Air Bersih, Ancaman Serius untuk Warga Gunung Kidul
Kekeringan menjadi bencana tahunan yang melanda salah satu wilayah di DI. Yogyakarta, yakni Gunung Kidul. Sebagian wilayah terdampak kekeringan ekstrim tahun ini. Beberapa diantaranya Kecamatan Saptosari dan Tanjung Sari, khususnya 2 dusun di Desa Hargosari dengan lokasi paling tinggi, yaitu Klepu dan Jrakah. Namun, kekeringan tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya, terasa lebih ekstrim karena bersamaan dengan kendala aliran air PAM yang tersendat, terutama di beberapa wilayah yang terhitung sangat kritis. Air PAM hanya mengalir satu pekan sekali, itu pun hanya dalam rentang beberapa waktu saja.
Dari pukul 5 sore hingga 6 pagi. Selebihnya, mereka harus membeli air bersih dengan harga 1 tangki yang berisi 5000 - 7000 liter seharga 150 ribu rupiah. Ketersediaan air tersebut hanya untuk bertahan dalam rentang waktu rerata 10 hingga 14 hari, menyesuaikan dengan jumlah anggota keluarga setiap KK. Pasalnya, kebutuhan air tersebut tidak hanya untuk anggota keluarga saja, melainkan juga hewan peliharaan yang menjadi aset berwujud sekaligus bagian dari pekerjaan warga.
Kondisi ini semakin pelik ketika mata pencahariaan masyarakat Gunung Kidul, mayoritas sebagai petani, ikut terancam. Tidak ada tanaman yang bisa bertahan. Terlebih, Gunung Kidul merupakan kawasan perbukitan kapur (karst) membuat musim kemarau yang baru berlangsung 2 bulan ini semakin cepat kering. Pasokan air dari wadah penampungan hujan kian menipis bahkan sudah ikut mengering. Pada akhirnya, untuk bisa memenuhi ketersediaan air bersih yang menjadi kebutuhan pokok tersebut, masyarakat seringkali harus menjual segala jenis aset yang dimiliki untuk membeli air bersih yang hanya bertahan 2 pekan tersebut.
Problematika kekeringan di Gunung Kidul ternyata tidak hanya pada ketiadaan air bersih di rumah-rumah warga dan kondisi ekonomi yang turut terancam, melainkan juga keterbatasan pasokan air bersih dari sumber mata air. Di tengah permintaan yang tinggi, para penjual air bersih juga beradu kompetisi untuk mendapatkan pasokan air bersih yang terbatas. Ketersediaan air tidak bisa dipastikan dan berpotensi habis dalam waktu yang tidak dapat ditentukan. Pada akhirnya, Kebutuhan air bersih tidak mampu diselesaikan dengan membeli pada penjual air bersih.
Permasalahan ini menjadi semakin kompleks. Kekeringan yang rutin berlangsung dari bulan Juni hingga November sepanjang tahun ini tak kunjung menemukan solusi alternatif dari pemerintah sebagai pihak yang berwenang. Terlebih, berbagai pihak juga belum banyak yang hadir untuk mengulurkan bantuan air bersih. Masyarakat pada akhirnya berupaya masing-masing, menguatkan sesama, untuk bisa bertahan hidup di tengah krisis air bersih yang semakin kritis.
LAZNAS PPPA Daarul Qur’an Yogyakarta sebagai lembaga amil zakat, bergerak dalam aksi siaga kebencanaan (SIGAB) di garda terdepan dalam bencana kekeringan di Gunung Kidul tahun ini. Penyaluran air bersih perdana telah dilakukan di beberapa wilayah dengan tingkat kekeringan relatif ekstrim pada 2 - 3 Agustus 2026 lalu. Total ada 12 tangki air bersih dengan kapasitas 5000 hingga 7000 liter yang disalurkan ke 12 titik di lingkup wilayah Saptosari dan Tanjung Sari. Tepatnya, di Desa Jetis dan Hargosari yang berfokus di beberapa dusun, yakni Dondong, Klepu dan Jrakah. Di Dusun Dondong, penyaluran diprioritaskan pada beberapa Rukun Tetangga (RT) dengan total 84 KK dan 1 titik di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA). Adapun di Dusun Klepu dan Jrakah, masing-masing terdiri atas 140 dan 50 KK.
Bantuan air bersih menjadi hal yang paling dinanti oleh masyarakat Gunung Kidul, di tengah kondisi yang pelik hari ini. Uluran tangan dan perhatian dari berbagai pihak sangat dibutuhkan, sehingga mereka bisa terus bertahan hidup. Kini, saatnya sesama warga saling membantu dan menguatkan melalui dukungan dalam bentuk sedekah air bersih untuk keberlangsung hidup warga Gunung Kidul. Karena setiap liter air bersih yang diberikan, sangat berarti bagi mereka.
Oleh : Tim Laznas PPPA Daarul Qur'an Yogyakarta


