Satu Depa Kasur Untuk Tanah Flores
Bumi Flores bergolak, mengabarkan kembali kerapuhan nasib manusia di hadapan kuasa semesta. Tanah berguncang pada medio Agustus 2026, meremukkan susunan bata, melemparkan genting, dan menanggalkan dinding-dinding yang semula memagari akrabnya keluarga. Bencana nyatanya melampaui kabar murung yang dibaca sepintas di koran atau dipadatkan dalam kalkulasi angka di meja birokrasi. Bencana adalah luka nyata yang mendadak menubuh di pekarangan rumah, mengubah halaman lapang menjadi panggung darurat bagi orang-orang yang kehilangan tempat berdiam.
Di antara serpihan batu dan debu kapur yang beterbangan disapu angin bukit, terpal-terpal plastik dibentangkan sekenanya sebagai atap perlindungan sementara. Di kolong tenda itu, bocah-bocah Flores duduk menekuk lutut di atas terpal tipis. Tatapan mereka melayang menembus retakan dinding, memuat tanya sederhana tentang hari esok, seraya menahan rindu bersahaja pada sepetak ruang tidur yang karib dan menenteramkan.
Satu bocah Flores pastinya dahulu mengakrabi malam dengan lelap yang terawat di bawah selimut hangat bergambar. Di bilik lamanya, lelap adalah perayaan kecil tempat mimpi-mimpi kanak tumbuh tanpa kecemasan. Kini, kemewahan purba itu tertimbun di bawah reruntuhan puing, memaksa raga ringkihnya bersekutu dengan lantai tanah yang keras dan tak mengenal belas kasihan.
Tak jauh dari situ, para ibu sibuk menata sisa-sisa kain di dalam koper yang ringsek oleh benturan. Wajahnya guram, menyuratkan keletihan, namun matanya tetap kokoh menolak ratapan. Para ibu pun berdiri sebagai saksi bisu dari keruntuhan yang datang tanpa permisi, membawa serta segala kepemilikan benda yang ia bangun bertahun-tahun dengan cucuran keringat.
Bagi para ibu, rumah yang patah adalah lenyapnya kubah martabat tempat keluarga memulihkan lelah sehabis membanting tulang di ladang. Kendati bibirnya masih melafalkan syukur atas napas yang utuh, ia tak bisa menyembunyikan kepedihan saat menyaksikan anak-anaknya mesti merebahkan badan di atas alas yang dingin setiap kali rembulan menjelang.
Ingatannya masih lekat pada pagi kelam ketika bunyi bergemuruh merayap dari perut bumi, menggetarkan lantai dan meretakkan dinding dapur seketika. Tak ada jeda untuk menyelamatkan perabot atau kasur busa, yang tersisa hanyalah kepanikan menarik jemari anak-anak agar lekas menjauh dari atap yang menderu runtuh ke tanah.
Malam-malam di pengungsian kemudian berubah menjadi episode perlawanan yang sunyi menghadapi hawa dingin pesisir Flores. Angin menyelinap melalui celah terpal, merayap menembus tikar plastik, dan menusuk langsung ke persendian tulang-tulang yang tumbuh juga yang renta. Tubuh-tubuh kedinginan itu meringkuk dalam balutan jaket lusuh, bertahan dalam terjaga yang panjang menanti terbitnya matahari.
Di titik inilah, kasur adalah pembatas paling primer antara kehangatan raga dan dinginnya tanah. Kasur itu menjaga anak-anak dan para tetua dari serangan radang paru serta demam menggigil di pengungsian. Tanpa alas tidur, kemanusiaan para korban terancam digerogoti oleh dingin yang tak berkesudahan. Para bocah Flores merasakan betul bagaimana lelap yang tanggal perlahan menguras keceriaan masa kecil. Kerap kali para bocah terjaga di tengah gulita karena gigil yang tak tertahankan, menjadikannya lesu ketika fajar menyingsing. Di tanah bencana, tidur nyenyak berubah menjadi barang langka yang dirindukan dengan getir oleh seorang anak kecil.
Selama ini, kepedulian publik sering kali bergegas memikirkan karung-karung beras, kardus mi instan, atau galon air bersih, namun abai pada apa yang menyangga punggung para korban saat malam tiba. Kasur kerap luput dari percakapan kedermawanan, padahal kasur adalah medium pemulihan yang paling dekat agar manusia beroleh daya untuk kembali berdiri tegak menatap reruntuhan.
Para bocah Flores di Elar, Kab. Manggarai Timur dan Riung, Kab. Ngada akhirnya dapat merengkuh satu depa kasur empuk itu dengan mata berbinar, memeluknya erat seolah memeluk kembali rasa aman yang sempat dirampas guncangan bumi. Di sudut tenda darurat yang sederhana, sepotong kasur busa menjelma menjadi altar kecil pemulihan martabat: meredam gigil malam, mengundang kembali mimpi-mimpi kanak yang ceria, dan merawat harapan agar tak lekas padam di tanah Flores. Semoga.
Terimakasih untuk sahabat-sahabat semua yang terus mengirimkan kehangatan untuk Flores dengan #pelukNTT bersama PPPA Daarul Qur’an.
Salam dari Riung, Kab. Ngada, NTT
17 September 2026
Maulana Kurnia Putra, S.Sos., M.A
Manajer Program Laznas PPPA Daarul Qur'an


