Laznas PPPA Daarul Qur’an Gelar Pelatihan Kebencanaan dan Rilis Tim SIGAB di 18 Provinsi
Dalam upaya memperkuat kesiapsiagaan dan kapasitas relawan menghadapi situasi darurat, Laznas PPPA Daarul Qur'an menggelar Pelatihan Online Kebencanaan Dasar dan Rilis Tim Siaga Bencana (SIGAB) di 18 Provinsi pada Kamis (5/11/2026).
Mengusung tema “Menguatkan Kapasitas, Membangun Kesiapsiagaan, Cepat dan Terkoordinasi”, kegiatan ini menghadirkan dua pemateri, yakni Bagas Dwi Satriyo dari Disaster Management, Pengelolaan SDM Kemanusiaan dan Program Kebencanaan Rumah Zakat, serta Syamsul Ardiansyah selaku Senior Officer Strategic Alliance and Volunteerism Dompet Dhuafa.
Dalam pemaparannya, Bagas Dwi Satriyo menyampaikan materi mengenai manajemen posko, logistik, dapur umum, dan shelter. Ia juga menjelaskan dasar-dasar kebencanaan, jenis dan risiko bencana, serta tahapan penanggulangan mulai dari prabencana, tanggap darurat, hingga pascabencana.
Bagas menekankan bahwa penanganan bencana tidak hanya terfokus pada penyaluran bantuan, tetapi juga memberikan hak dan perlindungan penyaluran bantuan. “Dalam setiap respons bencana, kebutuhan dasar, keselamatan, dan penghargaan martabat harus menjadi prioritas. Oleh karena itu, pelayanan kemanusiaan perlu mengacu pada standar seperti Core Humanitarian Standard (CHS) dan Sphere Handbook,” jelasnya.
Ia juga membahas pentingnya sistem komando dan kaji cepat inklusif untuk mengetahui kebutuhan masyarakat terdampak, terutama dalam 24 hingga 72 jam pertama. Menurutnya, pendekatan GEDSI perlu diterapkan agar kebutuhan perempuan, anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas tidak terabaikan. Relawan juga harus menjaga privasi, mengedepankan empati, serta menerapkan prinsip Do No Harm saat bertugas.
Sementara itu, Syamsul Ardiansyah menyampaikan materi mengenai dasar kebencanaan, sistem komando, dan kaji cepat. Ia menjelaskan bahwa penanganan darurat membutuhkan koordinasi yang jelas, mulai dari pengkajian kebutuhan, pencarian dan pertolongan, menyediakan kebutuhan dasar, hingga perlindungan kelompok rentan.
Dalam materi sistem komando, Syamsul menekankan prinsip One Command, One Plan, One Information. “Penanganan bencana harus berjalan dalam satu komando, satu rencana, dan satu informasi. Lembaga kemanusiaan hadir sebagai mitra pemerintah untuk membantu memenuhi kebutuhan yang belum terjangkau di lapangan, bukan membentuk komando tandingan,” paparnya.
Syamsul juga menjelaskan pentingnya pengelolaan posko sebagai pusat koordinasi dan informasi, termasuk administrasi relawan, pendataan penerima manfaat, pemetaan layanan, serta laporan situasi. Menurutnya, pengelolaan yang tertib membantu setiap kegiatan penanganan bencana yang berjalan lebih terarah.
Selain itu, ia membahas pengelolaan dapur umum dan shelter sebagai bagian dari penyediaan kebutuhan dasar pengungsi. “Dapur umum tidak hanya menyediakan makanan, tetapi juga harus memperhatikan kecukupan gizi, keamanan pangan, dan pemerataan distribusi. Sementara shelter harus menjamin keamanan, privasi, air bersih, serta sanitasi yang layak,” jelasnya.
Untuk memperkuat pemahaman peserta, pelatihan dilengkapi simulasi penanganan banjir bandang dan longsor yang mencakup 1.200 jiwa terdampak, dengan 500 orang di antaranya mengungsi. Peserta dibagian menjadi kelompok posko, dapur umum, dan shelter untuk menyusun rencana operasi dalam 24 jam pertama.
Peserta mengapresiasi materi yang diberikan, terutama pembahasan mengenai posko integrasi, dapur umum, dan shelter sebagai satu kesatuan pelayanan dasar. Pendekatan inklusif serta standar minimum kemanusiaan juga dinilai memberikan bekal praktis bagi lawan dalam menentukan prioritas bantuan secara tepat.
Melalui pelatihan dan rilis Tim SIGAB di 18 provinsi ini, Laznas PPPA Daarul Qur'an berharap kapasitas dan kesiapsiagaan relawan semakin kuat. Dengan bekal pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh, Tim SIGAB diharapkan mampu memberikan respon kemanusiaan secara cepat, tepat, dan terkoordinasi bagi masyarakat terdampak bencana.


