Hadi Ingin Ajak Keluarga dan Warga Kampungnya Hijrah

Hadi Ingin Ajak Keluarga dan Warga Kampungnya Hijrah
pppa-daarul-quran
pppa-daarul-quran
pppa-daarul-quran

Muhammad Hadi atau sering disapa Hadi, adalah santri Rumah Tahfidz Daarul Qur'an Kadudampit, Bogor. Ia merupakan anak kesembilan dari 10 bersaudara. Kini Hadi berusia 20 tahun. Namun, sejak dirinya duduk di kelas tiga Sekolah Dasar (SD), Lastari, sang ayah telah berpulang ke rahmatullah.

Sebelum meninggal dunia, sang ayah bekerja menjadi sopir angkot untuk menafkahi keluarga. Kala itu, kebutuhan sehari-hari dan sekolah Hadi serta sembilan saudaranya masih dapat tercukupi. Tapi kini sang ibu dan kakaknyalah yang menjadi tulang punggung keluarga setelah ayahnya pergi.

Ana, ibunya, kini bekerja menjadi tukang masak di rumah-rumah warga dengan besaran upah yang tidak menentu. "Ibu suka bantu-bantu di rumah orang, masak-masak, jadi setiap minggu ada penghasilan. Seminggu Rp100 ribu, bisa naik, bisa turun," ujar Hadi.

Kemudian, Hadi tumbuh menjadi anak yang peduli. Tak ingin membebani keluarga dengan biaya sekolah yang besar, ia berniat masuk ke pondok pesantren. Satu lagi alasan Hadi masuk pondok pesantren yang paling mulia, yakni membimbing warga di kampungnya agar sejalan dengan ajaran Islam.

"Saya ingin, suatu saat nanti ada pemimpin di kampung, supaya warga belajar agama. Kemarin banyak yang maksiat, tapi Alhamdulillah sekarang mah enggak. Itu sebelum masuk pondok, kelas tiga SMP, kampung itu keadaannya jauh dari agama," ucapnya.

Maksiat yang Hadi maksud adalah minum minuman keras. Mengingat, para pemuda yang tak memiliki pekerjaan di kampungnya kerap mengkonsumsi alkohol. Mayoritas teman-temannya adalah seorang pemabuk. Bahkan, termasuk kakak kandungnya.

"Saya juga dulunya nongkrong sama anak-anak muda yang begitu, karena rata-rata teman saya begitu. Sampai-sampai kakak saya juga. Usianya sekarang 22 tahun, masih gitu sama teman-temannya," tutur Hadi.

Tak ingin sang kakak terus terjerembap dalam lubang maksiat tersebut, Hadi kerap menasihatinya. Namun, Hadi tak kehabisan akal. Ia yakin dengan hafalan Qur’an 30 juz yang dimilikinya saat ini, Hadi mampu mengajak sang kakak, keluarga dan warga di kampungnya untuk hijrah.

Kini ia sering dipanggil ustadz oleh rekan-rekannya karena pakaian dan gaya bahasan yang digunakannya. Baginya julukan seperti itu tidak penting, yang terpenting adalah kebermanfaatan dirinya bagi keluarga dan warga kampung. (dio/ara)