampung Tegalsalam dengan 40 kepala keluarga, Kampung Cibarengkok sebanyak 50 kepala keluarga, Kampung Babakan Maad sebanyak 50 kepala keluarga, serta Kampung Babakan Cangkudu yang dihuni 70 kepala keluarga.
Koordinator SIGAB Laznas PPPA Daarul Qur’an, Sunaryo, mengatakan bahwa bantuan ini merupakan bentuk kepedulian kepada masyarakat yang tengah berjuang memenuhi kebutuhan paling mendasar.
“Air adalah kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Alhamdulillah, melalui amanah para donatur, kami kembali dapat menyalurkan 13.000 liter air bersih untuk warga di Cariu. Semoga bantuan ini dapat meringankan beban mereka dan menjadi penguat bahwa mereka tidak menghadapi musibah ini sendirian,” ujarnya.
Sunaryo menambahkan, Laznas PPPA Daarul Qur’an akan terus memantau perkembangan kondisi kekeringan di berbagai wilayah dan berupaya menghadirkan bantuan air bersih ke daerah-daerah lain yang masih mengalami kesulitan serupa.
Di tengah musim kemarau yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir, bantuan air bersih bukan sekadar memenuhi kebutuhan minum, memasak, dan sanitasi. Lebih dari itu, bantuan ini menjadi pengingat bahwa kepedulian masih terus mengalir. Bahwa di saat sumur-sumur mulai mengering, masih ada banyak hati yang memilih menjadi mata air bagi sesama. (ARA)


