Rumah Tahfidz Bangunjiwo Kembali Lanjutkan Pembangunan

Rumah Tahfidz Bangunjiwo Kembali Lanjutkan Pembangunan
pppa-daarul-quran
pppa-daarul-quran
pppa-daarul-quran

Berada di Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Yogyakarta, Ustadz Ahmad Farokhah menancapkan nadi perjuangannya. Sejak tahun 2004 Ustadz Aan panggilan akrabnya, sudah  mendirikan Taman Pendidikan Al-Quran Bangunjiwo. Santrinya terus bertambah dari penduduk desa dan tetangga desa.

Bahkan, ia juga diberikan kepercayaan oleh seorang warga untuk mengelola wakaf sebidang tanah seluas 300 meter, kini tanah itu telah terbangun menjadi bangunan rumah tahfidz yang awalnya pembelajaran hanya dilakukan di rumah ustadz Aan dan di masjid.

Tepat di tahun 2018, Ustadz Aan mulai membangun sebidang tanah wakaf tersebut menjadi  ruang kelas untuk belajar santri. Namun, proses pembangunan beberapa kali terhenti lantaran terkendala biaya. Pembangunan kelas yang bermodalkan gotong royong dan sedekah dari orang tua santri belum mampu untuk menyelesaikan pembangunan kelas dua lantai tersebut.

Santri yang kini berjumlah 150 orang diprediksi akan terus bertambah, karena selain santrinya dari semua golongan usia, anak-anak, remaja, orang tua, juga karena kegiatan rutinitas rumah tahfidz yang terus berjalan dari pagi sampai malam. “Rumah tahfidz ini sudah seperti pondok, cuma ndak nginep aja,” ujar Ustadz Aan sambil tertawa.

Alhamdulillah, pada Jum’at (16/10) PPPA Daarul Qur’an Yogyakarta berkesempatan untuk bersilaturahmi dan menyalurkan kembali sedekah untuk pembangunan Rumah Tahfidz Bangunjiwo. Alhamdulillah hasil dari sedekah di platform Sedekahonline.com akan digunakan untuk melengkapi bangunan ruang kelas dengan dibelikan material berupa cat tembok, plafon atap, kemudian membuat pembatas-pembatas kelas.

“InsyaAllah, sedekah ini akan dimanfaatkan untuk plafon atap biar ndak panas kelasnya,” tutur Ustadz Aan.

Selama 16 tahun berkhidmat mengajarkan Al-Qur’an, Ustadz Aan memiliki harapan untuk menjadikan daerahnya menjadi komplek santri dan pusat pendidikan tanpa tercerabut dari akar sosialnya. Itulah salah satu alasan mengapa Ustadz Aan tidak mengadakan asrama untuk santri mukim.

“Saya membayangkan jika satu kecamatan ngaji di sini, kurang lebih 1.000 orang saya pernah hitung, orang tua dan anaknya sama-sama ngaji dan ngajar, anaknya ngaji juga di sini, maka rumahnya akan otomatis menjadi pondok,” harap Ustadz Aan.

Alhamdulillah, berkat sedekah dari para donatur, jama’ah, dan handai taulan bangunan Rumah Tahfidz Bangunjiwo kini dapat diwujudkan menjadi ruang kelas yang representatif dan cukup untuk menampung lebih dari 150 santri. “Terima kasih untuk para dermawan yang telah membersamai  PPPA Daarul Qur’an dalam mengembangkan dakwah Al-Qur'an,” ungkap Kepala Cabang PPPA Daarul Quran Yogyakarta, Maulana Kurnia Putra. []