Menjaga Nyala di Tengah Puing Manggarai Timur

Menjaga Nyala di Tengah Puing Manggarai Timur
vickypedulidisabilitas
vickypedulidisabilitas
vickypedulidisabilitas

Di tanah berdebu Elar, Manggarai Timur, batas antara ruang kelas dan alam terbuka mendadak lebur sebatas selembar terpal biru dan beberapa tiang bambu yang ditancapkan seadanya. Sekolah berubah menjadi tempat belajar di tengah hamparan tanah cokelat tempat tapak-tapak kaki kecil berpijak tanpa alas yang serba memadai. Di sanalah, murid-murid Madrasah Ibtidaiyah Jihadul Iman melingkari nasib, duduk merapat di balik meja-meja kayu tua yang tampak kusam dan letih, merawat ingatan tentang belajar yang menolak takluk pada bencana.

Peristiwa pilu itu bermula dari gempa bumi pada satu pagi tanggal 15 Agustus 2026. Flores bergetar hebat ketika patahan tektonik menghentak kedalaman laut Nusa Tenggara Timur, merambat menjadi gelombang kejut perusak yang meluluhlantakkan puluhan ribu pemukiman warga serta deretan fasilitas publik di pelosok pulau. Tembok-tembok kelas MI Jihadul Iman roboh menganga, atapnya ambruk mencium bumi, menyisakan puing kapur dan patahan kayu yang tak lagi aman untuk menaungi celoteh maupun doa pagi anak-anak madrasah.

Kini, memasuki pertengahan September 2026, sudah lebih dari sebulan berselang sejak  gempa bumi 7,7 SR  itu dan jejak lara masih membekas di tanah Manggarai Timur. Catatan penanganan bencana merekam ribuan fasilitas pendidikan dan rumah warga di pedalaman mengalami kerusakan sedang hingga parah, memaksa puluhan ribu jiwa bertahan dalam ketidakpastian bilik darurat, sementara pemulihan permanen masih bergerak lambat menembus jalan berliku pegunungan Flores. Angka statistik kebencanaan senantiasa terasa beku di atas lembar laporan resmi, tetapi di Elar, angka itu hadir nyata berupa deretan meja yang berdesakan di bawah sengatan terik mentari dari sela-sela plastik terpal penutup atap.

Di depan kelas, nyatanya para guru tetap berdiri tegak membentangkan keteduhan di tengah hamparan yang porak-poranda. Gerak tangannya tak sekadar memandu tata bahasa atau hitungan aritmetika, pengajarannya mengalirkan isyarat ketenangan yang menyehari dengan para siswa. Keteguhan sosok pengajar di bilik bambu menggemakan kembali tugas purba kaum pendidik yakni hadir sebagai jangkar batin saat ruang material yang biasa menaungi mereka telah remuk tak bersisa.

Di bawah atap terpal seadanya itu, murid-murid duduk berdempetan di balik meja yang masih bisa dipakai dari bongkahan runtuh gedung sekolah. Sorot mata kanak-kanak itu menyimpan rasa yang campur aduk antara sisa trauma gempa dan nyala semangat belajar yang tak pernah padam. Di bangku kayu panjang yang sempit, lengan-lengan kurus mereka saling bersenggolan ketika menyimak lembar pelajaran, seolah dempet adalah cara paling mudah untuk saling menguatkan dan mengusir rasa takut yang belum tuntas menguap.

Kelas belajar mengajar di kolong tenda darurat Elar kehilangan formalitasnya yang kaku. Di bilik kelas sederhana ini, belajar serupa ikhtiar bertahan hidup, sebuah perlawanan di antara reruntuhan gempa bumi. Lembar-lembar buku tipis dibuka di atas permukaan papan meja yang sarat goresan, dan pena digoreskan di tengah kepungan debu kering, mematahkan sangkaan bahwa pendidikan boleh terhenti hanya karena ruang kelas telah luluh lantak dengan tanah.

Di dalam kelas sederhana beratap terpal itu, debu beterbangan setiap kali ada langkah kaki yang bergeser atau embusan angin perbukitan berembus kencang menuruni lembah. Debu halus menempel di ujung sepatu, merayap di kaus kaki, dan menyusup ke sela-sela jemari tangan anak-anak madrasah. Pemandangan serba berdebu jadi jejak ketabahan dari manusia-manusia cilik yang dipaksa tangguh lebih awal oleh takdir gempa.

Struktur kelas darurat pun dibangun dari kesahajaan. Lilitan tali rafia pengikat usuk, potongan kayu hutan seadanya, serta lembaran terpal yang sewaktu-waktu berderit bila digoyang angin lembah. Di sekelilingnya, deretan pohonan di punggung bukit Manggarai Timur menjadi pemandangan hari-hari. Alam yang sebelumnya tampak mengancam lewat gelegar getaran tanah kini berbalik menjadi saksi bisu atas ketekunan belajar anak-anak pedalaman yang sederhana.

Meski demikian, di balik keteguhan para siswa dan guru di Elar ini, rasa cemas tetaplah manusiawi dan tak pernah sepenuhnya hilang dari benak mereka. Setiap kali terdengar dan rasa getaran kecil di tanah, pandangan beberapa anak lekas terlempar ke arah tiang bambu dan langit-langit terpal, memastikan naungan mereka tidak goyah. Trauma gempa pada jiwa anak-anak bukanlah perkara yang sirna dalam hitungan pekan. Kelas darurat ini pada hakikatnya turut berfungsi sebagai ruang pemulihan batin tanpa obat-obatan, tempat tawa kawan sebangku menjadi penawar terbaik bagi rasa waswas.

Bilik bersahaja ini wujud nyata gotong royong warga Elar yang memilih patungan keringat daripada sekadar berdiam meratapi rubuhnya gedung madrasah. Tangan-tangan para petani dan tetangga kampunglah yang menebang bambu dari kebun, membentangkan terpal, dan mengevakuasi sisa meja dari timbunan puing. Guyubnya warga semacam ini membuktikan bahwa harapan adalah kerja bersama yang terus dirawat di tengah keterbatasan fasilitas penanganan.

Dari Elar, Manggarai Timur, tatapan anak-anak MI Jihadul Iman di atas lantai tanah menghadirkan renungan tentang makna ketabahan yang asali. Di tengah kepungan puing dan serba daruratnya sarana pascagempa, para siswa dan guru tidak menuntut kemewahan selain sepetak naungan teduh untuk membuka buku dan menyerap ilmu. Bismillaah, Ruang Belajar Aman nama yang sedang dirancang oleh PPPA Daarul Qur’an sebulan ke depan untuk menyalakan lagi semangat belajar anak-anak Elar. Semiga dengan adanya Ruang Belajar Aman, masa depan anak-anak terus dirawat di tengah lindu, membuktikan kepada dunia bahwa nyala akal budi tidak pernah padam, sekeras apa pun bumi pernah berguncang. Insyaallah.

Salam dari Elar, Manggarai Timur, NTT
20 September 2026

Maulana Kurnia Putra, S.Sos., M.A.

Manajer Program Laznas PPPA Daarul Qur'an