Hukum Memperingati Nuzulul Qur’an

Di Indonesia, momen Nuzulul Qur’an banyak dirayakan oleh umat Islam di seluruh wilayah. Peringatannya dirayakan dengan cara beragam. 

Hukum Memperingati Nuzulul Qur’an
hari-santri-daarul-quran
hari-santri-daarul-quran

Di Indonesia, momen Nuzulul Qur’an banyak dirayakan oleh umat Islam di seluruh wilayah. Peringatannya dirayakan dengan cara beragam. 

Ada yang mengisi momentum malam Nuzulul Qur’an dengan ceramah keagamaan. Ada juga masyarakat yang mengisi malam Nuzulul Qur’an dengan mengaji atau mengkhatamkan kitab suci al-Qur’an.

Semua kegiatan yang dirayakan dalam rangka peringatan Nuzulul Qur’an dilakukan dengan semarak. Ini semua dilakukan demi menjaga semangat keislaman masyarakat Indonesia dan terus mengingat momentum sejarah Islam tersebut.

Namun, ada beberapa orang yang bertanya mengenai hukum memperingati Nuzulul Qur’an? Bagaimana Islam memandang hal itu?

Hukum Memperingati Nuzulul Qur’an

Pada dasarnya, segala hal baik dalam Islam sangat dianjurkan. Hal baik ini tak dibatasi oleh aspek-aspek tertentu, misalnya aspek ketuhanan saja atau aspek sosial saja. Semuanya, dalam Islam, seimbang. Kedua aspek, baik ketuhanan maupun sosial, harus berjalan beriringan.

Sebelum menjawab pertanyaan mengenai hukum memperingati Nuzulul Qur’an, ada baiknya mengetahui terlebih dahulu bagaimana malam Nuzulul Qur’an itu diperingati? Ini supaya kita mengetahui apa yang akan dibahas.

Di Indonesia, peringatan Nuzulul Qur’an biasanya diisi dengan membaca al-Qur’an, khataman al-Qur’an, tasyakuran, ceramah keislaman, santunan, dan sebagainya. Ini semua adalah hal-hal baik yang dianjurkan oleh Islam.

Jadi, peringatan Nuzulul Qur’an hakikatnya adalah sejumlah agenda di atas saja, namun waktu peringatannya bertepatan dengan momen Nuzulul Qur’an. Kembali lagi, hukum melakukan hal-hal baik sebagaimana di atas sangat dianjurkan oleh Islam.

Jadi, secara sekilas, memperingati Nuzulul Qur’an itu boleh-boleh saja, bahkan jika peringatan itu dilakukan dengan cara-cara atau dengan sejumlah amalan baik, maka itu amat dianjurkan. Jadi, tanggal atau waktu Nuzulul Qur’an hanya dimanfaatkan sebagai momentum untuk melakukan hal-hal baik tersebut.

Namun, biasanya ada sanggahan dari beberapa orang. Biasanya mereka mengaitkan peringatan Nuzulul Qur’an dengan istilah bid’ah. Bid’ah sendiri, secara singkat, dapat diartikan sebagai sesuatu hal baru yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. 

Perlu diketahui baha, dalam Islam, bid’ah terbagi menjadi dua: bid’ah hasanah dan bid’ah dhalalah. Bid’ah hasanah adalah suatu perbuatan yang tidak ada di zaman Nabi Muhammad saw namun itu bersifat baik dan tidak bertentangan dengan syariat Islam. 

Sedangkan bid’ah dhalalah sebaliknya. Bid’ah dhalalah adalah suatu perbuatan yang tidak ada di zaman Nabi Muhammad saw dan bersifat buruk atau bertentangan dengan syariat Islam.

Dari sini bisa diidentifikasi bagaimana hukum peringatan Nuzulul Qur’an. Jika dilihat dari apa yang dilakukan dalam peringatan Nuzulul Qur’an, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa hukum peringatan Nuzulul Qur’an adalah boleh, bahkan baik. 

Peringatan ini memang tidak terjadi di zaman Nabi Muhammad saw. Namun, peringatan tersebut dijalankan dengan sejumlah hal-hal positif yang menambah amalan baik setiap orang yang menjalankannya.

Wallahu a’lam.