Asa Adah Jadi Hafidzah, dari Pelosok Lombok Menuju Pesantren Takhassus Cikarang

Asa Adah Jadi Hafidzah, dari Pelosok Lombok Menuju Pesantren Takhassus Cikarang
pppa-daarul-quran
pppa-daarul-quran
pppa-daarul-quran

Namanya Sa’adatud Darain. Adah, panggilan akrabnya adalah putri kedua dari pasangan Imran dan Usniati. Gadis 16 tahun ini memiliki cita-cita menjadi hafidzah Al-Qur’an 30 juz.

Dengan bekal hafalan 5 juz, saat ini Adah bertekad untuk bersunggu-sungguh menyelesaikan  hafalannya  di Pesantren Tahfizh Daarul Qru’an Takhassus Cikarang.

Menyeberang pulau menjadi pengalaman tersendiri bagi Adah. Mengingat, ia lahir dan besar di Dusun Melempo, Desa Obel-Obel, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Dengan dukungan penuh dari kedua orang tua, ia merajut mimpi di tanah Jawa.

Setelah dinyatakan lulus seluruh seleksi Pesantren Tahfizh Daarul Qru’an Takhassus Cikarang, Adah memulai setoran hafalan secara online. Dengan kondisi tempat tinggal yang berada di pelosok, Adah merasakan betul kesulitan mendapatkan jaringan seluler.

Setiap kali hendak setor hafalan, Adah harus berjalan 300 meter ke pantai untuk sekedar mencari jaringan. Terkadang Adah juga harus menunggu hingga berjam-jam untuk menyesuaikan dengan jadwal asatidz yang membimbingnya. Namun, itu semua tidak akan menghalangi mimpinya menjadi penghafal A-Qur’an.

Selain aktif setoran hafalan online. Adah juga menyetorkan hafalannya secara langsung di Rumah Tahfidz Melempo, Lombok Timur, binaan PPPA Darul Quran. Dari sana pula  awal langkag Adah untuk menghafal Al-Qur’an.

Selesai menyetorkan hafalan Al-Qur’annya, Adah tak lupa kewajibannya sebai seorang anak yakni membantu orang tua. Usniati, ibu Adah, memiliki warung kecil di rumahnya. Mereka juga menjual beberapa liter bensin. Setiap ada waku luang, Adah bergantian dengan ibu menjaaga warung.

Bukan hanya bergantian menunggu warung, Adah juga kerap kali membantu ibu memanen jambu mete. Berasama sang ibu, ia memungut jambu mete yang jatuh dari pohonnya untuk kemudian menjualnya ke pengepul.

Adah percaya bahwa untuk menjadi anak yang sukses dan membanggakan orang tua tidak hanya dilakukan dengan berprestasi di sekolah, tetapi juga dari hal kecil yang menyenangkan orang tua. Ia yakin hal itu bisa menjadi jalan seorang anak meraih kesuksesan dunia akhiat.

Oleh: Dian, BTQ for Leaders