Hadiah Umroh untuk Marbot Difabel Hafidz Qur’an

Ustadz Subki begitu biasanya ia dipanggil. Sehari-hari ia bekerja sebagai marbot di Masjid Jami’ Hudallah yang terletak di jalan Puspogiwang, Gisikdrono, Semarang. Setiap kali menjelang adzan, Ustadz Subki beranjak meninggalkan aktivitasnya. Ia bergegas menyapu debu dan kotoran yang terlihat di bagian vital masjid, tempat wudhu dan kamar mandi selalu rutin dicek kebersihannya. Semua ia pastikan kebersihannya sebelum jamaah masjid datang.

Hadiah Umroh untuk Marbot Difabel Hafidz Qur’an
Hadiah Umroh untuk Marbot Difabel Hafidz Qur’an
Hadiah Umroh untuk Marbot Difabel Hafidz Qur’an
Hadiah Umroh untuk Marbot Difabel Hafidz Qur’an
beasiswa-idaqu
beasiswa-idaqu
beasiswa-idaqu

Ustadz Subki begitu biasanya ia dipanggil. Sehari-hari ia bekerja sebagai marbot di Masjid Jami’ Hudallah yang terletak di jalan Puspogiwang, Gisikdrono, Semarang. Setiap kali menjelang adzan, Ustadz Subki beranjak meninggalkan aktivitasnya. Ia bergegas menyapu debu dan kotoran yang terlihat di bagian vital masjid, tempat wudhu dan kamar mandi selalu rutin dicek kebersihannya. Semua ia pastikan kebersihannya sebelum jamaah masjid datang.

Sudah hampir 8 tahun amanah ini dijalaninya dengan senang hati. Keterbatasan fisiknya tak sedikitpun menjadi penghalang untuknya tetap semangat melakukan hal-hal yang banyak manfaatnya untuk orang lain.

Pria kelahiran Kendal 37 tahun silam ini, mengalami kejadian yang membuat fisiknya tak lagi sempurna. Berawal saat ia berusia 4 tahun, Ustadz Subki mengalami demam tinggi yang mengakibatkan timbulnya gejala folio dan kelumpuhan pada kedua kakinya. Mulai sejak itu pertumbuhan kakinya terhambat dan ia mengalami cacat fisik.

Kedua kakinya tak lagi mampu untuk menopangnya berdiri. Sehingga untuk aktivitas sehari-hari Ustadz Subki mengandalkan kedua telapak tanganya sebagai pengganti kaki untuk menopang tubuhnya saat berjalan.

Meski memiliki keterbatasan, Ustadz Subki tak pernah merasa berputus asa, malu ataupun merasa kecewa. Bahkan ia pantang untuk meminta-minta. Dalam segala keterbatasan yang dimilikinya sejak kecil, anak keempat dari enam bersaudara pasangan Bapak Saroni dan Ibu Wasinah ini telah bercita-cita untuk bisa mengeyam pendidikan hingga ke Perguruan Tinggi.

Meski kondisi keluarganya pas-pasan, tekadnya untuk menempuh pendidikan tinggi terus ia gelorakan.  Ketikausianya menginjak 17 tahun, Ustadz Subki memilih untuk merantau dari Kendal ke Semarang. Atas rekomendasi pamannya ia pun memulai perjalannnya meraih cita-citanya dengan mondok di Pesantren Nurul Huda Puspogiwang hingga saat ini. 

Saat mondok itulah, pria yang berasal dari Dusun Pringsurat, Kaliwungu, Kabupaten Kendal ini mengikuti ujian kejar paket B dan paket C. Alhamdulillah, di tahun 2017 ia berhasil tercatat sebagai mahasiswa di Program Studi Pendidikan Agama Islam, Universitas Wahid Hasyim Semarang.

Ustadz Subki dikenal sebagai sosok yang ramah dan rajin. Selain sibuk menyelesaikan pendidikannya di Perguruan Tinggi dan menjadi marbot mesjid, Ustadz Subki pun sibuk mengajar ngaji di Masjid Jami’ Hudallah dan Musholla Nurul Hikmah. Mulai anak – anak hingga orang dewasa belajar mengaji kepadanya. Motor modifikasi menjadi teman setia yang selalu menemani mobilitasnya dalam berdakwah di jalan Allah. Meskipun motornya sering rusak, tak jadi penghambat yang berarti baginya. 

“Sebagai seorang manusia, saya hanya ingin apa yang saya miliki ini dapat memberikan manfaat buat sekitar. Dengan demikian ilmu yang saya dapat bisa bermanfaat dan menjadi amal jariyah saya,” tutur Ustadz Subki.

Melihat semangat dan dakwah Ustadz Subki yang luar biasa, tahun 2020 PPPA Daarul Qur’an Semarang memberinya hadiah umroh. Namun, pandemi Covid-19 terpaksa membuat impiannya sejak lama untuk bisa berkunjung ke Tanah Suci harus tertunda. Meskipun begitu doanya untuk bisa menginjakkan kaki ke Baitullah tak pernah terputus, dan pada tanggal 16 Maret 2022 lalu impia itu terwujud. []

Oleh: Shinta, PPPA Daarul Qur'an Semarang