Berkah Al-Qur'an untuk Asep

Berkah Al-Qur'an untuk Asep
hari-santri-daarul-quran
hari-santri-daarul-quran

Namanya Asep Anwar. Dulu, lantunan tilawahnya kerap membersamai Ustadz Yusuf Mansur saat bersafari dakwah ke penjuru nusantara. 

“Pernah diajak ustadz Yusuf ke Balikpapan, sama teman saya juga yang sekarang di Madinah, ustadz Maulana. Saya mengaji, ustadz Yusuf yang ceramah. Saya juga pernah diminta menyampaikan ceramah sama beliau,” kenang Asep mengingat masa-masa nyantrinya sekitar 10 tahun lalu.

Asep kemudian menuturkan kisah saat ia pertama kali masuk Daarul Qur’an pada 2007 silam. “Saya ke Daarul Qur’an pada 2007, sudah lulus SMP di luar, di SMP Al-Muhajirin. Pesantren yang pengurusnya alumni Gontor. Setelah lulus saya ditawari guru fikih, ustadz Purwadi, untuk nyantri di Daarul Qur’an,” ujarnya.

Atas restu orang tua, anak kelima dari enam bersaudara ini berangkat meninggalkan kampung halamannya di Cibulakan, Cianjur, Jawa Barat untuk nyantri. “Saat itu, kakak-kakak saya semua cuma tamatan SD. Tapi kemudian saya juga bisa sampai SMP karena beasiswa. Bapak saya petani, ibu saya cuma ibu rumah tangga biasa. Jadi ketika ditawari beasiswa nyantri setara SMA, saya didukung keluarga,” katanya.

Bermodalkan hafalan juz 30 dan beberapa surat unggulan, Asep memberanikan diri mengikuti tes masuk Daarul Qur’an. “Sampai di Daarul Qur’an dites lagi hafalan dan tajwid. Yang mau masuk banyak, saya paling tua sama Ari Wibowo. Yang mau masuk rata-rata baru lulus SD, saya sudah lulus SMP. Ha ha ha,” ujarnya.

Perjalanan pendidikan Asep ternyata tak mudah. Ia menjadi santri angkatan pertama di Daarul Qur’an dan pernah merasakan mengikuti program pendidikan khusus bertajuk Santri Taruna. Program ini pada saat itu dikhususkan untuk mengejar hafalan. Menggunakan pendidikan semi-militer, para santri mendapatkan gojlokan fisik dan mental. 

“Sempat menganggur selama setahun dan hanya mengikuti kajian-kajian dirosah. Karena waktu itu SMA belum ada, baru ada SMP kelas 1-3. Akhirnya 2008 saya masuk SMA. Duduk di kelas X baru satu semester, lalu diminta gabung ke program Santri Taruna pada 2009-2010. Waktu itu saya sama Ari Wibowo, Imron dan Hafidz. Tempatnya di sini (Ketapang), kalau kita dulu kan masih di Bulak Santri ya,” papar Asep menjelaskan program yang para santrinya kelak menjadi operator pertama di Qur’an Call ini.

Program inilah yang mempertemukan Asep dengan ustadz Yusuf dan menjadi salah satu yang sering diajak berdakwah keliling Indonesia untuk sekedar melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Tak semua orang bisa mengikuti program ini. Karena hanya mereka yang lulus seleksi saja yang bisa bergabung. “Selama jadi Santri Taruna itu kita enggak benar-benar sekolah. Hanya mempelajari pelajaran-pelajaran pesantren sama kiai Kosasih, syeikh Sahad, ustadz Cecep, kiai Misbah, ustadz Azizi, dan lain-lain,” katanya.

Ketika lulus SMA, Asep melanjutkan kuliah strata satu di Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) jurusan Pendidikan Agama Islam. Ia lulus pada 2017. Lalu pada 2018 lalu, ia juga mendapatkan beasiswa Magister Studi Islam di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). “Baru jalan satu semester,” ujar Asep yang saat ini tengah fokus menjadi guru Bahasa Arab di Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Ketapang ini.

Asep adalah salah satu kisah sukses dari para penghafal Al-Qur’an di Daarul Qur’an. Dengan pendidikannya sekarang, Asep juga mengangkat marwah keluarga di kampung halaman. Asep merasa apa yang diterimanya hingga saat ini adalah berkah dari Al-Qur’an.

“Alhamdulillah, kalau kata guru ngaji saya di kampung, ini berkah Al-Qur’an. Karena orang yang disibukkan dengan Al-Qur’an, akan dikasih apa yang orang lain minta. Orang lain minta ini-itu, yang hafal Al-Qur’an enggak usah minta, malah dikasih. Lalu ada juga hadisnya, yang artinya kurang lebih, yang mahir menghafal Al-Qur’an itu bersama malaikat. Jadi ada yang melindungi, malaikat. Alhamdulillah, saya selalu merasa ada yang mengingatkan, entah melalui peristiwa atau yang lainnya,” pungkasnya mengakhiri pembicaraan.[mnx]