Bukan Sekadar Belajar, Tetapi Menjaga Kalamullah Tetap Terbuka Setiap Hari

Bukan Sekadar Belajar, Tetapi Menjaga Kalamullah Tetap Terbuka Setiap Hari
vickypedulidisabilitas
vickypedulidisabilitas
vickypedulidisabilitas

Ada satu pemandangan yang membuat saya terdiam cukup lama.

Mereka duduk, membuka Al-Qur’an, lalu mencoba membaca satu demi satu huruf yang mungkin bagi sebagian kita terasa begitu mudah.

Baru sampai huruf “dza”, tangan saya sudah mulai terasa pegal.

Saya kemudian berpikir, betapa seringnya kita merasa berat membuka Al-Qur’an, padahal tidak ada yang menghalangi tangan kita untuk membukanya.

Mereka mungkin memiliki keterbatasan. Sebagian besar menjalani keseharian dengan bekerja sebagai pengemudi ojek, mencari nafkah, mengurus kehidupan, dan menghadapi tantangan yang tidak selalu kita lihat. Tetapi di sela semua itu, mereka memilih meluangkan waktu untuk duduk, membuka Al-Qur’an, dan belajar.

Bagi saya, ini bukan semata-mata tentang belajar membaca Al-Qur’an.

Lebih dari itu, ini tentang bagaimana seseorang berusaha agar Kalamullah tetap terbuka dalam kehidupannya setiap hari.

Sebab Al-Qur’an bukan hanya sesuatu yang kita pelajari sampai bisa. Ia adalah firman Allah yang semestinya menemani perjalanan hidup kita. Dibuka ketika hati membutuhkan arah, dibaca ketika jiwa membutuhkan ketenangan, dan direnungkan ketika hidup terasa begitu penuh dengan persoalan.

Kadang kita terlalu sibuk mengejar banyak hal sampai lupa bahwa ada satu hal yang sebenarnya tidak boleh kehilangan tempat dalam keseharian kita: bertemu dengan Kalamullah.

Mereka mengajarkan saya bahwa mendekat kepada Al-Qur’an tidak harus menunggu kita sempurna. Tidak harus menunggu bacaan kita lancar. Tidak harus menunggu punya banyak waktu.

Cukup mulai. Cukup buka. Cukup luangkan beberapa menit untuk kembali bertemu dengan firman-Nya.

Karena mungkin, yang kita butuhkan bukan lebih banyak waktu untuk membaca Al-Qur’an. Tetapi hati yang kembali menyadari bahwa Al-Qur’an memang seharusnya hadir setiap hari dalam hidup kita.

Di sinilah Rumah Qur’an Inklusif yang didirikan Laznas PPPA Daarul Qur’an menjadi sebuah ikhtiar penting. Bukan hanya menghadirkan tempat untuk belajar mengaji bagi sahabat disabilitas, tetapi juga membuka akses agar mereka dapat memiliki ruang untuk terus berinteraksi, mencintai, dan menjadikan Al-Qur’an bagian dari keseharian mereka.

Rumah ini seolah ingin mengatakan kepada kita: tidak boleh ada siapa pun yang merasa terlalu jauh untuk mendekat kepada Kalamullah.

Dan hari itu, mungkin bukan mereka yang sedang belajar dari Al-Qur’an. Justru saya yang sedang belajar dari mereka.

Belajar bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti. Belajar bahwa satu huruf pun layak diperjuangkan. Dan yang paling dalam, belajar bahwa seberat apa pun kehidupan, jangan sampai membuat kita menutup Al-Qur’an.

Sebab selama Kalamullah masih kita buka, selalu ada jalan bagi hati untuk kembali kepada-Nya. MasyaAllah Tabarakallah! Klik di sini untuk bersama hadirkan Rumah Belajar Qur'an untuk sahabat disabilitas.

Kamis, 10 September 2026
Jagakarsa, Jakarta Selatan

Alfani Roosy Andinni, S.Kom.I
Manajer Media Komunikasi LAZNAS PPPA Daarul Qur’an