Kemarau Belum Usai, Ribuan Warga Gunung Kidul Masih Menanti Datangnya Air Bersih

Kemarau Belum Usai, Ribuan Warga Gunung Kidul Masih Menanti Datangnya Air Bersih
vickypedulidisabilitas
vickypedulidisabilitas
vickypedulidisabilitas

Gunung Kidul kembali menghadapi musim kemarau yang membawa kecemasan bagi ribuan keluarga. Di balik perbukitan karst yang tampak kokoh, ribuan warga harus berjuang setiap hari demi mendapatkan air bersih untuk kebutuhan paling mendasar. Bagi mereka, air bukan lagi sekadar kebutuhan, melainkan penentu keberlangsungan hidup.

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul telah menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan melalui Keputusan Bupati Gunungkidul Nomor 154/KPTS/2026 yang berlaku sejak 1 Juni hingga 31 Agustus 2026. Penetapan status siaga ini menjadi bukti bahwa ancaman kekeringan tahun ini membutuhkan perhatian dan gotong royong dari berbagai pihak.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat sedikitnya 114.528 jiwa di 60 kalurahan yang tersebar di 16 kapanewon berpotensi terdampak kekeringan. Dari jumlah tersebut, 29.928 jiwa telah mengajukan permohonan distribusi air bersih sebagai upaya memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Kondisi ini diperparah oleh karakteristik alam Gunung Kidul yang didominasi kawasan karst. Air hujan yang turun tidak bertahan di permukaan, melainkan langsung meresap melalui celah-celah batu kapur menuju sungai bawah tanah yang sulit dijangkau. Saat musim kemarau datang, permukaan tanah berubah sangat kering dan sumber-sumber air semakin sulit ditemukan.

Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering dibanding kondisi normal akibat pengaruh fenomena El Niño. Memasuki bulan Agustus, kebutuhan air bersih masyarakat terus meningkat, sementara pasokan air justru semakin terbatas.

Di sejumlah wilayah seperti Kapanewon Saptosari dan Tanjungsari, warga harus bertahan dengan aliran PAM yang hanya mengalir sekitar satu kali dalam sepekan. Penampungan air hujan yang biasanya menjadi cadangan pun telah lama mengering. Tak sedikit keluarga yang kini menggantungkan hidup pada air yang dibeli dari mobil tangki.

Satu tangki air berkapasitas 5.000 hingga 7.000 liter dijual sekitar Rp150.000 dan umumnya hanya mampu memenuhi kebutuhan keluarga selama 10 hingga 14 hari. Air tersebut digunakan untuk memasak, mandi, mencuci, hingga kebutuhan hewan ternak yang menjadi aset utama warga. Bahkan, sebagian masyarakat terpaksa menjual aset pribadi demi memperoleh air bersih.

Krisis ini juga menghantam sektor pertanian. Tanaman di lahan-lahan perbukitan karst mengering hingga mati total. Pendapatan petani menurun drastis, sementara kebutuhan membeli air terus bertambah. Kekeringan yang terjadi bukan hanya menghadirkan krisis air, tetapi juga perlahan menggerus ketahanan ekonomi masyarakat.

Hingga awal Agustus 2026, distribusi air bersih terus dilakukan di sejumlah wilayah terdampak. Di Kapanewon Purwosari telah tersalurkan 138 tangki atau 690.000 liter air bersih. Rongkop menerima 124 tangki atau 620.000 liter, Tepus sebanyak 100 tangki atau 500.000 liter, disusul Panggang, Gedangsari, Tanjungsari, Wonosari, dan Saptosari yang juga terus mendapatkan bantuan sesuai kebutuhan di lapangan.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat terdampak, LAZNAS PPPA Daarul Qur’an Yogyakarta melalui Aksi Siaga Kebencanaan (SIGAB) menurunkan aksi perdana pada 2–3 Agustus 2026. Sebanyak 12 tangki atau 72.000 liter air bersih disalurkan ke 12 titik, meliputi Dusun Dondong, Dusun Klepu, dan Dusun Jrakah. Bantuan tersebut menjangkau ratusan kepala keluarga serta satu Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) yang turut mengalami kesulitan memperoleh air bersih.

Direktur Program LAZNAS PPPA Daarul Qur’an, Zainal Umuri, mengatakan bahwa setiap tetes air yang sampai kepada masyarakat bukan hanya memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menghidupkan kembali harapan mereka di tengah musim kemarau yang berkepanjangan.

“Kami percaya, kepedulian adalah sumber mata air yang tidak pernah kering. Ketika masyarakat saling membantu, tidak ada keluarga yang merasa sendirian menghadapi musim kemarau. Semoga setiap sedekah air yang diberikan menjadi amal jariyah yang terus mengalir sebagaimana manfaatnya yang menghidupkan banyak jiwa,” ujar Zainal Umuri.

Di tengah kemarau yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir, perjuangan warga Gunung Kidul masih terus berlangsung. Mobil tangki air yang datang bukan sekadar membawa pasokan air bersih, tetapi juga membawa harapan bagi keluarga-keluarga yang setiap hari bertahan di tengah keterbatasan. Melalui kepedulian dan Sedekah Air Bersih, masyarakat Indonesia dapat menjadi bagian dari ikhtiar bersama agar tidak ada lagi warga yang harus memilih antara menjual aset terakhirnya atau memenuhi kebutuhan air bagi keluarganya. (ARA)