Cara Menghitung Zakat Fitrah, Mal dan Perniagaan

Zakat adalah salah satu rukun Islam yang mesti dijalankan oleh setiap muslim dan muslimah. Maka, pengetahuan tentang zakat adalah sebuah keniscayaan bagi umat Islam agar dapat menjelankan kewajiban tersebut dengan baik. 

Cara Menghitung Zakat Fitrah, Mal dan Perniagaan
beasiswa-idaqu
beasiswa-idaqu
beasiswa-idaqu

Zakat adalah salah satu rukun Islam yang mesti dijalankan oleh setiap muslim dan muslimah. Maka, pengetahuan tentang zakat adalah sebuah keniscayaan bagi umat Islam agar dapat menjelankan kewajiban tersebut dengan baik. 

Dalam Islam, terdapat beragam jenis zakat. Ada zakat fitrah, zakat harta (mal), zakat ternak, zakat perniagaan, zakat perusahaan, dan sebagainya. Dalam tulisan ini akan dijelaskan tiga zakat yang sering ditunaikan oleh umat Islam: zakat fitrah, zakat mal, dan zakat perniagaan.

Zakat Fitrah

Zakat fitrah adalah zakat badan yang wajib dikeluarkan pada Hari Raya Fitri (1 Syawwal) oleh setiap muslim laki-laki, perempuan, besar, kecil, merdeka atau hamba sahaya, bahkan mereka yang tidak memiliki nisab zakat harta. 

Besaran zakat yang wajib dikeluarkan, setiap orang/badan zakatnya satu sha’ yaitu sama dengan sebanyak 2.305 kg (dibulatkan menjadi 2.5 kg) dari beras atau lainnya yang menjadi makanan pokok di masing-masing negeri. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa zakat fitrah dengan menggunakan uang tunai diperbolehkan.

Adapun cara menghitung zakat fitrah dengan uang tunai, besaran nominalnya disesuaikan dengan harga beras atau harga makanan pokok di wilayah tempat tinggal masing-masing. 

Jika harga beras di sebuah daerah Rp. 10.000 perkilo, maka pembayar zakat harus mengeluarkan uang sebesar Rp. 25.000 untuk satu orang. Jika dalam satu keluarga terdapat empat orang, maka mereka mesti membayar zakat fitrah sebesar Rp. 25.000 x 4 = Rp. 100.000.

Waktu mengeluarkan zakat fitrah lebih utama sebelum salat ‘Ied, tapi boleh dikeluarkan semenjak permulaan bulan Ramadan sebagai ta’jil atau mendahulukan pembayaran sebelum waktunya.

Zakat Mal

Secara bahasa, kata ‘mal’ berasal dari bahasa Arab yang artinya adalah harta atau kekayaan. Dengan begitu, secara istilah, zakat mal berarti zakat yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim yang memenuhi syarat atas segala jenis harta yang dimilikinya dan tidak bertentangan dengan syariat Islam dalam memperolehnya.

Zakat mal tidak mesti ditunaikan oleh setiap umat Islam. Hanya orang-orang tertentu yang memenuhi syarat saja yang wajib mengeluarkan zakat mal. Adapun syarat-syarat tersebut antara lain: 1) harta tersebut dimiliki secara penuh; 2) hartanya dapat berkembang; 3) mencapai jumlah tertentu (nisab); 4) harta lebih dari jumlah kebutuhan pokok; 5) harta bebas dari hutang. Jika harta yang dimiliki tidak mencapai nisab ketika dikurangi dengan hutang, maka ia tidak wajib zakat mal; dan 6) harta tersebut ada dalam waktu kepemilikan satu tahun.

Untuk besaran harta yang mesti dizakati (nisab), jika seseorang memiliki harta minimal setara dengan 85 gram emas dalam satu tahun, maka ia wajib mengeluarkan zakat mal. Adapun besaran zakat yang wajib dikeluarkan adalah sebesar 2,5% dari jumlah harta yang dimiliki. Adapun cara menghitung zakat mal sebagai berikut: 

Jumlah harta selama satu tahun x 2,5% = zakat yang wajib dibayar

Berikut contoh kasus zakat mal. Jika seseorang memiliki harta sebanyak Rp. 100.000.000 dan harga emas ketika itu adalah Rp. 1.000.000 pergram, maka ia wajib mengeluarkan zakat mal. 

Rp. 100.000.000 x 2,5% = Rp. 2.500.000

Zakat Perniagaan

Harta perniagaan ialah barang-barang yang disiapkan untuk diperjualbelikan demi mendapatkan keuntungan. Harta perniagaan ini meliputi alat-alat, barang-barang, pakaian, makanan, perhiasan, binatan, tumbuhan, tanah, rumah, dan barang-barang lain baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Harta perniagaan tersebut wajib dizakati dengan syarat-syarat seperti pada zakat emas dan perak.

Sedangkan, perumahan yang dijadikan hunian oleh pemiliknya atau tempat kerjanya seperti tempat dagang dan tempat industri, kendaraan yang digunakan sebagai alat transportasi, semua itu tidak ada kewajiban zakat di dalamnya.

Tahun perniagaan dihitung dari mulai berniaga. Pada tiap-tiap akhir tahun perniagaan dihitunglah harta perniagaan itu, apabila cukup satu nisab maka wajib dikeluarkan zakatnya, meskipun di pangkal tahun atau di tengah tahun tidak cukup satu nisab. Sebaliknya, kalau di pangkal tahun cukup satu nisab namun karena terjadi kerugian di akhir tahun sehingga tidak cukup lagi satu nisab, maka dalam hal ini tidak wajib dikeluarkan zakatnya. Jadi perhitungan akhir tahun perniagaan itulah yang menjadi ukuran sampai atau tidaknya satu nisab.

Adapun nisab harta perniagaan adalah sebesar 85 gram emas. Pada akhir tahun perniagaan muzakki atau pedagang menghitung barang-barang perniagaannya dengan harga penjualan saat itu dan menjumlahkannya dengan keuntungan dari perniagaan itu kemudian dikeluarkan dari padanya 2,5% sebagai zakatnya.