Contoh Ceramah Singkat Ramadan

Segala puji bagi Allah swt., Tuhan semesta alam. Tuhan yang telah memberikan kita nikmat iman, Islam, dan ihsan. Tak lupa pula kita curahkan selawat serta salam kepada junjungan kita semua, Nabi Muhammad saw. Semoga kita menjadi umat-umatnya yang kelak diberikan ampunan oleh Allah swt.

Contoh Ceramah Singkat Ramadan
hari-santri-daarul-quran
hari-santri-daarul-quran

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ؛

Segala puji bagi Allah swt., Tuhan semesta alam. Tuhan yang telah memberikan kita nikmat iman, Islam, dan ihsan. Tak lupa pula kita curahkan selawat serta salam kepada junjungan kita semua, Nabi Muhammad saw. Semoga kita menjadi umat-umatnya yang kelak diberikan ampunan oleh Allah swt.

Hadirin yang berbahagia!

Ramadan adalah salah satu bulan mulia dan istimewa dalam Islam. Pada bulan ini, Allah swt. menurunkan al-Qur’an untuk pertama kalinya kepada Nabi Muhammad saw. melalui malaikat Jibril. Kitab suci ini dibaca setiap saat oleh umat Islam. Kitab suci ini paling banyak dihafal di muka bumi ini. 

Pada prosesnya, Allah swt. menurunkan al-Qur’an sampai kepada Nabi Muhammad saw., setidaknya, melalui dua tahapan besar. Kita sebagai umat Islam seyogyanya mengetahui kedua tahap penurunan al-Qur’an tersebut. Hal ini telah dijelaskan oleh banyak ulama Islam.

Hadirin yang berbahagia!

Mungkin, sebagian dari kita akan bertanya satu hal: bagaimana caranya ulama mengetahui proses penurunan al-Qur’an tersebut? Apakah ada ayat al-Qur’an atau hadis Nabi Muhammad saw. yang menginformasikan hal tersebut? Jawabannya, proses penurunan al-Qur’an tersebut termaktub dalam ayat-ayat al-Qur’an.

Dalam QS. Al-Qadr/97: 1, Allah swt. berfirman:

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam qadar.”

Kemudian, Allah swt. berfirman dalam QS. Al-Dukhan/44: 3.:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.”

Kedua ayat ini setidaknya dapat menjelaskan proses penurunan al-Qur’an tahap pertama. Berdasarkan kedua ayat tersebut, kita mengetahui bahwa al-Qur’an diturunkan pada malam Qadar atau malam kemuliaan. Al-Qur’an juga diturunkan pada malam yang diberkahi oleh allah swt. 

Ada satu kesamaan dari dua ayat di atas, yakni keduanya sama-sama menggunakan redaksi kata anzala (انزل) untuk menunjukkan proses penurunan al-Qur’an. Menurut sebagian ulama, kata anzala (انزل) ini berarti penurunan al-Qur’an yang dilakukan secara sekaligus. Jadi, seluruh ayat-ayat al-Qur’an diturunkan secara utuh, mulai dari QS. al-Fathihah/1 hingga QS. al-Nas/114. 

Pada proses penurunan ini, menurut sebagian ulama, al-Qur’an diturunkan secara sekaligus dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah (Langit Dunia). Namun, tak ada yang tahu bagaimana bentuk al-Qur’an dalam proses penurunan ini: apakah berbentuk bunyi, tulisan, atau ada bentuk lain? Para ulama mengembalikan persoalan ini kepada Allah swt. sebab tidak ada dalil yang jelas mengenai ini.

Hadirin yang berbahagia!

Kemudian, Allah swt. berfirman dalam QS. Al-Isra’/17: 106.: 

وَقُرْاٰنًا فَرَقْنٰهُ لِتَقْرَاَه عَلَى النَّاسِ عَلٰى مُكْثٍ وَّنَزَّلْنٰهُ تَنْزِيْلًا

Artinya: “Dan Al-Qur'an (Kami turunkan) berangsur-angsur agar engkau (Muhammad) membacakannya kepada manusia perlahan-lahan dan Kami menurunkannya secara bertahap.”

Berbeda dengan penjelasan sebelumnya, ayat ini menjelaskan bahwa al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur. Ada satu perbedaan antara ayat ini dengan dua ayat sebelumnya. Jika ayat sebelumnya menggunakan kata anzala (انزل) untuk menjelaskan proses penurunan al-Qur’an, maka dalam ayat ini Allah swt. menggunakan kata nazzala (نزّل) untuk menjelaskan proses penurunan al-Qur’an.

Menurut sebagian ulama, ada perbedaan yang cukup mencolok antara kata anzala (انزل) dan nazzala (نزّل). Jika anzala (انزل) berarti penurunan al-Qur’an yang dilakukan sekaligus, maka nazzala (نزّل) berarti penurunan al-Qur’an secara berangsur-angsur. Inilah proses penurunan al-Qur’an tahap kedua. 

Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad saw. selama sekitar 23 tahun, baik di pada periode Mekah maupun periode Madinah. Adapun ayat yang pertama kali diturunkan Allah swt. kepada Nabi Muhammad saw., menurut mayoritas ulama, adalah QS. Al-‘Alaq/96. Sekali lagi, proses penurunan al-Qur’an tahap kedua inilah yang kita pahami sebagai Nuzulul Qur’an.

Hadirin yang berbahagia!

Setelah kita mengetaui proses penurunan al-Qur’an, lalu hikmah apa yang bisa kita ambil? Sebenarnya banyak hikmah yang bisa kita ambil dari kebesaran Allah swt. ini. 

Namun, setidaknya, ada satu hikmah yang cukup penting untuk kita renungkan dan amalkan. Karena Ramadan adalah malam diturunkannya al-Qur’an, maka meningkatkan intensitas interaksi dengan al-Qur’an adalah hal yang perlu dilakukan. Interaksi ini bisa dalam berbagai bentuk, bisa dengan membaca, menghafal, bahkan mentadaburi al-Qur’an.

Pada bulan Ramadan ini seyogyanya umat Islam lebih fokus pada al-Qur’an. Ini juga dianjurkan oleh para ulama. Menurut para ulama, setidaknya umat Islam mesti mengkhatamkan al-Qur’an satu kali selama Ramadan. Semoga dengan kemuliaan al-Qur’an kita mendapatkan keridaan Allah swt.

Wallahu a’lam.

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ