Semangat Bunda Suryani Membina Pengamen Jadi Penghafal Qur'an

Semangat Bunda Suryani Membina Pengamen Jadi Penghafal Qur'an
pppa-daarul-quran
pppa-daarul-quran
pppa-daarul-quran

Rumah Tahfizh Azka Azkia merupakan salah satu yang menjadi penerima program Berbagi Senyum Lebaran (BSL) PPPA Daarul Qur’an yang dilaksanakan di Masjid Al-Muttaqin, Tegal Gundil, Bogor pada Sabtu (25/5). Memiliki ratusan santri penghafal Al-Qur’an, rumah tahfizh ini awalnya adalah rumah singgah bagi para pengamen jalanan.

“Awalnya pada 2012, di komplek kami itu suka ada banyak anak-anak yang mengamen. Saya tanya mereka kenapa mengamen dan tidak sekolah. Mereka bilang enggak ada biaya dan enggak ada ongkos. Lalu saya suruh untuk keesokan harinya datang mengamen sore setelah saya pulang kantor. Awalnya mereka saya ajak nyanyi-nyanyi sambil saya beri uang ganti mengamen, lama-lama saya suruh mandi dan salat untuk yang muslim,” ujar pendiri Rumah Tahfizh, Bunda Suryani.

Apa yang dilakukan Bunda Suryani ini ternyata mengundang antusiasme anak pengamen lainnya, sehingga rumah singgah miliknya pun menjadi ramai. Bunda Suryani mengaku tak memiliki metode untuk mengasuh anak-anak binaannya ini. Hingga pada September 2014 ia mencoba bergabung dengan PPPA Daarul Qur’an.

“Maksudnya kepengin ada guidance dan bimbingan dari Daqu. Karena anak-anak juga sudah semakin banyak dan saya juga sudah mulai berpikir soal operasional,” ujar perempuan yang membiayai rumah singgahnya murni dari dompetnya sendiri.

Ujian niat baik Bunda Suryani pun makin berat. Pada 2015 rumah singgahnya habis masa kontrak. Ia pusing bukan kepalang memikirkan nasib anak-anak asuhnya. Sementara dalam benaknya sempat terbersit keinginan membeli rumah khusus untuk tempat tinggal mereka.

“Saya jual mobil saya. Tadinya untuk DP ke bank syariah guna mengajukan KPR beli rumah. Tapi anak-anak kandung saya protes, ‘Jika yang paling dekat itu kematian, kenapa mama malah mewariskan hutang?’, begitu kata mereka. Pada saat galau itu saya ijin sama suami untuk umrah. Lalu suami bilang, ‘Kalau dipakai umrah nanti uang berkurang, malah harusnya ditambah’,” kata ibu tiga anak ini.

Namun tekad Bunda Suryani sudah bulat untuk berangkat umrah. Ia ingin mengadukan kesusahannya langsung kepada Allah SWT. Hingga pada akhir 2015, ia pun berangkat umrah. “Subhanallah, keajaiban itu ada saja. Mulai Soetta, sampai Madinah, sampai di Hajar Aswad. Itu saya bisa cium Hajar Aswad sampai tiga kali. Saya bahkan dipersilakan. Ketika ibadah umrah itu saya memanjatkan doa kepada Allah agar bisa membeli rumah untuk anak-anak asuh saya, dan selama di sana pun yang terbayang wajah anak-anak saya. Sepulang dari umrah, masya Allah, saya dapat rejeki seharga rumah yang ingin saya beli. Tunai,” ujarnya.

Rumah itulah yang akhirnya menjadi Rumah Tahfizh Azka Azkia, tempat bernaung ratusan penghafal al-Qur’an binaannya. Ia bangga kepada santri-santrinya yang saat ini sudah banyak menyelesaikan hafalannya hingga 30 juz. Bahkan Ramadan kali ini para santrinya diberi target minimal khatam Qur’an tiga kali dengan tilawah sebanyak 10 juz setiap harinya. “Jika ada yang tak sampai tiga kali khatam suka saya evaluasi, kenapa bisa enggak tercapai target minimalnya,” katanya.

Pada Ramadan 1440 H/2019 M ini Rumah Tahfizh menjadi salah satu penerima BSL. Sebagai salah satu penerima, Bunda Suryani mengucapkan terima kasihnya. “Saya bersyukur kepada Allah SWT karena di bulan suci ini diberi rezeki. Terima kasih kepada Daarul Qur’an dan donatur yang telah berdonasi. Mudah-mudahan semuanya semakin berkah, sehat, kaya, sukses, dan semakin panjang amal kebaikannya. Aamiin,” ujarnya sambil mengakhiri perbincangan.

Mari terus dukung program Hadiah Lebaran untuk Guru Qur’an. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan balasan kebaikan yang berlimpah dari segala arah. Aamiin.