Dari Hafalan Menjadi Pengabdian: Tiga Tahun yang Kini Menyalakan Cahaya Al-Qur’an

Dari Hafalan Menjadi Pengabdian: Tiga Tahun yang Kini Menyalakan Cahaya Al-Qur’an
vickypedulidisabilitas
vickypedulidisabilitas
vickypedulidisabilitas

Tiga tahun bukan waktu yang singkat. Ada ayat yang diulang berkali-kali, malam-malam yang ditemani murojaah, dan lelah yang harus dikalahkan demi menjaga kalam Allah di dalam dada. Kini, perjalanan itu memasuki babak baru: pengabdian.

Sebanyak 36 santri dari Pesantren Takhassus, Pesantren Daqu Cariu, dan Pesantren Reguler mengikuti pembekalan pengabdian secara hybrid pada 12–13 Agustus 2026. Mereka dipersiapkan untuk mengabdikan ilmu dan hafalannya di unit-unit Daarul Qur’an.

Program Takhassus merupakan program beasiswa pesantren Laznas PPPA Daarul Qur’an yang selama tiga tahun mendukung para santri penghafal Al-Qur’an untuk belajar, bertumbuh, dan dipersiapkan menjadi guru pengabdian.

Di antara mereka ada Twisty Calista Islami, santri Takhassus Wanayasa yang telah menyelesaikan tasmih 30 juz bil ghaib dan meraih Juara 2 MHQ 30 Juz Daqu Competition. Ada pula Dhafin Al Farizki, santri Takhassus Brebes yang kini mengabdikan ilmunya sebagai pengajar Qur’an Call.

Bagi mereka, hafalan bukanlah garis akhir. Al-Qur’an yang telah dijaga di dalam dada kini harus menemukan jalannya dalam kehidupan—menjadi ilmu yang dibagikan, teladan yang dijalankan, dan manfaat yang dirasakan masyarakat.

Direktur Program Laznas PPPA Daarul Qur’an Zainal Umuri, mengatakan pengabdian adalah awal dari perjalanan kebaikan yang lebih luas.

“Kami berharap hafalan Al-Qur’an yang telah mereka perjuangkan selama tiga tahun tidak berhenti menjadi hafalan di dalam dada. Al-Qur’an harus menjadi jalan hidup, ilmu yang dibagikan, dan manfaat yang dirasakan oleh sebanyak-banyaknya umat. Hari ini mereka berangkat untuk mengabdi, dan semoga dari pengabdian itu lahir kembali generasi-generasi Qur’ani berikutnya.”

Di balik perjalanan tiga tahun itu, ada #SahabatQu dan para donatur LAZNAS PPPA Daarul Qur’an, khususnya Bapak/Ibu wali asuh. Dukungan mereka bukan sekadar menghadirkan biaya pendidikan, tetapi membuka jalan bagi para santri untuk mengenal, menghafal, lalu mengajarkan kembali Al-Qur’an.

Mungkin nama para donatur tidak disebut ketika seorang santri mengajar. Namun setiap ayat yang dibagikan, setiap ilmu yang diamalkan, dan setiap hati yang kembali dekat dengan Al-Qur’an, menyimpan jejak kebaikan dari mereka yang pernah menjadi sebab.

Hari ini, kebaikan itu bergerak dari satu tangan ke tangan lainnya: dari donatur kepada santri, dari santri kepada masyarakat, lalu insyaAllah melahirkan generasi Qur’ani berikutnya.

Tiga tahun mereka menerima kesempatan untuk belajar dan menghafal. Kini mereka membalasnya dengan pengabdian. Dari Al-Qur’an mereka belajar, dengan Al-Qur’an mereka mengabdi, dan melalui mereka semoga pahala kebaikan terus mengalir bagi siapa pun yang telah menjadi sebab lahirnya cahaya itu. (ARA)