Apa Arti Ramadan Karim?

Apa Arti Ramadan Karim?
hari-santri-daarul-quran
hari-santri-daarul-quran

Ramadan adalah salah satu bulan yang ditunggu-tunggu kedatangannya oleh umat Islam. Sambutan atas datangnya bulan ini dilakukan dengan cara beragam. Kenapa banyak umat Islam menyambut kedatangan bulan Ramadan dengan gembira?

Salah satu jawaban ini karena bulan Ramadan adalah bulan yang amat mulia. Al-Qur’an, kitab suci umat Islam, diturunkan pada bulan Ramadan. Hal ini sebagaimana firman Allah swt. dalam QS. Al-Baqarah/2: 185.

Selain itu, Nabi Muhammad saw. juga mengabarkan kepada umatnya bahwa Ramadan adalah bulan yang penuh keberkahan. Nabi saw. bersabda bahwa barang siapa yang berpuasa dengan hati yang ikhlas maka dosanya akan diampuni oleh Allah swt. Hadis ini termaktub di dalam kitab Sahih Bukhari. Nabi saw. bersabda:

“Siapa yang melaksanakan puasa Ramadan dengan keimanan dan keikhlasan, maka diampuni dosanya yang telah berlalu”. (HR. Bukhari)

Maka dari itu, banyak umat Islam yang menyambut kedatangan bulan Ramadan dengan kegembiraan. Salah satu cara yang banyak digunakan oleh umat Islam, terutama di Indonesia, adalah dengan menyampaikan ungkapan Ramadan Karim.

Ungkapan ini marak ditemukan ketika momen-momen Ramadan. Lalu, apa sebenarnya arti Ramadan Karim tersebut? Jika ditinjau dari segi kebahasaan, Ramadan Karim terdiri dari dua suku kata: Ramadan dan Karim.

Kata Ramadan sudah tentu merujuk kepada bulan yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an. Bulan yang di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan. Bulan yang di dalamnya ada kewajiban berpuasa bagi seluruh umat Islam.

Sedangkan Karim memiliki banyak makna yang dapat dirujuk. Hal ini sebagaimana diketahui bahwa dalam bahasa Arab terdapat kata yang memiliki beberapa makna. Kata Karim ini adalah salah satunya.

Karim dapat diartikan sebagai pemurah (dermawan), baik hati, ramah, atau mulia (terhormat). Arti kata Karim dapat disesuaikan dengan konteks kalimat atau konteks pembicaraan. Dalam hal ini, Ramadan Karim lebih cocok dimaknai sebagai Ramadan yang mulia. 

Namun, ada pendapat yang tidak sepakat dengan ungkapan Ramadan Karim. Hal ini karena Ramadan Karim dapat diartikan sebagai Ramadan yang pemurah. Padahal, secara hakiki, yang pemurah tentu hanya Tuhan, tepatnya Allah Tuhan Yang Maha Pemurah. Sedangkan, bulan Ramadan mendapatkan banyak kemuliaan dan keutamaan tak lain hanya karena Allah swt. 

Maka dari itu, alternatif ungkapan lain adalah Ramadan Mubarak. Ungkapan ini dimaknai sebagai Ramadan yang diberkati. Ungkapan ini dianggap lebih sesuai dan cocok dibandingkan dengan ungkapan Ramadan Karim. 

Namun, jika ditinjau dari semangat yang dibawa dari ungkapan-ungkapan tersebut, entah ungkapan Ramadan Karim atau Ramadan Mubarak, keduanya membawa semangat kegembiraan menyambut datangnya bulan succi Ramadan. Rasa gembira inilah yang paling penting. Adapun ungkapan yang digunakan, itu hanyalah sebuah alat atau sarana bagi kegembiraan itu sendiri.

Apa pun yang dipilih umat Islam, baik Ramadan Karim atau Ramadan Mubarak, yang terpenting adalah semangat kegembiraan dalam menyambut kedatangan bulan Ramadan. Yang terpenting lagi adalah semangat memperbanyak dan memperbaiki amalan-amalan yang dicintai oleh Allah swt.

Wallahu a’lam.