Tujuh Amalan Ini Setara dengan Ibadah Haji

Tujuh Amalan Ini Setara dengan Ibadah Haji
hari-santri-daarul-quran
hari-santri-daarul-quran

Ditundanya keberangkatan ibadah haji para jamaah Indonesia pada tahun ini oleh Kementrian Agama bukanlah akhir dunia. Bahkan, sejarah pernah mencatat terjadi penundaan ibadah haji sebanyak 40 kali yang disebabkan oleh konflik politik, wabah, hingga krisis ekonomi.

Namun, kita tak perlu bersedih. Jika tahun ini keberangkatan kita tertunda, ada tujuh amalan yang bisa kita lakukan yang pahalanya setara dengan ibadah haji. Apa sajakah itu?

1. Shalat berjamaah di rumah bersama keluarga
Hal ini didasarkan pada dalil hadis Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ مَشَى إِلَى صَلاَةٍ مَكْتُوْبَةٍ فِي الجَمَاعَةِ فَهِيَ كَحَجَّةٍ وَ مَنْ مَشَى إِلَى صَلاَةٍ تَطَوُّعٍ فَهِيَ كَعُمْرَةٍ نَافِلَةٍ

"Siapa yang berjalan menuju shalat wajib berjamaah, maka ia seperti berhaji. Siapa yang berjalan menuju shalat sunnah, maka ia seperti melakukan umrah yang sunnah.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 8: 127. Syaikh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Al-Jami’ Ash-Shagir, no. 11502 menyatakan bahwa hadits ini hasan)

Karena saat ini sedang masa wabah, maka salat berjamaah dapat dilakukan di rumah bersama dengan keluarga.

2. Melakukan Shalat Isyraq
Hal ini didasarkan pada dalil hadis dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى صَلاةَ الصُّبْحِ فِي مَسْجِدِ جَمَاعَةٍ يَثْبُتُ فِيهِ حَتَّى يُصَلِّيَ سُبْحَةَ الضُّحَى، كَانَ كَأَجْرِ حَاجٍّ، أَوْ مُعْتَمِرٍ تَامًّا حَجَّتُهُ وَعُمْرَتُهُ

"Barangsiapa yang mengerjakan shalat shubuh dengan berjamaah di masjid, lalu dia tetap berdiam di masjid sampai melaksanakan shalat Sunnah Dhuha, maka ia seperti mendapat pahala orang yang berhaji atau berumroh secara sempurna." (HR. Thabrani. Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 469 mengatakan bahwa hadits ini shahih lighairihi atau shahih dilihat dari jalur lainnya)

3. Menghadiri majelis ilmu
Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حَجَّتُهُ

"Siapa yang berangkat ke masjid yang ia inginkan hanyalah untuk belajar kebaikan atau mengajarkan kebaikan, ia akan mendapatkan pahala haji yang sempurna hajinya." (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 8: 94. Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 86 menyatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Ya, karena masih masa pandemi, kajian ilmu yang dihadiri bisa dilakukan secara online dan dari rumah saja. Insya Allah tidak akan mengurangi pahala kebaikan bagi yang mengamalkannya.

4. Membaca tasbih, tahmid dan takbir setelah shalat
Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu.

جَاءَ الْفُقَرَاءُ إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالُوا ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ مِنَ الأَمْوَالِ بِالدَّرَجَاتِ الْعُلاَ وَالنَّعِيمِ الْمُقِيمِ ØŒ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّى ØŒ وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ ØŒ وَلَهُمْ فَضْلٌ مِنْ أَمْوَالٍ يَحُجُّونَ بِهَا ØŒ وَيَعْتَمِرُونَ ØŒ وَيُجَاهِدُونَ ØŒ وَيَتَصَدَّقُونَ قَالَ « أَلاَ أُحَدِّثُكُمْ بِأَمْرٍ إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِ أَدْرَكْتُمْ مَنْ سَبَقَكُمْ وَلَمْ يُدْرِكْكُمْ أَحَدٌ بَعْدَكُمْ ØŒ وَكُنْتُمْ خَيْرَ مَنْ أَنْتُمْ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِ ØŒ إِلاَّ مَنْ عَمِلَ مِثْلَهُ تُسَبِّحُونَ وَتَحْمَدُونَ ØŒ وَتُكَبِّرُونَ خَلْفَ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ » . فَاخْتَلَفْنَا بَيْنَنَا فَقَالَ بَعْضُنَا نُسَبِّحُ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ ØŒ وَنَحْمَدُ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ ØŒ وَنُكَبِّرُ أَرْبَعًا وَثَلاَثِينَ . فَرَجَعْتُ إِلَيْهِ فَقَالَ « تَقُولُ سُبْحَانَ اللَّهِ ØŒ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ØŒ وَاللَّهُ أَكْبَرُ ØŒ حَتَّى يَكُونَ مِنْهُنَّ كُلِّهِنَّ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ »

"Ada orang-orang miskin datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berkata, orang-orang kaya itu pergi membawa derajat yang tinggi dan kenikmatan yang kekal. Mereka shalat sebagaimana kami shalat. Mereka puasa sebagaimana kami berpuasa. Namun mereka memiliki kelebihan harta sehingga bisa berhaji, berumrah, berjihad serta bersedekah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Maukah kalian aku ajarkan suatu amalan yang dengan amalan tersebut kalian akan mengejar orang yang mendahului kalian dan dengannya dapat terdepan dari orang yang setelah kalian. Dan tidak ada seorang pun yang lebih utama daripada kalian, kecuali orang yang melakukan hal yang sama seperti yang kalian lakukan. Kalian bertasbih, bertahmid, dan bertakbir di setiap akhir shalat sebanyak tiga puluh tiga kali.”

5. Umrah di Bulan Ramadhan
Dikutip dari hadis riwayat Bukhari No 1782, Muslim No 1256, dijelaskan bahwa bahwa umrah di bulan Ramadhan senilai dengan pahala haji. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِذَا كَانَ رَمَضَانُ اعْتَمِرِى فِيهِ فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ حَجَّةٌ

"Jika Ramadhan tiba, berumrahlah saat itu karena umrah Ramadhan senilai dengan haji."

6. Bersedekah atau berwakaf atas nama orang tua
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda agar hendaknya seorang anak berbakti kepada orang tua.

"Bertakwalah pada Allah dengan berbuat baik pada ibumu. Jika engkau berbuat baik padanya, maka statusnya adalah seperti berhaji, berumrah dan berjihad." (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Ausath 5/234/4463 dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman 6/179/7835)

Salah satu bentuk birrul walidain adalah dengan melakukan sedekah dan wakaf atas nama orang tua.

7. Bertekad untuk berhaji
Semua amalan yang disebutkan sebelumnya tidak lain untuk memotivasi muslim lainnya yang belum memiliki kemampuan untuk berhaji. Namun, akan lebih baik lagi jika ditanamkan tekad berhaji bagi siapapun yang menginginkannya. Semoga Allah berikan jalan kemudahan untuk mewujudkannya. Aamiin.(sumber: TRIBUNNEWS)