Melanjutkan Estafet Dakwah

Melanjutkan Estafet Dakwah
pppa-daarul-quran
pppa-daarul-quran
pppa-daarul-quran

"Terminal Takengon menjadi saksi perjumpaan saya secara langsung dengan Ustaz Rusmidi, beliau Kader Thafizh angkatan II, selama satu tahun penuh mengambdi di Kampung Simpang Juli," ucap Tariman.

Tariman atau akrab disapa Maman ini merupakan salah satu peserta Kader Tahfizh angkatan IV. Ia adalah satu-satunya dari delapan peserta yang sudah berada di penempatan, tepatnya di Rumah Tahfizh Simpang Juli, Aceh.

Maman akan melanjutkan estafet pengabdian Ustaz Rusmidi, peserta Kader Tahfizh II yang sebelumnya bertugas di sana, di Kampung Simpang Juli. Sebelumnya ia sama sekali belum pernah mengenalinya, hanya saja sering mendapatkan cerita dari pengasuh asrama akan sosoknya.

Berkat kelihaian Ustaz Rusmidi dalam berbaur dengan warga Kampung Simpang Juli, ia dianggap seperti keluarga mereka sendiri. Wajar saja ketika acara pelepepasan dan do’a bersama untuk Ustaz Rusmidi, segenap masyarakat Kampung Simpang Juli baik para santri, orang tua dan warga sekitar tak akan rela untuk ditinggalkannya.

Isak tangis pun terjadi sangat riuh, seperti halnya pesta kembang api ketika pergantian tahun baru. Ramah-tamah pun dilakukan yakni bersalaman dengan antri bergantian, dan disinalah isak tangis pun mulai terdengar semakin keras. Suasana duka menyelimuti pada malam itu.

Suasana pagi ini tidak biasa, berpakaian rapi, cantik dan ganteng, beberapa warga keluar dari tempat tinggalnya untuk mengantarakan Ustaz Rusmidi menuju ke bandara Rembeleh. Sebagian dari mereka membawa motor dan sebagian lainnya menggunkan mobil.

"Sekitar tiga mobil untuk mengantarakan ustad Rusmidi, salah satunya mobil yang kami tumpangi. Bandara Rembeleh merupakan bandara lokal, untuk jadwal penerbangannya pun dalam satu pekan bisa terhitung karena hanya satu pesawat," ucap Maman.

Tibalah rombongan di bandara Rembeleh, setelah menghabiskan perjalanan selama kurang lebih satu setengah jam. Lagi-lagi, bandara Rembeleh ikut jadi saksi atas gemuruhnya isak tangis warga Simpang Juli, setelah Ustaz Rusmidi masuk ke bandara untuk meninggalkan warga yang telah satu tahun membersamainya.

"PR besar bagi saya untuk bisa menetralisir duka masyarakat kampung Simpang Juli, tentu hal tersebut tidak mudah, butuh ikhtiar, perjuangan, dan ketulusan dalam menunaikannya, sehingga setidaknya sedikit bisa terobati," tutur Maman.

Menurutnya, inilah momentum belajar untuk menjemput bekal dan merih masa depan yang lebih layak dan bermartabat. Dari sana, dimulailah petualangan dakwah Maman bersama Daarul Qur'an dan warga masyarakat Kampung Simpang Juli.

"Tiba saatnya debut pertama, saat berdoa untuk memulai mengaji santri masih teringat betul kehadirannya Ustaz Rusmidi, sedangkan yang ada di hadapnya bukanlah beliau. Suasana isak tangis berjamaah pun tak terhindar, saya terus mencoba dan berusaha membujuk agar bisa redah dan disudahi tangisannya, tetapi para santri tidak mengindahkan ajakan kami," imbuh Maman.