Dalam Dekapan Mama di Flores

Dalam Dekapan Mama di Flores
vickypedulidisabilitas
vickypedulidisabilitas
vickypedulidisabilitas

Aroma tanah kering dan sisa debu reruntuhan masih pekat terbawa angin perbukitan Elar, Manggarai Timur. Di bawah naungan beratap dedaunan dan terpal tipis, Nur Laili duduk beralaskan dipan bambu dengan tatapan tenang yang menyembunyikan getar trauma mendalam. Lengannya melingkar kukuh di pundak sang buah hati, menahan dunia kecil mereka agar tidak ikut runtuh bersama tanah yang berguncang tak henti hampir satu bulan terakhir.

Sepiring nasi putih dengan sedikit lauk potongan lauk di piring seng motif kembang menjadi tumpuan harapan hari hari. Dengan penuh ketelatenan, tangan Nur Laili perlahan mengarahkan sendok menuju bibir mungil putrinya, memastikan setiap suapan masuk sempurna demi menyambung tenaga sang anak. Di tengah keterbatasan pos pengungsian Siaga Bencana (SIGAB) PPPA Daarul Qur’an, peran seorang ibu tetap berjalan melampaui rasa takut yang mengintai di balik tanah bukit.

Gadis kecil berkaus kuning itu bernama Keiylah Kurniawan. Keiylah menyambut suapan ibunya dengan tatapan mata bulat polos. Di mata bening Keiylah, tak ada hitungan seismograf maupun sirene bahaya, hanya kepastian hangat bahwa pelukan sang mama belum bergeser sedikit pun sejak guncangan pertama menghempas tempat tinggal mereka.

Kenyamanan sederhana yang dirajut Nur Laili dan Keiylah terasa kontras dengan bentang alam Flores yang masih bergolak. Mengacu pada data pemutakhiran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), rentetan getaran belum sepenuhnya mereda di kawasan ini. Lebih dari 14.000 gempa susulan tercatat terus terjadi pascagempa utama di pertengahan Agustus 2026 lalu, membuat getaran-getaran kecil sewaktu-waktu masih mengejutkan warga yang berusaha bertahan di tempat terbuka.

Dampak fisik bencana itu terpampang nyata di perkampungan sekitar tempat mereka bernaung. BNPB melaporkan ribuan bangunan roboh dan mengalami kerusakan, mulai dari dinding retak berat hingga atap yang luluh lantak rata dengan tanah. Struktur rumah warga yang selama ini menjadi tempat bernaung kini berubah menjadi jebakan puing berbahaya, memaksa keluarga-keluarga mengungsi ke halaman dan kebun terbuka.

Bagi Nur Laili, deretan angka dan statistik kerusakan dari lembar laporan itu menjelma menjadi kenyataan pahit bahwa rumah tempat membesarkan Keiylah kini kehilangan dinding pelindung. Bangunan tempat meletakkan kasur dan mainan telah roboh dan tak aman lagi dimasuki. Yang tersisa hanyalah pakaian di badan, piring seng di genggaman, dan tanah lapang di balik rimbun pepohonan.

Meskipun tanah sesekali masih bergetar di bawah telapak kaki, Nur Laili menolak memperlihatkan kepanikan di hadapan Keiylah. Setiap kali suara gemuruh samar terdengar dari perut bumi, dekapan tangannya ke pundak Keiylah justru semakin merapat, menjadi bantalan lembut yang meredam kengerian alam. Ketenangan seorang mama menjadi satu-satunya pelindung psikologis bagi Keiylah di tengah situasi serba darurat.

Di dapur umum dan pos hangat SIGAB PPPA Daarul Qur’an, dimana harapan terus diikhtiarkan dan dukungan dialirkan, ketika sendok kembali terangkat dan piring seng mulai tandas, Keiylah mengunyah pelan tanpa keluhan di samping ibunya. Pemandangan di sudut darurat ini menjadi potret ketangguhan paling murni dari pelosok Nusa Tenggara Timur, tempat harapan hidup terus dirawat dengan sabar di atas puing-puing bencana.

Di tanah Flores yang tengah berduka dan menata kembali retakan-retakannya, dinding beton dan tiang rumah boleh saja roboh diterpa gempa. Namun, di bawah langit perbukitan NTT, cinta seorang mama seperti Nur Laili terbukti menjadi tempat berteduh yang paling kokoh dan tak pernah runtuh bagi masa depan Keiylah Kurniawan, begitu juga untuk para mama dan anak-anak Flores lainnya. Klik di sini untuk memberikan kepedulian pada penyintas gempa NTT

Salam dari Elar, Manggarai Timur, NTT
Jumat, 11 September 2026

Maulana Kurnia Putra, S.Sos., M.A.
Manajer Program LAZNAS PPPA Daarul Qur’an