Mahasiswi STMIK Antar Bangsa Berhasil Terbitkan 3 Buku

Mahasiswi STMIK Antar Bangsa Berhasil Terbitkan 3 Buku
pppa-daarul-quran
pppa-daarul-quran
pppa-daarul-quran

Prestasi gemilang kembali ditorehkan salah satu mahasiswi STMIK Antar Bangsa. Ia adalah Naufa Fitrianingrum, mahasiswi semester tujuh program studi Sistem Informasi ini telah berhasil menerbitkan tiga buku berjudul “The Power of Love”, “The Best Mother and Father”, dan “Mozaik Asa” pada 2018 dan 2020.

Perempuan yang akrab disapa Naufa itu mengaku kebiasaan menulisnya bermula dari kegemarannya menulis diary dan cerita di media sosial. Dari kegemarannya itu ia semakin bersemangat dalam menebar kebaikan melalui goresan pena.

“Awal menulis dimulai dari sering catatan diary di buku, kemudian setelah maraknya media sosial, ladang menulis menjadi mudah dengan membuat story di WhatsApp, Instagram,” ungkapnya.

Ia menerangkan bahwa kegiatannya selama menulis tak lupa didukung pula oleh para mentor berpengalaman di bidangnya. Seperti Robi Afrizan Saputra, alumni dari Universitas Padjajaran yang telah menerbitkan puluhan buku. Salah satu harapan Naufa tulis dalam bukunya adalah ia ingin mengajak  teman-temannya bersama menapaki setiap langkah perjalanan.

“Ketika ada salah satu teman menyarankan, di tahun 2018 mencoba terjun menulis buku yang dimentori oleh kang Robi Afrizan Saputra, alumni UNPAD. Saat itu menjadi angkatan kedua dan ketiga di program “Nulis Bareng Robi”,  judul buku yang sudah terbit “The Power of Love” dan “The Best Mother and Father”. Pada tahun 2020 ada sebuah gerakan kolaborasi, akhirnya kak Rauf sebagai salah satu penggeraknya mencoba untuk membuat program nulis bareng. Saat itu judul buku “Mozaik Asa”  yang sudah diterbitkan. Tujuannya untuk merangkul teman-teman bahwa setiap orang sama kok sepertimu pernah mengalami rasa yang sedang kamu alami yang ditutup dengan sebuah hikmah setiap langkah perjalanan,” ujar Naufa.

Naufa terinspirasi dari Sayyid Qutub yang sudah menciptakan ribuan hadits sehingga karyanya bermanfaat bagi banyak umat. Ia pun berharap melalui karya yang telah ditulisnya menjadi salah satu ladang amal yang dapat menolongnya di akhirat.

“Terinspirasi dari Sayyid Qutub yang sudah menciptakan ribuan hadits, walaupun sudah tiada tapi karya dan ibroh ruhnya masih hidup di kehidupan kita. Jadi menulis sebuah ladang amal shalih yang bisa dijadikan pemberat di yaumil qiyamah nanti, dan setiap karya-karya kita bisa membantu meringankan hisab kedua orang tua kita dan menjad amal jariyah dari anak-anaknya yang shalih dari sebuah karya,” ucapnya.

Mahasiswi yang juga sebagai founder Ruang Healing itu memiliki tujuan dalam menulis yakni untuk dapat terlibat dalam mengurangi penurunan gangguan mental pada pemuda Islam.

“Membantu mengurangi penurunan gangguan mental pada pemuda muslim usia 18 sampai 24 tahun dengan metode expressive writting therapy atau terapi menulis ekspresi berbasis Al-Qur'an dan kisah inspiratif dalam Islam,” tegasnya.

Lebih lanjutnya, perempuan yang berdomisili di Bekasi tersebut berpesan agar setiap mahasiswa dapat mengoptimalkan perannya sebagai pemuda dalam menumbuhkan perubahan.

“Kita ini manusia, tak semua asa harus menjadi nyata. Cukup yakin saja, percaya saja, usaha saja, atau terima saja. Yang akan ditanya bukan apa yang sudah kita dapat, tapi sudah lakukan apa dengan apa yang kita punya. Yang akan berguna, bukan apa yang kita lihat. Tapi bagaimana cara kita melihat, dan lakukan apa setelah melihat.  Sometimes, hasil tidak melulu berwujud materi, kebanyakan ia berbentuk sebuah hikmah. Hidup itu bukan soal seberapa berkilau dirimu, tapi soal seberapa bermanfaat kilauanmu,” terang ia.

Ia menjelaskan juga bahwa apa yang telah Allah berikan adalah sebuah titipan yang mesti dipertanggung jawabkan.

“Dalam jual beli dengan Allah ini, kita hanyalah pengelola sekaligus perantara. Semua yang ada di tangan kita hari ini adalah titipan dari Rabb semesta. Kewajiban kita adalah bertanggung jawab atas-Nya. Dan hak kita adalah hak orang lain juga. Optimalkan manfaat, bukan kesenangan. Optimalkan pemberian bukan yang kita makan. Karena yang hilang hari ini di jalan Allah itulah yang kelak akan kembali lagi pada kita atas izin Allah,” tutup Naufa.

Selain menulis buku, Naufa kini juga aktif di berbagai media sosial. Ia mengunggah konten quotes menarik di akun pribadinya @tehufaaa_ dan komunitas yang telah dibangunnya @ruang_healing. Konten-konten itu ia tulis utamanya dalam hal self improvement dan self development, sesuai dengan tulisan yang sudah ia susun dalam buku-bukunya.

Sumber: antarbangsa.ac.id